Analog Forest Daun Piawas

Praktik analog forest seperti menanam pohon yang bernilai ekonomi sebenarnya sudah kami lakukan, tapi kami tidak pernah melakukan pengamatan tentang jenis tanaman apa saja yang ada di lahan kami, apa saja binatang yang ada, serta tidak memperhatikan bagaimana struktur tanah.

Sejak terbentuk pada tahun 2020, Kelompok Perempuan Daun Piawas telah banyak mengalami perkembangan. Proses pembentukan kelompok yang awalnya mereka tolak, lalu membuat demplot padi hitam yang menjadi produk unggulan kelompok, pengakuan kiprah mereka disektor pertanian oleh PPL/BPP hingga didaftarkan sebagai KWT, hingga kini sebagai implementor program Analog Forest bersama Gemawan. Tentu, semua tak selalu berjalan mulus, namun mereka berhasil melewati tantangan itu satu persatu.

Mulai dari pasang surut semangat anggota untuk berkelompok, sinisme pemerintah desa terhadap aktivitas mereka, hingga larangan berkelompok dari suami. Namun semua hal tersebut tak pernah menyurutkan niat mereka untuk tetap berkelompok dan belajar.

“Bagi saya sendiri, memang agak susah untuk pertemuan sebulan sekali, karena dari pagi sampai sore, ada saja yang kami kerjakan sebagai petani. Tapi, ada kerinduan tersendiri untuk bertemu dengan kawan-kawan. Rasanya banyak yang ingin diceritakan, dan ini juga menjadi waktu untuk kami istirahat dari kesibukan kami,” ujar Aswatiah, ketua Kelompok Daun Piawas.

Pada tahun 2024, atas dukungan International Analog Forestry Network (IAFN), Gemawan melibatkan Kelompok Daun Piawas sebagai pelaksana program Analog Forestry. Proses pelibatan ini diawali dengan mengikuti proses online workshop yang diikuti oleh kelompok tentang metodologi analog forest, bagaimana mengimplementasikannya dan belajar hal teknis lain seperti membuat Physiognomic Formula, ecological evaluation hingga membuat mapping.

“Praktik analog forest seperti menanam pohon yang bernilai ekonomi sebenarnya sudah kami lakukan, tapi kami tidak pernah melakukan pengamatan tentang jenis tanaman apa saja yang ada di lahan kami, apa saja binatang yang ada, serta tidak memperhatikan bagaimana struktur tanah,” ujar Nursian, salah seorang anggota Daun Piawas.

Ia menuturkan, setelah mengikuti workshop, mereka memahami pentingnya  memperhatikan strata tanaman dan mendata tanaman yang ada karena tiap tanaman memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda-beda. Itu salah satu yang kami pelajari dari analog forest.

Daun Piawas Analog Forest

Untuk mengimplementasikan program analog forest ini, setiap anggota diharuskan menyiapkan 2 jenis lahan, yaitu untuk demplot (demonstration plot) sayuran dan demplot analog forest. Pengelolaan demplot sayuran ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sumber gizi keluarga juga sebagai sumber penghasilan jangka pendek. Luasannya sekitar 10x10m persegi dan sebagian besar lokasinya berada disekitar rumah mereka.

Beberapa jenis tanaman sayuran yang dibudidayakan antara lain timun, jagung, terong, kangkung, cabe dan lainnya. Dari hasil demplot ini, anggota tak hanya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, namun juga menambah perekonomian keluarga. Salah satu anggota bahkan mampu membangun dapur dari hasil penjualan panen demplot sayurnya. 

Untuk demplot tanaman pohon, Setiap anggota menyediakan lahan seluas 1 borong atau sekitar 1/6 ha yang Sebagian besar merupakan kebun-kebun yang sudah mereka kelola. Melalui program ini, mereka menambah beragam jenis tanaman pohon, terutama jenis tanaman buah-buahan seperti matoa, durian, cempedak, manggis, kopi dan lainnya.  Selain sebagai “tabungan”, bagi mereka, tanaman yang dibudidayakan ini adalah warisan untuk anak cucu mereka di masa depan.

Penulis: Wanti A. dan Ridho F., pegiat Gemawan

Analog Forest Sebagai Warisan untuk Masa Depan
Tag pada: