Skip to content
Gemawan

Lembaga Gemawan

Masyarakat Swadaya dan Mandiri

Menu

  • Home
  • News
    • Pemberdayaan Perempuan
    • Pembangunan Berbasis Masyarakat
    • Sumberdaya Alam
    • Pengembangan Ekonomi
    • Tata Kelola
  • Publikasi
    • Kabar Gemawan
    • Laporan
    • Opini
    • Buku
    • Pernyataan Sikap
  • Spasial
    • Dashboard Perhutanan Sosial
  • Tentang
    • Tim
    • Program & Aktivitas
    • Wilayah Aktivitas
  • Inovasi
    • LESTARI
    • PERSADA
    • SIGAP
  • Pengaduan
    • Prosedur Pengaduan
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English Version

News

Lokakarya Pengarustamaan KLHS Susun RTRW Desa

LOKAKARYA KLHS: Koordinator Sekolah Desa Gemawan, M Zuni Irawan bersama rekan-rekan penggiat tata ruang desa gelar lokakarya bertajuk “Lokakarya Pengarustamaan KLHS Susun RTRW Desa” di Swandiri Institute (SI) Pontianak, Selasa (01/03/2016). Foto: Mahmudi/GEMAWAN.

LOKAKARYA KLHS: Koordinator Sekolah Desa Gemawan, M Zuni Irawan bersama rekan-rekan penggiat tata ruang desa gelar lokakarya bertajuk “Lokakarya Pengarustamaan KLHS Susun RTRW Desa” di Swandiri Institute (SI) Pontianak, Selasa (01/03/2016). Foto: Mahmudi/GEMAWAN. Pontianak, GEMAWAN. Gemawan menginisiasi perencanaan tata ruang

admin March 4, 2016February 25, 2023 Berita Utama, News, Pembangunan Berbasis Masyarakat Baca Selengkapnya

Kajian Hukum KLHS Versi Desa untuk Penyusunan Tata Ruang Desa

KLHS DESA: Pakar hukum Untan Pontianak, Hamdani menerangkan Pemdes bisa bikin KLHS versi desa untuk tata ruang desa namun sebelum menjadi Perdes tetap harus dikonsultasikan ke pemerintaan yang lebih tinggi. Foto: Mahmudi/GEMAWAN.

KLHS DESA: Pakar hukum Untan Pontianak, Hamdani (kiri) menerangkan Pemdes bisa bikin KLHS versi desa untuk tata ruang desa namun sebelum menjadi Perdes tetap harus dikonsultasikan ke pemerintaan yang lebih tinggi. Foto: Mahmudi/GEMAWAN. Pontianak, GEMAWAN. Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

admin March 4, 2016February 25, 2023 Berita Utama, News Baca Selengkapnya

Menggagas Desa Swandiri

Fasilitator senior Swandiri Institute, Happy Hendrawan gagas Desa Swandiri

Pontianak, GEMAWAN. Expert research and fasilitator lembaga Swandiri Institute (SI) Pontianak, Happy Hendrawan SSos MSc menyampaikan ide bersama tim fasilitator SI, guna menggagas “Desa Swandari”. Desa Swandiri, desa yang mampu memenuhi kebutuhannyasendiri tanpa tergantung pada pemerintah. “Desa yang memiliki sistem

admin February 26, 2016February 25, 2023 Berita Utama, News, Pembangunan Berbasis Masyarakat Baca Selengkapnya

Ritual “Sengkelan” Dayak Desa Awali Pemetaan Bersama Gemawan

POTONG AYAM: Pemimpin ritual adat Sengkelan, Nali bersiap memotong ayam di titik lokasi awal pemetaan tata ruang desa Mangat Baru di perbatasan dengan desa Emparung kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kamis (18/02/2016) pagi. Foto: Aloysius Kusnadi/GEMAWAN.

Rumpun Budaya Dayak Iban Sintang POTONG AYAM: Pemimpin ritual adat Sengkelan, Nali bersiap memotong ayam di titik lokasi awal pemetaan tata ruang desa Mangat Baru di perbatasan dengan desa Emparung kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kamis (18/02/2016) pagi. Foto: Aloysius Kusnadi/GEMAWAN.

admin February 25, 2016February 25, 2023 Berita Utama, News, Pembangunan Berbasis Masyarakat Baca Selengkapnya

Selesaikan Tapal Batas Antardesa, Mandat Pemkab Sintang Kepada Pemdes

Gemawan petakan tapal batas desa di Sintang

Adanya kegiatan pemetaan tata ruang desa yang difasilitasi Lembaga Gemawan di Desa Mangat Baru ini, pihak desa akan berkoordinasi dengan desa-desa tetangganya untuk bersama-sama turun ke lapangan. Tujuannya agar adanya kesepakatan tapal batas yang jelas dan tidak menimbulkan konflik di

admin February 25, 2016July 9, 2022 Berita Utama, News, Pembangunan Berbasis Masyarakat Baca Selengkapnya

TI Indonesia Salut dengan Gerakan Anti Korupsi di Kalbar

Penggiat TI Indonesia. Agus Sarwono orasi di mimbar bebas koalisi masyarakat sipil Kalbar anti korupsi di Taman Digulis Pontianak

MIMBAR BEBAS: Program Officer Media and Campaign TI Indonesia, Agus Sarwono ketika orasi tolak revisi UU KPK di mimbar bebas koalisi masyarakat sipil Kalbar anti korupsi di Taman Digulis Pontianak, Senin (22/02/2016). Foto: Muhammad Zuni Irawan/GEMAWAN. Pontianak, GEMAWAN. Program Officer

admin February 24, 2016March 11, 2022 Berita Utama, News, Tata Kelola Tidak ada Komentar Baca Selengkapnya

Gemawan Petakan Tata Ruang Sawah di Rawa dan Bukit di Sintang

26-Gemawan petakan sawah di rawa dan bukit di Sintang

AMBIL TITIK PEMETAAN: Warga desa Mangat Baru bersama tim pemetaan lembaga Gemawan sedang mengambil titik pemetaan untuk tata ruang sawah warga desa, Jumat (12/02/2016). Foto: Welli Arma/GEMAWAN. Sintang, GEMAWAN. Kabupaten Sintang merupakan daerah teritorial pegunungan. Sedangkan di wilayah lereng bukit

admin February 24, 2016February 16, 2023 Berita Utama, News, Pembangunan Berbasis Masyarakat Baca Selengkapnya

Kaum Ibu-ibu, Remaja Putri, hingga Kanak-kanak Ikut Demo

Kaum ibu dan remaja putri hingga kanak-kanak ikuti unjuk rasa penolakan rencana revisi UU KPK di Taman Digulis Pontianak

UNJUK RASA; Kaum ibu dan remaja putri hingga kanak-kanak ikuti unjuk rasa penolakan rencana revisi UU KPK di Taman Digulis Pontianak di Taman Digulis Pontianak, Senin (22/02/2016). Foto: Muhammad Zuni Irawan/GEMAWAN. Pontianak, GEMAWAN. Demontrasi penolahan rencana revisi Undang-undang (UU) Komisi

admin February 23, 2016February 25, 2023 Berita Utama, News, Tata Kelola Baca Selengkapnya

Tiga Tuntutan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi Kalbar

Aktivis perempuan Gemawan dari Sambas ikut turun ke Pontianak hanya untuk menyuarakan penolakan revisi UU KPK

Pontianak, GEMAWAN. Akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Dr Hermansyah SH MHum, membacakan tiga tuntutan ke pemerintah. Bertempat di Taman Digulis Untan Pontianak, Senin (22/02/2016). Hermansyah di hadapan puluhan organisasi sosial kemasyarakatan dan elemen mahasiswa, terhimpun di koalisis

admin February 23, 2016March 11, 2022 Berita Utama, News, Tata Kelola Tidak ada Komentar Baca Selengkapnya

Masyarakat Sipil Kalbar Gelar Mimbar Bebas Tolak Revisi UU KPK

Direktur Gemawan, Laili Khairnur orasi tolak revisi UU KPK di mimbar bebas yang dibuat koalisi masyarakat sipil Kalbar anti korupsi di Taman Digulis Untan

Sejumlah perwakilan masyarakat sipil Kalimantan Barat (Kalbar) dari berbagai latar belakang profesi dan organisasi menggelar aksi mimbar bebas di halaman Tugu Digulis Universitas Tanjungpura Pontianak, Senin (22/2/2016). Mereka menyatakan keprihatinannya atas nasib pemberantasan korupsi di Indonesia. Mimbar bebas diwarnai dengan

admin February 22, 2016February 22, 2023 Berita Utama, News, Tata Kelola Baca Selengkapnya
  • « Sebelumnya
  • Berikutnya »

Instagram

Donasi yang terkumpul merupakan akumulasi dari kegiatan penggalangan dana dan sumbangan yang disalurkan langsung melalui rekening Gemawan. Donasi ini akan disalurkan untuk mendukung kebutuhan warga dan tim relawan yang terdampak karhutla.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada setiap orang yang telah menyisihkan waktu, tenaga, dan rezekinya untuk ikut membantu. Setiap bantuan yang diberikan, berapa pun jumlahnya, sangat berarti dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk melewati situasi ini.

Bagi yang masih ingin berdonasi, bantuan dapat disalurkan melalui:

Bank BNI
Rekening: 1980045120
a.n. Perkumpulan Gemawan

Sekali lagi, terima kasih atas kepercayaan, kepedulian, dan dukungan yang telah diberikan. Semoga kebaikan yang teman-teman berikan dapat sampai kepada mereka yang membutuhkan.
•
Follow
Donasi yang terkumpul merupakan akumulasi dari kegiatan penggalangan dana dan sumbangan yang disalurkan langsung melalui rekening Gemawan. Donasi ini akan disalurkan untuk mendukung kebutuhan warga dan tim relawan yang terdampak karhutla. Terima kasih sebesar-besarnya kepada setiap orang yang telah menyisihkan waktu, tenaga, dan rezekinya untuk ikut membantu. Setiap bantuan yang diberikan, berapa pun jumlahnya, sangat berarti dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk melewati situasi ini. Bagi yang masih ingin berdonasi, bantuan dapat disalurkan melalui: Bank BNI Rekening: 1980045120 a.n. Perkumpulan Gemawan Sekali lagi, terima kasih atas kepercayaan, kepedulian, dan dukungan yang telah diberikan. Semoga kebaikan yang teman-teman berikan dapat sampai kepada mereka yang membutuhkan.
2 weeks ago
View on Instagram |
1/9
Bantuan Air Bersih (Batch 2) Kamis, 17 September  2026

Bagi warga yang membutuhkan air bersih, tersedia bantuan air bersih yang dapat diambil di Rumah Gesit Borneo.

📍 Lokasi pengambilan: Rumah Gesit Borneo
💧 Persediaan terbatas, selama stok masih tersedia.

Air tetap perlu dimasak untuk terhindari dari paparan bakteri.

Silakan datang dan ambil sesuai kebutuhan. Semoga bantuan ini dapat membantu warga yang sedang menghadapi kondisi kekeringan.
•
Follow
Bantuan Air Bersih (Batch 2) Kamis, 17 September 2026 Bagi warga yang membutuhkan air bersih, tersedia bantuan air bersih yang dapat diambil di Rumah Gesit Borneo. 📍 Lokasi pengambilan: Rumah Gesit Borneo 💧 Persediaan terbatas, selama stok masih tersedia. Air tetap perlu dimasak untuk terhindari dari paparan bakteri. Silakan datang dan ambil sesuai kebutuhan. Semoga bantuan ini dapat membantu warga yang sedang menghadapi kondisi kekeringan.
2 weeks ago
View on Instagram |
2/9
Bantuan Air Bersih

Bagi warga yang membutuhkan air bersih, tersedia bantuan air bersih yang dapat diambil di Rumah Gesit Borneo.

📍 Lokasi pengambilan: Rumah Gesit Borneo
💧 Persediaan terbatas, selama stok masih tersedia.

Silakan datang dan ambil sesuai kebutuhan. Semoga bantuan ini dapat membantu warga yang sedang menghadapi kondisi kekeringan.
•
Follow
Bantuan Air Bersih Bagi warga yang membutuhkan air bersih, tersedia bantuan air bersih yang dapat diambil di Rumah Gesit Borneo. 📍 Lokasi pengambilan: Rumah Gesit Borneo 💧 Persediaan terbatas, selama stok masih tersedia. Silakan datang dan ambil sesuai kebutuhan. Semoga bantuan ini dapat membantu warga yang sedang menghadapi kondisi kekeringan.
3 weeks ago
View on Instagram |
3/9
Kalimantan sedang menghadapi kabut asap. Di tengah situasi ini, warga dan relawan membutuhkan dukungan untuk tetap aman dan bertahan.

Posko MASA Kalimantan Barat membuka donasi untuk membantu memenuhi kebutuhan di lapangan, mulai dari masker N95/KN95, tabung oksigen, vitamin dan obat, perlengkapan pemadam api, hingga logistik makanan.

Kalau kamu punya ruang untuk berbagi, mari ikut ambil bagian. Berapa pun dukunganmu, berarti bagi mereka yang sedang menghadapi kabut asap.

Donasi dapat disalurkan melalui:
BNI 1980045120
a.n. Perkumpulan Gemawan

Konfirmasi donasi: +62 896-9329-7519
•
Follow
Kalimantan sedang menghadapi kabut asap. Di tengah situasi ini, warga dan relawan membutuhkan dukungan untuk tetap aman dan bertahan. Posko MASA Kalimantan Barat membuka donasi untuk membantu memenuhi kebutuhan di lapangan, mulai dari masker N95/KN95, tabung oksigen, vitamin dan obat, perlengkapan pemadam api, hingga logistik makanan. Kalau kamu punya ruang untuk berbagi, mari ikut ambil bagian. Berapa pun dukunganmu, berarti bagi mereka yang sedang menghadapi kabut asap. Donasi dapat disalurkan melalui: BNI 1980045120 a.n. Perkumpulan Gemawan Konfirmasi donasi: +62 896-9329-7519
4 weeks ago
View on Instagram |
4/9
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu.

Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran.

Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
•
Follow
Kalau bicara soal karhutla, kita perlu melihat persoalannya lebih utuh. Praktik berladang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sering kali langsung disorot sebagai penyebab kebakaran. Padahal, karhutla tidak sesederhana itu. Di sisi lain, ada korporasi yang mengelola lahan dalam skala besar dan juga perlu dilihat. Mulai dari bagaimana lahan dikelola, bagaimana pengawasannya berjalan, sampai bagaimana tanggung jawab dijalankan ketika terjadi kebakaran. Memang, pemerintah sudah memberikan sanksi kepada sejumlah korporasi. Tapi ketika karhutla terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sanksi diberikan, melainkan apakah penindakan dan pengawasannya sudah cukup tegas untuk mencegah kejadian yang sama terulang. Karhutla punya banyak sebab dan melibatkan banyak aktor. Jadi, jangan sampai kearifan lokal terus dijadikan kambing hitam, sementara tanggung jawab korporasi luput dari perhatian.
4 weeks ago
View on Instagram |
5/9
Kalimantan sedang menghadapi kabut asap. Saatnya kita saling menguatkan. 🌿

Bersama @mdmc_kalbar , Perkumpulan Gemawan melalui MASA KALBAR (Masyarakat Siaga Asap Kalbar) membuka dukungan untuk membantu warga dan relawan yang terdampak kabut asap.

Kebutuhan yang mendesak meliputi paket kesehatan, logistik makanan, perlengkapan pemadam, posko kesehatan, distribusi bantuan, hingga evakuasi.

Bagi kamu yang ingin ikut membantu, berapa pun donasi yang diberikan akan sangat berarti.

💙 Salurkan bantuan melalui:
BNI 1980045120
a/n Perkumpulan Gemawan

📲 Konfirmasi donasi: +62 896-9329-7519

Mari bersama membantu Kalimantan menghadapi kabut asap dan menjaga keselamatan warga yang terdampak.

#MASAKALBAR #KalbarBebasAsap #SolidaritasLawanAsap
•
Follow
Kalimantan sedang menghadapi kabut asap. Saatnya kita saling menguatkan. 🌿 Bersama @mdmc_kalbar , Perkumpulan Gemawan melalui MASA KALBAR (Masyarakat Siaga Asap Kalbar) membuka dukungan untuk membantu warga dan relawan yang terdampak kabut asap. Kebutuhan yang mendesak meliputi paket kesehatan, logistik makanan, perlengkapan pemadam, posko kesehatan, distribusi bantuan, hingga evakuasi. Bagi kamu yang ingin ikut membantu, berapa pun donasi yang diberikan akan sangat berarti. 💙 Salurkan bantuan melalui: BNI 1980045120 a/n Perkumpulan Gemawan 📲 Konfirmasi donasi: +62 896-9329-7519 Mari bersama membantu Kalimantan menghadapi kabut asap dan menjaga keselamatan warga yang terdampak. #MASAKALBAR #KalbarBebasAsap #SolidaritasLawanAsap
1 month ago
View on Instagram |
6/9
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
•
Follow
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian. Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri. Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
1 month ago
View on Instagram |
7/9
Nazela, perempuan muda asal Kubu Raya, membagikan cerita tentang bagaimana kebakaran lahan gambut dan kabut asap berdampak pada lingkungan, ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Di tengah kondisi Kalimantan yang kembali dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cerita Nazela menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang asap yang memenuhi udara. 

Sebagai perempuan muda yang hidup dekat dengan wilayah gambut, Nazela melihat langsung bagaimana kebakaran dapat mengubah lingkungan dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Lalu, seperti apa cerita perempuan-perempuan muda dalam merawat hutan dan gambut, sekaligus memperkuat kehidupan?

Simak cerita selengkapnya di YouTube Perkumpulan Gemawan.
•
Follow
Nazela, perempuan muda asal Kubu Raya, membagikan cerita tentang bagaimana kebakaran lahan gambut dan kabut asap berdampak pada lingkungan, ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di sekitarnya. Di tengah kondisi Kalimantan yang kembali dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cerita Nazela menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang asap yang memenuhi udara. Sebagai perempuan muda yang hidup dekat dengan wilayah gambut, Nazela melihat langsung bagaimana kebakaran dapat mengubah lingkungan dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Lalu, seperti apa cerita perempuan-perempuan muda dalam merawat hutan dan gambut, sekaligus memperkuat kehidupan? Simak cerita selengkapnya di YouTube Perkumpulan Gemawan.
1 month ago
View on Instagram |
8/9
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
•
Follow
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha? Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu. Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha. Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan. #mempawah
2 months ago
View on Instagram |
9/9
View on Instagram

Collab!

Rumah Gesit Gemawan

Jl. Ujung Pandang No. 89
Pontianak | Kalimantan Barat | Indonesia
Telp.: (+62561)5628041
E-mail: info[at]gemawan.org
Pengaduan: lapor[at]gemawan.org

Connect!

Create!

PERSADA
LESTARI
SIGAP
#BorneoMangroveAction
SIGMA
Hak Cipta © 2026 Lembaga Gemawan. All rights reserved. Theme Spacious by ThemeGrill. Powered by: WordPress.
  • English
  • Indonesia