
Menurut Fauss (1923), pangan merupakan sebuah fenomena multidimensi. Melihat pangan hanya dari aktivitas di ladang, kompor yang menyala bukanlah gambaran utuh mengenai pangan, atau makanan yang tersaji di atas meja makan. Pangan, dalam konteks ini, adalah sebuah upaya komunitas memahami dirinya, menghormati leluhurnya, dan membangun masa depannya. Di Kalimantan Barat, realitas itu hidup setiap hari dalam tradisi ngamping di Sambas, dalam ritual Bojah Losu’ Dayak Uud Danum, dalam kerupuk kulit pisang dari tangan-tangan perempuan Matang Segarau, dalam dodol nanas yang lahir dari semangat ibu-ibu Desa Gapura, juga dalam sirup gedabu yang mengalir dari pesisir Kayong Utara.
Buku ini disusun dengan dua semangat sekaligus: semangat ilmiah yang menghormati data dan referensi yang dapat diverifikasi, serta semangat humanis yang percaya bahwa kisah manusia tidak bisa sepenuhnya tertangkap oleh angka. Kami berupaya mempertemukan keduanya — data produksi pangan yang dipublikasikan, kerangka teori yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus narasi yang menghidupkan wajah-wajah di balik statistik itu.
Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada seluruh perempuan petani, perajin pangan, dan penjaga tradisi di Sambas, Kayong Utara, Mempawah, dan berbagai penjuru Kalimantan Barat yang dengan sabar berbagi kisah hidupnya. Salam hangat untuk kalian, para pahlawan di garis depan ketahanan pangan negeri ini.
