
Buku saku ini lahir dari sebidang lahan di Dusun Binawarsa yang dulu nyaris ditinggalkan, kini tumbuh menjadi hutan kecil berisi pohon buah, tanaman obat, dan sayuran yang ditanam dengan tangan sendiri oleh Kelompok Perempuan Daun Piawas.
Hutan analog meniru apa yang sudah lama diketahui alam: hutan yang sehat punya banyak lapisan dan jenis tanaman yang saling menopang. Prosesnya tidak selalu mudah — seperti dituturkan Ngah Wati, dulu rasanya “tidak ada harapan lagi untuk menanam kopi.” Namun satu demi satu tanaman tumbuh, dan satu demi satu anggota kelompok menemukan kembali semangatnya: ada yang kini tak perlu lagi membeli sayur, ada yang berharap kelak anak-cucunya ikut merasakan hasilnya.
Lima langkah sederhana dalam buku ini — mengamati hutan, membandingkan dengan lahan sendiri, mendata tanaman, membuat denah, lalu merawat dan memantau — kami susun agar pengalaman Sagu bisa dicoba siapa saja, di kebun atau pekarangan mana pun.
Terima kasih kepada Kelompok Perempuan Daun Piawas yang menjadikan lahannya ruang belajar bersama. Semoga apa yang ditanam di Sagu menjadi benih bagi inisiatif serupa di tempat lain.
Judul: Buku Saku Mengenal Hutan Analog
Penulis: Ridho Faizinda, Wanti Astriani, Mohammad Reza

