Skip to content
Gemawan

Lembaga Gemawan

Masyarakat Swadaya dan Mandiri

Menu

  • Home
  • News
    • Pemberdayaan Perempuan
    • Pembangunan Berbasis Masyarakat
    • Sumberdaya Alam
    • Pengembangan Ekonomi
    • Tata Kelola
  • Publikasi
    • Kabar Gemawan
    • Laporan
    • Opini
    • Buku
    • Pernyataan Sikap
  • Spasial
    • Dashboard Perhutanan Sosial
  • Tentang
    • Tim
    • Program & Aktivitas
    • Wilayah Aktivitas
  • Inovasi
    • LESTARI
    • PERSADA
    • SIGAP
  • Pengaduan
    • Prosedur Pengaduan
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English Version

Mangrove

Deputi BRGM RI Sambangi Rumah Gagasan dan Aksi Perubahan Gemawan di Ujung Pandang 89

Laili Khairnur dan Deputi BRGM

Senin (13/12), para pegiat Gemawan berkesempatan menyambut Deputi Edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) RI,  Dr. Myrna A. Safitri, SH., M.Si, di kantor Gemawan, kawasan Jalan Ujung Pandang, Pontianak. Kedatangannya bersama rombongan bertujuan untuk

admin December 14, 2021March 15, 2022 News Tidak ada Komentar Baca Selengkapnya

2 Langkah Strategis Menjaga Mangrove: Collaborative Efforts and Collective Action!

Menjaga Mangrove Kalbar | View Drone | Potensi Sumberdaya Alam

Berdasarkan rilis CIFOR, 55.000 hektar atau seluas area New York, mangrove Indonesia menghilang setiap tahunnya (Mollins, 2018). Perlu akselerasi untuk menjaga mangrove di sepanjang bibir daratan jika memang kita masih berharap mangrove dapat melindungi kehidupan ini. Degradasi Mangrove: Ancaman Bagi

admin October 6, 2021February 15, 2023 Opini Baca Selengkapnya

Lestarikan Mangrove, Manfaatkan Hutan Desa

Perhutanan Sosial Pulau Maya dengan skema Hutan Desa untuk lestarikan mangrove

Jika pengelolaan hutan mangrove melalui kelembagaan hutan desa bisa diinisiasi pemerintah, tentunya akan berdampak baik untuk banyak hal, baik yang langsung dirasakan masyarakat maupun pemerintah. “Sudah saatnya pemerintah bersikap tegas terhadap segala kerusakan yang terjadi terhadap kawasan hutan mangrove. Ini

admin August 26, 2009February 15, 2023 News, Sigap Baca Selengkapnya

Penegakan Hukum Lingkungan Nihil

DALAM menangani permasalahan kabut asap dan kebakaran lahan memerlukan identifikasi dan memahami akar persoalan. Heri Mustari, Campaigner Lembaga Gemawan (Pengembangan Masyarakat Swadaya dan Mandiri) Kalbar mengatakan penyebab kebakaran lahan itu berbeda, sehingga diperlukan penanganan melalui pendekatan yang berbeda. Penyebab kebakaran

admin August 10, 2009November 15, 2025 News Baca Selengkapnya
  • Berikutnya »

Instagram

Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian.

Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
•
Follow
Pada 10-11 Agustus 2026, sebanyak 42 Pegiat Perubahan dari 18 desa di Kayong Utara berkumpul untuk belajar tentang kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, hingga pengembangan usaha dan pertanian. Mereka dipersiapkan untuk kembali ke desa, membangun kelompok perempuan, dan menggerakkan perubahan dari lingkungan mereka sendiri. Sebab ketika perempuan punya ruang untuk belajar, berorganisasi, dan mengambil keputusan, desa juga punya lebih banyak kekuatan untuk tumbuh.
7 hours ago
View on Instagram |
1/9
Nazela, perempuan muda asal Kubu Raya, membagikan cerita tentang bagaimana kebakaran lahan gambut dan kabut asap berdampak pada lingkungan, ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Di tengah kondisi Kalimantan yang kembali dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cerita Nazela menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang asap yang memenuhi udara. 

Sebagai perempuan muda yang hidup dekat dengan wilayah gambut, Nazela melihat langsung bagaimana kebakaran dapat mengubah lingkungan dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Lalu, seperti apa cerita perempuan-perempuan muda dalam merawat hutan dan gambut, sekaligus memperkuat kehidupan?

Simak cerita selengkapnya di YouTube Perkumpulan Gemawan.
•
Follow
Nazela, perempuan muda asal Kubu Raya, membagikan cerita tentang bagaimana kebakaran lahan gambut dan kabut asap berdampak pada lingkungan, ruang hidup, serta aktivitas masyarakat di sekitarnya. Di tengah kondisi Kalimantan yang kembali dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, cerita Nazela menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang asap yang memenuhi udara. Sebagai perempuan muda yang hidup dekat dengan wilayah gambut, Nazela melihat langsung bagaimana kebakaran dapat mengubah lingkungan dan memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Lalu, seperti apa cerita perempuan-perempuan muda dalam merawat hutan dan gambut, sekaligus memperkuat kehidupan? Simak cerita selengkapnya di YouTube Perkumpulan Gemawan.
6 days ago
View on Instagram |
2/9
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha?

Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu.

Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha.

Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan.

#mempawah
•
Follow
Apa yang terjadi ketika petani mulai melihat hasil panen sebagai sebuah usaha? Selama dua hari, 30 petani JARINGPEDAS dari 15 desa di Mempawah belajar bersama di Kuala Secapah untuk menjawab pertanyaan itu. Mulai dari memetakan model bisnis, menghitung HPP, mencatat keuangan, sampai menyusun arus kas dan rencana pengembangan usaha. Dari proses ini, peserta diajak lebih memahami kondisi usaha mereka hari ini, sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan. #mempawah
2 weeks ago
View on Instagram |
3/9
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko.

Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat.

📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
•
Follow
Di banyak desa rawan karhutla, masyarakat menjadi pihak yang pertama melihat tanda-tanda kebakaran, melakukan patroli, hingga merespons ketika api mulai muncul. Peran mereka menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada kesiapsiagaan masyarakat yang hidup paling dekat dengan wilayah berisiko. Namun, peran tersebut tidak bisa berjalan tanpa dukungan. Penguatan kapasitas, sarana dan prasarana, sistem deteksi dini, serta kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam membangun pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan. Melalui Laporan Penilaian Risiko Karhutla dan Kapasitas Kelembagaan MPA di Kabupaten Mempawah dan Sambas, Gemawan mengangkat berbagai temuan dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis masyarakat. 📖 Baca laporan lengkapnya di gemawan.org/laporan-asesmen-dan-analisis-karhutla.
2 weeks ago
View on Instagram |
4/9
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain.

Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. 

Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
•
Follow
Perubahan yang berkelanjutan lahir dari orang-orang yang siap belajar, berbagi, dan menggerakkan orang lain. Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Pegiat Perubahan di Kabupaten Sambas, Gemawan memperkuat kapasitas para pegiat desa sebagai fasilitator yang mampu mendorong perubahan di komunitasnya. Selama pelatihan, peserta bersama-sama belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi partisipatif, keadilan gender, perubahan iklim, hingga teknik fasilitasi yang dapat diterapkan dalam proses pendampingan
2 months ago
View on Instagram |
5/9
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
•
Follow
Sepanjang Juni 2026, Gemawan menyelenggarakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan dialog multipihak di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, kelompok perempuan, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui ruang dialog ini, berbagai isu strategis dibahas bersama, mulai dari pembangunan yang responsif gender, adaptasi terhadap perubahan iklim, penguatan peran perempuan petani, ketahanan pangan, akses terhadap informasi iklim, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sejumlah forum juga memperkenalkan pendekatan 3R (Recognition, Representation, dan Redistribution) serta Program Perempuan KUAT sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, kapasitas, dan partisipasi perempuan dalam pembangunan. Kolaborasi yang terbangun hari ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
2 months ago
View on Instagram |
6/9
Di saat banyak hal terasa semakin bising, perjumpaan menjadi cara untuk tetap mendengar satu sama lain. 

Dari ruang Diseminasi dan Dialog Tindak Lanjut Hasil Indonesia Civil Society Forum Regional Kalimantan dan Sumatera, kami belajar: gerakan tidak tumbuh dari kerja sendiri. Tetapi dari keberanian untuk tetap terhubung, menyusun langkah adaptif, dan menjaga suara-suara tetap punya tempat, karena solidaritas perlu terus dirawat.

#indonesiacivilsocietyforum #ICSF #kawangemawan #borneoinisiatif
•
Follow
Di saat banyak hal terasa semakin bising, perjumpaan menjadi cara untuk tetap mendengar satu sama lain. Dari ruang Diseminasi dan Dialog Tindak Lanjut Hasil Indonesia Civil Society Forum Regional Kalimantan dan Sumatera, kami belajar: gerakan tidak tumbuh dari kerja sendiri. Tetapi dari keberanian untuk tetap terhubung, menyusun langkah adaptif, dan menjaga suara-suara tetap punya tempat, karena solidaritas perlu terus dirawat. #indonesiacivilsocietyforum #ICSF #kawangemawan #borneoinisiatif
3 months ago
View on Instagram |
7/9
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. 

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7-8 April 2026, di Rumah Panjang Madang, Dusun Karangan Bunut, Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu menjadi momentum krusial bagi perempuan muda  untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal.

#WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
•
Follow
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7-8 April 2026, di Rumah Panjang Madang, Dusun Karangan Bunut, Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kab. Kapuas Hulu menjadi momentum krusial bagi perempuan muda untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal. #WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
5 months ago
View on Instagram |
8/9
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. 

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30–31 Maret 2026, di Aula Kantor Desa Punggur Kecil, Kec. Sungai Kakap, Kab. Kubu Raya menjadi momentum krusial bagi perempuan muda  untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal.

#WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
•
Follow
Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata menyentuh ruang-ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan, Gemawan gelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30–31 Maret 2026, di Aula Kantor Desa Punggur Kecil, Kec. Sungai Kakap, Kab. Kubu Raya menjadi momentum krusial bagi perempuan muda untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal. #WorkshopGemawan #Gemawan #PerempuanMuda #Krisisiklim #Kepemimpinanperempuan
5 months ago
View on Instagram |
9/9
View on Instagram

Collab!

Rumah Gesit Gemawan

Jl. Ujung Pandang No. 89
Pontianak | Kalimantan Barat | Indonesia
Telp.: (+62561)5628041
E-mail: info[at]gemawan.org
Pengaduan: lapor[at]gemawan.org

Connect!

Create!

PERSADA
LESTARI
SIGAP
#BorneoMangroveAction
SIGMA
Hak Cipta © 2026 Lembaga Gemawan. All rights reserved. Theme Spacious by ThemeGrill. Powered by: WordPress.
  • English
  • Indonesia