Pemetaan Partisipatif di Desa Kalbar

Perkumpulan Gemawan dan Suar Institute mendampingi pemetaan partisipatif di Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi (23/01). Kegiatan yang dilaksanakan selama 10 hari ini diikuti sebanyak 13 peserta dari aparat desa dan tokoh masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan ini dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan seperti Musyawarah Desa (Musdes) Desa Nanga Kebebu terkait Pemetaan, Musyawarah antar desa untuk batas desa, focus group discussion (FGD) dengan pihak Kecamatan dan PMD Kabupaten Melawi dan serta pelaksanaan pemetaan baik in-class maupun out-class.

Selama proses, peserta mengikuti dua sesi, baik in-class maupun out-class. Dalam sesi in-class peserta mendapatkan teori dan keterampilan terkait penggunaan GPS, penataan ruang desa, teknis dasar pembuatan peta dan manajemen pemetaan. Sedangkan  dalam sesi out-class, peserta dibagi dalam empat tim dalam praktek sekaligus pengambilan titik koordinat ruang dan struktur ruang desa dan batas dengan desa lainnya.

Baca juga: Perhutanan Sosial Pintu Dorong Pelibatan Perempuan untuk Pengelolaan Hutan di 11 Desa Kabupaten Melawi

Pemetaan Partisipatif, Bersama Menelusuri Tapak Desa

Metode dalam kegiatan dilakukan dengan melibatkan para pihak di desa secara partisipatif. Untuk memastikan bahwa peta yang dihasilkan ini diketahui dan dibuat langsung oleh masyarakat desa setempat agar masyarakat mengetahui terkait ruang di desa untuk mereka melakukan proteksi dan budidaya serta mengurangi konflik terkait lahan di desa. Dalam proses pemetaan, tim pemetaan Nanga Kebebu juga melibatkan lima desa tetangga seperti Desa Semadin Lengkong, Desa Tebing Karangan, Desa Nusa Pandau, Desa Tanjung Arak dan Desa Pelinggang.

Menurut Abang Rustaman, Kepala Unit Pemetaan Partisipatif Gemawan, pemetaan Desa Nanga Kebebu dilaksanakan selama 12 hari, dengan rangkaian kegiatan untuk mendukung bahwa peta yang dihasilkan diakui berbagai pihak.

Pemetaan partisipatif adalah metode melibatkan masyarakat secara aktif dalam memetakan wilayah mereka. Dengan cara ini, pengetahuan masyarakat atas ruang hidup dan penghidupan mereka dapat tertuang dan terdokumentasi. Melalui metode ini, masyarakat di tingkat tapak merupakan perencana ruang dan kawasan mereka sendiri.

“Penting dalam proses pemetaan partisipatif ini dilakukan Musdes baik di desa maupun antar desa, serta koordinasi dengan Pemda Melawi, untuk memastikan tidak akan muncul permasalahan di kemudian hari,” ungkap Abang, panggilan sehari-hari.

Selama proses musyawarah maupun rapat tim, perempuan juga dilibatkan baik yang tergabung dalam kelompok perempuan tani maupun tokoh perempuan di desa.

Baca juga: Pentingnya Perspektif GESI Dalam Pengelolaan SDA di Kayong Utara

“Kita melibatkan perempuan dalam proses perencanaan pemetaan, oleh keluasan desa, medan yang terjal dan harus menginap di hutan beberapa hari dengan membawa bekal dan tenda, kita sepakati perempuan tidak terlibat dalam proses pengambilan titik, dan mereka juga sepakat,” ujar Ika Wulan Sari, Staf Perencanaan Desa Nanga Kebebu.

Ditambahkan Ari Susanto, Kepala Desa Nanga Kebebu, titik koordinat terkait tapal batas diprioritaskan dalam pemetaan di desa ini, karena terkait administrasi batas untuk perencanaan dan pembangunan desa.

“Hasil pemetaan desa yang menurut kita pertama di Melawi, akan kita tindak lanjuti dengan pengusulan peraturan batas desa atau peta desa Nanga Kebebu, kepada Pemerintah Kabupaten Melawi, untuk memperkuat legalitas secara administrasi pemerintahan,’ tutup Ari didampingi Sukartaji, Direktur Suar Institute. 

 

Penulis: Roni Antoni, Muhammad Zuni Irawan

Nanga Kebebu Inisiasi Pemetaan Partisipatif Pertama di Kabupaten Melawi
Tag pada:                    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *