Hermawansyah Kalbar Dinamisator BRGM Gambut Mangrove Desa Moderasi Kebudayaan pemenuhan keadilan

Gusdur membangun moderasi kebudayaan ketika kelompok modernis mulai mengenalkan diri di Indonesia. Gusdur sama sekali tidak menampik mereka. Itu karena masing-masing mereka, termasuk Gusdur, memiliki kesadaran sejarah yang sudah terasah dan mumpuni.

 

Moderasi Kebudayaan: Menyambung Rantai Sejarah, Membangun Peradaban Emas dari Kalimantan Barat

Penulis: Hermawansyah[1]

 

Pendahuluan: Refleksi Kebangkitan Dinasti Politik Lama di Asia Tenggara Pasca Pemilu Filipina

Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr., putra mantan presiden Ferdinand Marcos diumumkan sebagai pemenang Pemilihan Umum Presiden Filipina pada medio Mei 2022 lalu. Ia meraih kemenangan telak dengan perolehan suara sekitar 30 juta suara. Jauh mengungguli saingan terdekatnya, Leni Robredo, yang mendulang sekitar 14 juta suara.[2] Manny Pacqiuao, yang melambungkan nama tinju Filipina pun tak kuasa menandingi popularitas Bongbong dalam pemilu kali ini.

Ayah Bongbong, Ferdinand Marcos, memerintah Filipina dari tahun 1965 hingga 1986. Melalui undang-undang darurat militer, ia memimpin sebagai diktator dari tahun 1978 sampai 1981. Selama periode itu, lebih dari 60.000 orang ditahan, lebih dari 30.000 disiksa, dan diperkirakan sekitar 3.000 orang dibunuh.[3] Melalui People Power Revolution 22-25 Februari 1986, Marcos Sr. digulingkan oleh rakyat Filipina. Kala itu rakyat jengah dengan kleptokrasi dan kediktatoran Marcos Sr. Pembunuhan Benigno Aquino oleh militer Filipina mengkristalisasi gerakan rakyat ini. Marcos Sr. lantas diasingkan di Hawaii dan meninggal di pengasingan pada tahun 1989.

Analisa TIME menyebut kemenangan Marcos Jr didukung empat strategi utama, yakni: 1) tim yang kuat; 2) kampanye di media sosial; 3) mengusung persatuan; 4) jadi pilihan segar untuk generasi muda.[4] Memang sejumlah analisis mengonfirmasi strategi yang berhasil mengantarkan dinasti Marcos kembali berkuasa di Filipina. Berpasangan dengan Sara Duterte, dengan basis massa kuat di selatan, Marcos Jr. menyatukan kekuatan itu dengan pendukungnya yang berada di bagian utara. Sementara selama beberapa tahun ke belakang, dinasti Marcos menghamburkan dananya untuk membangun citra baik keluarganya melalui media sosial.

Pemilih di Filipina saat ini didominasi generasi muda yang akrab dengan media sosial. Generasi muda ini tidak mengalami pemerintahan rezim Marcos Sr. Gencarnya disinformasi mengenai sejarah yang beredar di media sosial sejak dua tahun terakhir menggiring mereka untuk menentukan pilihan pada Marcos Jr.[5] Citra yang dibangun tim Bongbong melalui media sosial ini mengusung narasi keberhasilan para pendahulu Bongbong memimpin di era keemasan Filipina.

Linda Sunarti, Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Kajian Asia Tenggara UI, menyebutkan sikap lupa sejarah turut mendorong munculnya eletabilitas dinasti politik Marcos di Filipina.[6] Hal penting yang disebutkannya pula adalah keberadaan faktor budaya masyarakat Asia Tenggara yang mudah melupakan masa lalunya. Jangankan ingat akan kediktatoran di era Marcos Sr., generasi muda Filipina pemilih Marcos Jr. seakan lupa bahwa di tahun 1995 ia pernah dihukum karena penggelapan pajak saat menjadi pejabat publik.[7]

Tantangan Generasi Muda Indonesia di Tengah Era Disrupsi

Belajar dari fenomena di Filipina, maka ada masalah serius yang dihadapi Indonesia. Dari sisi populasi kaum muda, Indonesia memiliki kondisi pemilu yang hampir mirip dengan Filipina. Berdasarkan hasil sensus BPS pada 2020, pemilih muda diperkirakan menjadi kelompok dominan di Indonesia. Sebagai generasi yang hidup di dalam ekosistem digital, kaum muda Indonesia sangat rentan terpapar disinformasi.[8] Ekosistem digital ini melahirkan disrupsi informasi yang berlangsung cepat. Ketika disrupsi ini memuat serangkaian narasi disinformatif, maka hanya hal itulah yang akan mereka konsumsi.

Indonesia menghadapi bonus demografi pada rentang tahun 2025 hingga 2045. Berdasarkan pendataan dari PBB, usia produktif akan meningkat dari 3,9 miliar pada tahun 2010 menjadi hampir 5,3 miliiar pada tahun 2050. Dari total tersebut, 70 persen atau 3,7 miliar berada di Indonesia.[9] Menurut data BPS per akhir 2021, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) Indonesia berjumlah 188,9 juta atau 69,3 persen dari total jumlah penduduk sebesar 272,7 juta jiwa.

Menurut Survei Bonus Demografi GueMuda yang diadakan pada Maret 2022, dari total 405 reponden yang berasal dari generasi Z dan milenial Indonesia, terdapat 37 persen responden yang tidak menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari periode bonus demografi.[10] Hal ini mengindikasikan masih adanya gap pengetahuan yang cukup signifikan mengenai pemahaman bonus demografi.

Melalui bonus demografi, struktur populasi di sebuah negara dapat terjadi, dengan semakin banyak usia produktif. Karena itu bonus demografi ini berpengaruh besar terhadap akselerasi kondisi ekonomi, sosial, politik dan demokrasi di suatu negara. Ketika terjadi gap pemahaman bonus demografi, maka potensi terjadinya masalah lebih pelik akan sangat mungkin terjadi.

Ketidakpahaman terhadap bonus demografi akan membawa pada ketidaktahuan akan tanggungjawab yang secara paralel harus mereka emban. Penting bagi generasi muda saat ini memahami fakta situasional yang terjadi di sekitar mereka, agar kelak mereka mampu mengambil peran mengayomi generasi emas yang sedang dinantikan bersama. Generasi Z dan milenial sekarang berperan bak mata rantai peradaban negeri ini.

Membangun Kesadaran Sejarah dan Kesadaran Generasi, Membincang Masa Depan
Hermawansyah Moderasi Kebudayaan
Hermawansyah membawakan makalah berjudul Moderasi Kebudayaan: Menyambung Rantai Sejarah Menuju Peradaban Emas dari Kalimantan Barat

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” ujar Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Beliau berpesan untuk tidak pernah sekalipun melupakan sejarah kita. Kalimat itu merupakan payung besar bagi setiap kelompok generasi untuk saling menyampaikan sejarah peradaban kita. Sejarah pada hakikatnya bukan hanya rekonstruksi masa lalu, melainkan juga konstruksi masa depan. Sehingga membaca sejarah, sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tapi juga membincang masa depan.

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, guru bangsa yang baru saja meninggalkan kita, pernah berpesan agar generasi modern saat ini tidak gamang menghadapi dinamika kehidupan. Anak muda sekarang harus memiliki kecerdasan critical.[11] Kecerdasan critical ini hanya bisa diraih ketika kesadaran sejarah telah dimiliki. Kesadaran sejarah menjadi pondasi awal bagi generasi Z dan milenial saat ini untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.

Kita masih punya waktu memahami genealogi sejarah bangsa ini. Tentu tidak lama. Karena itu perlu akselerasi, kerjasama, sinergi dan kolaborasi bahu-membahu menggiring arus baru perubahan zaman di Indonesia. Tidak mungkin bekerja sendiri-sendiri, sporadis, apatah lagi merasa benar sendiri. Setiap generasi yang hadir saat ini, di masa ini, memiliki peran yang saling berkelindan satu dengan lainnya.

Generasi milenial dan Z harus sadar bahwa mereka berdampingan dengan generasi X, Y, dan bahkan babby boomer yang masih ada sekarang. Menafikan keberadaan generasi tersebut justru memutus sejarah yang secara inheren ada pada generasi yang disebut belakangan. Sesungguhnya ekosistem bagi tumbuh-kembangnya generasi pemenang telah dipersiapkan oleh para pendahulu negeri ini. Kawah candradimuka kaderisasi dan regenerasi tempat olah-tempa generasi baru bangsa Indonesia. Para stakeholders, termasuk Nahdlatul Ulama, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, serta stakeholders lainnya mengambil peran-peran strategis itu.

Moderasi Kebudayaan, dari Jembatan Emas ke Peradaban Emas: 

Bung Karno berkata, “Di seberang jembatan emas kemerdekaan itu jalan pecah dua: satu, ke dunia sama rata sama rasa; dua, ke dunia sama ratap sama tangis.” Dunia sama rata sama rasa adalah dunia yang egaliter, bersatu, damai, dan kolaboratif demi tujuan yang sama, Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

KH. Abdurrahman Wahid, Sang Guru Bangsa, pernah menulis artikel yang dimuat di majalah Tempo, Maret 1992, berjudul Tiga Pendekar dari Chicago. Yang dimaksud Gusdur sebagai Tiga Pendekar dari Chicago ini adalah Prof. Nurcholis Madjid, Prof. Amien Rais, dan Prof. Ahmad Syafii Maarif. Tiga orang ini merupakan generasi pertama cendikiawan muslim dari Universitas Chicago.[12]

Masing-masing tokoh tersebut memiliki kekhasan pemikiran Islam. Bagi Gusdur, perbedaan pemikiran yang cukup besar dari tiga orang “pendekar” itu menjadi ciri “kesatuan” mereka, yakni sama-sama memiliki komitmen untuk mengembangkan Islam sebagai way of life, baik dalam bentuk sistematik atau kultural. Itu persoalan pilihan sadar dari masing-masing mereka.

Melalui tulisan tersebut, Gusdur membangun moderasi kebudayaan ketika kelompok modernis mulai mengenalkan diri di Indonesia. Gusdur sama sekali tidak menampik mereka. Itu karena masing-masing mereka, termasuk Gusdur, memiliki kesadaran sejarah yang sudah terasah dan mumpuni.

Belajar dari hal itu, meskipun kita memang berbeda: berbeda generasi, berbeda pilihan, berbeda latar belakang. Tapi ketika kita memiliki mimpi yang sama untuk menjemput peradaban emas 2045 di Indonesia, maka cara untuk mewujudkannya adalah dengan memainkan peran sejarah kita saat ini untuk saling memoderasi kebudayaan kita. Dengan cara ini, kita bisa memulai langkah untuk merawat jagat dan membangun peradaban dari Kalimantan Barat.

 

[1] Wakil Ketua PW Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, Alumni GMNI, Dewan Pengurus Gemawan

[2] https://www.liputan6.com/global/read/4959815/headline-marcos-jr-anak-mantan-diktator-menang-pilpres-filipina-disinformasi-jadi-kunci

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] https://www.dw.com/id/kemenangan-marcos-jr-dan-pengaruh-disinformasi-di-medsos/a-61783264

[6] Ibid

[7] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-60277237

[8] https://www.dw.com/id/kemenangan-marcos-jr-dan-pengaruh-disinformasi-di-medsos/a-61783264

[9] https://unri.ac.id/2022/02/22/menghadapi-bonus-demografi-unri-lulusan-berkualitas/

[10] https://www.suara.com/bisnis/2022/04/01/081046/banyak-anak-muda-indonesia-tak-sadar-jadi-bagian-dari-bonus-demografi?page=1

[11] https://suaramuhammadiyah.id/2020/05/31/pentingnya-kesadaran-sejarah-belajar-dari-buya-catatan-milad-ke-85/

[12] https://alif.id/read/redaksi/ketika-gus-dur-menulis-cak-nur-pak-amien-buya-syafii-b206164p/

 

Artikel berjudul Moderasi Kebudayaan: Menyambung Rantai Sejarah Membangun Peradaban Emas dari Kalimantan Barat ini disampaikan dalam Pembukaan Konferda I GMNI Kalimantan Barat dan Seminar Nasional bertema Kalimantan Barat Menyongsong Indonesia Emas 2045 yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 Mei 2022 di Pontianak.

Moderasi Kebudayaan: Menyambung Rantai Sejarah, Membangun Peradaban Emas 2045 dari Kalimantan Barat
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *