Skip to content
Gemawan

Lembaga Gemawan

Self-Sufficient and Independent Society

Menu

  • Home
  • News
    • Women Empowerment
    • Community Based Development
    • Natural Resource
    • Economic Development
    • Good Governance
  • Publication
    • Report
    • Opinion
    • Position Statement
    • Book
  • Spatial
    • Social Forestry Dashboard
  • About
    • Team
    • Programme & Activities
  • Innovation
    • LESTARI
    • PERSADA
    • SIGAP
  • English Version
    • Bahasa Indonesia
    • English Version

News

Workshop on Preparation for 2016-2017 MCA-Indonesia Program Implementation Officially Open

MCA-Indonesia

GOING BY BUS: Director of Gemawan, Laili Khairnur (right), gathered with 23 people to visit Sintang, to attend a Workshop on Preparation for 2016-2017 MCA-Indonesia Program Implementation at My Home Hotel, Sintang, Wednesday (17/08/2016). Photo: Agus Budiman/GEMAWAN.   Sintang, GEMAWAN.

admin August 18, 2016February 25, 2023 Community Based Development, Headline, News Read more

Discount Equal to Corruption

RAMAH-TAMAH: Wako Pontianak H Edi Rusdi Kamtono beramah-tamah dengan aktivis lintas NGO di acara diskusi ‘Jejaring Anti Korupsi’ yang diselenggarakan lembaga Gemawan di Hotel Santika Pontianak, Kamis (30/06/2016). Foto: Mahmudi/GEMAWAN.

COURTESY CALL:  The Deputy Mayor of Pontianak, H. Edi Rusdi Kamtono, had a courtesy call with activists from various NGOs at the discussion event ‘Anti-Corruption Network’ organized by Gemawan association at Hotel Santika, Pontianak, Thursday (30/06/2016). Photo: Mahmudi/GEMAWAN.   Pontianak,

admin August 16, 2016February 16, 2023 Economic Development, Good Governance, Headline, News Read more

Central Market Auction Cancelled, Committee was Called by West Kalimantan Regional Police

pasar tengah central market

CALLED BY REGIONAL POLICE (POLDA): Deputy Mayor of Pontianak H. Edi Rusdi Kamtono (right), accompanied by the director of Gemawan Association, Laili Khairnur, at a discussion event ‘Anti-Corruption Network’ organized by Gemawan Association at Hotel Santika, Pontianak, Thursday (30/06/2016). Photo:

admin August 15, 2016February 16, 2023 Good Governance, Headline, News Read more

Community Participation in Spatial Planning of Tanjung Satai Village

VERIFIKASI PETA: Fasilitator Pemetaan/GIS Gemawan, Welly Arma (kiri) memimpin verifikasi peta desa Tanjung Satai, bersama Kades Tanjung Satai Turaidi (kedua dari kanan), Kepala Distric Officer Gemawan KKU Agus Budiman (kanan), dan warga desa di Balai Desa Tanjung Satai, Jumat (17/06/2016). Foto: Welly Arma/GEMAWAN.

MAP VERIFICATION: The facilitator of Gemawan Mapping/GIS, Welly Arma (left) led the verification of Tanjung Satai village map, with the Village Head of Tanjung Satai, Turaidi (second from right), the District Officer Head of Gemawan in KKU, Agus Budiman (right),

admin July 21, 2016February 16, 2023 Community Based Development, Headline, Natural Resource, News Read more

Kampung Meeting Verifies Village Map of Dusun Besar

VERIFIKASI PETA: Peserta pemetaan partisipatif tata ruang desa Dusun Besar memverifikasi peta desanya, Selasa (22/06/2016). Inzet: Yusnardi, Kades Dusun Besar. Foto: Welly Arma/GEMAWAN.

MAP VERIFICATION: The participants of the spatial participatory mapping of Dusun Besar village verified their village map, Tuesday (22/06/2016). Inzet: Yusnardi, Head of Dusun Besar Village. Photo: Welly Arma/GEMAWAN.   Maya Island, GEMAWAN. A typical meeting of “Kampung Meeting” became

admin July 21, 2016February 16, 2023 Community Based Development, Headline, News Read more

Happy Eid Al-Fitr 1437 H/2016 M

Gemawan Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H

Pontianak, GEMAWAN. The Director of Gemawan Association, Laili Khairnur, representing the big family of the Gemawan Association, wishes you a happy Eid Al-Fitr 1437 H/2016 M. With sincere hearts, please forgive our wrongdoings to you all. Taqabbalallahu minna wa minkum

admin July 4, 2016March 5, 2023 Headline, News Read more

“Kampung Meeting” Strengthens Basis of Movement

Kampung Meeting

VILLAGE MEETING: Facilitator of Gemawan (left), Ismail Karem, Muhammad Zuni Irawan (sitting), and A’la Maududi (right) discussed the program to strengthen the community movement basis at Gemawan’s office, Friday (24/06/2016). Photo: Mahmudi/GEMAWAN.   Pontianak, GEMAWAN. A facilitator of Gemawan, Ismail

admin June 24, 2016February 16, 2023 Community Based Development, Headline, News Read more

On the Front Line of Biofuels in Indonesia

Biofuel | Gemawan

This massive EU demand for biofuels is also exacerbating human rights abuses, due to the expansion of palm oil plantations. Laili Khainur explained how members of her staff had been hospitalised after being violently attacked by private security guards for

admin October 17, 2014December 5, 2022 Natural Resource, News Read more

Government Negligence, Rampant Corporations, and the Neglected People

The Tangle of Palm Oil Investments in Sambas and Bengkayang Regencies The palm oil plantation sector has clearly become a mainstay in West Kalimantan, judging from the rapid growth of permits granted by local governments—particularly following the surge in global

admin May 8, 2011October 27, 2025 News Read more
  • Next »

Instagram

Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
•
Follow
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian. Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri. Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
7 hours ago
View on Instagram |
1/9
Nazela, perempuan muda asal Kubu Raya, membagikan cerita tentang bagaimana kebakaran lahan gambut dan kabut asap berdampak pada lingkungan, ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Di tengah kondisi Kalimantan yang kembali dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cerita Nazela menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang asap yang memenuhi udara. 

Sebagai perempuan muda yang hidup dekat dengan wilayah gambut, Nazela melihat langsung bagaimana kebakaran dapat mengubah lingkungan dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Lalu, seperti apa cerita perempuan-perempuan muda dalam merawat hutan dan gambut, sekaligus memperkuat kehidupan?

Simak cerita selengkapnya di YouTube Perkumpulan Gemawan.
•
Follow
Nazela, perempuan muda asal Kubu Raya, membagikan cerita tentang bagaimana kebakaran lahan gambut dan kabut asap berdampak pada lingkungan, ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di sekitarnya. Di tengah kondisi Kalimantan yang kembali dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cerita Nazela menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang asap yang memenuhi udara. Sebagai perempuan muda yang hidup dekat dengan wilayah gambut, Nazela melihat langsung bagaimana kebakaran dapat mengubah lingkungan dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Lalu, seperti apa cerita perempuan-perempuan muda dalam merawat hutan dan gambut, sekaligus memperkuat kehidupan? Simak cerita selengkapnya di YouTube Perkumpulan Gemawan.
6 days ago
View on Instagram |
2/9
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
•
Follow
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha? Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu. Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha. Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan. #mempawah
2 weeks ago
View on Instagram |
3/9
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
•
Follow
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko. Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan. Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat. 📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
2 weeks ago
View on Instagram |
4/9
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
•
Follow
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain. Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
2 months ago
View on Instagram |
5/9
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
•
Follow
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan. Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
2 months ago
View on Instagram |
6/9
Di saat banyak hal terasa semakin bising, perjumpaan menjadi cara untuk tetap mendengar satu sama lain. 

Dari ruang Diseminasi dan Dialog Tindak Lanjut Hasil Indonesia Civil Society Forum Regional Kalimantan dan Sumatera, kami belajar: gerakan tidak tumbuh dari kerja sendiri. Tetapi dari keberanian untuk tetap terhubung, menyusun langkah adaptif, dan menjaga suara-suara tetap punya tempat, karena solidaritas perlu terus dirawat.

#indonesiacivilsocietyforum #ICSF #kawangemawan #borneoinisiatif
•
Follow
Di saat banyak hal terasa semakin bising, perjumpaan menjadi cara untuk tetap mendengar satu sama lain. Dari ruang Diseminasi dan Dialog Tindak Lanjut Hasil Indonesia Civil Society Forum Regional Kalimantan dan Sumatera, kami belajar: gerakan tidak tumbuh dari kerja sendiri. Tetapi dari keberanian untuk tetap terhubung, menyusun langkah adaptif, dan menjaga suara-suara tetap punya tempat, karena solidaritas perlu terus dirawat. #indonesiacivilsocietyforum #ICSF #kawangemawan #borneoinisiatif
3 months ago
View on Instagram |
7/9
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. 

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7-8 April 2026, di Rumah Panjang Madang, Dusun Karangan Bunut, Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu menjadi momentum krusial bagi perempuan muda  untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal.

#WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
•
Follow
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7-8 April 2026, di Rumah Panjang Madang, Dusun Karangan Bunut, Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu menjadi momentum krusial bagi perempuan muda untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal. #WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
5 months ago
View on Instagram |
8/9
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. 

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30–31 Maret 2026, di Aula Kantor Desa Punggur Kecil, Kec. Sungai Kakap, Kab. Kubu Raya menjadi momentum krusial bagi perempuan muda  untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal.

#WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
•
Follow
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30–31 Maret 2026, di Aula Kantor Desa Punggur Kecil, Kec. Sungai Kakap, Kab. Kubu Raya menjadi momentum krusial bagi perempuan muda untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal. #WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
5 months ago
View on Instagram |
9/9
View on Instagram

Collab!

Rumah Gesit Gemawan

Jl. Ujung Pandang No. 89
Pontianak | Kalimantan Barat | Indonesia
Telp.: (+62561)5628041
E-mail: info[at]gemawan.org
Pengaduan: lapor[at]gemawan.org

Connect!

Create!

PERSADA
LESTARI
SIGAP
#BorneoMangroveAction
SIGMA
Copyright © 2026 Lembaga Gemawan. All rights reserved. Theme Spacious by ThemeGrill. Powered by: WordPress.