
Sambas – Bagaimana orang muda memahami kehidupan desa, kepemimpinan perempuan, dan persoalan lingkungan jika hanya mempelajarinya dari ruang kelas? Pengalaman langsung bersama masyarakat bisa menjadi salah satu cara untuk membangun pemahaman tersebut.
Melalui program Youth Initiative: Membangun Kesadaran Kritis Orang Muda Berbasis Pembelajaran Lapangan pada Pengorganisasian Perempuan Tingkat Tapak, Demokrasi Desa, dan Keadilan Ekologis, Gemawan mengajak enam orang muda mengikuti pembelajaran lapangan melalui metode live-in di Desa Penakalan dan Desa Setalik, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, pada 7-13 Oktober 2026.
Selama tujuh hari enam malam, para peserta tinggal bersama keluarga anggota kelompok perempuan dampingan Gemawan. Di Desa Penakalan, peserta tinggal bersama Ibu Pariha dari Kelompok Perempuan Kamboja, sementara di Desa Setalik mereka tinggal bersama Ibu Dahlia dari Kelompok Perempuan Dahlia.
Melalui metode ini, peserta tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga terlibat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Mulai dari mengikuti kegiatan pertanian, membantu pekerjaan di ladang, mengenal mata pencaharian warga, hingga berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan kebudayaan desa.
Pengalaman tersebut membuka ruang bagi orang muda untuk melihat lebih dekat bagaimana masyarakat desa mengelola sumber penghidupan dan mempertahankan praktik-praktik lokal. Peserta, misalnya, belajar mengenai sistem bagi hasil pertanian, proses penyadapan karet, pengelolaan lahan, hingga praktik pertanian berkelanjutan bersama petani setempat.
Di Desa Penakalan, peserta turut mempraktikkan pengolahan lahan bersama petani, mulai dari mencangkul, menyiangi rumput, hingga mengenal pemanfaatan sisa tanaman sebagai pupuk alami. Sementara di Desa Setalik, peserta mempelajari proses pengelolaan kebun karet dan mengenal permainan tradisional serta tradisi saprahan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sambas.
Pembelajaran juga berlangsung melalui aktivitas keseharian masyarakat. Peserta mengikuti kegiatan gotong royong dalam persiapan acara pernikahan, memasak bubur pedas bersama ibu-ibu desa, menghadiri pengajian, serta mengamati pelayanan Posyandu dan kegiatan pendidikan anak usia dini di PAUD setempat.
Rangkaian pengalaman ini memperlihatkan bahwa desa bukan hanya ruang tempat masyarakat tinggal dan bekerja, melainkan juga ruang belajar yang menyimpan pengetahuan, nilai kebersamaan, serta praktik pengelolaan lingkungan yang diwariskan antargenerasi.
Salah satu fokus penting dalam kegiatan ini adalah memahami kepemimpinan dan pengorganisasian perempuan di tingkat desa. Melalui dialog bersama kelompok perempuan Kamboja di Desa Penakalan dan kelompok perempuan Dahlia di Desa Setalik, peserta menggali bagaimana perempuan mengambil peran dalam kehidupan keluarga, kegiatan ekonomi, hingga pengambilan keputusan di lingkungan masyarakat.
Bagi Tika, salah satu peserta Youth Initiative, tinggal bersama masyarakat memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai peran yang dijalankan perempuan desa dalam keseharian.
“Melihat langsung kehidupan petani dan ibu-ibu di sana membuat saya belajar bagaimana mereka memanajemen waktu, mengurus rumah, sekaligus bekerja,” ungkap Tika.
Pengalaman serupa juga dirasakan Aisyah. Ia melihat bagaimana padatnya aktivitas perempuan desa yang harus menjalankan berbagai tanggung jawab dalam satu hari.
“Melihat aktivitas ibu-ibu di rumah yang begitu padat, mulai dari pagi mengurus rumah, kemudian ke Posyandu, dan sore harinya mengikuti pengajian, membuat saya menyadari adanya beban berlapis yang dihadapi perempuan di desa,” tutur Aisyah.
Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk bagi peserta untuk memahami beban ganda dan berbagai tanggung jawab yang dijalankan perempuan. Di tengah aktivitas domestik, perempuan juga mengambil peran dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan kehidupan komunitas.
Diskusi bersama kelompok perempuan juga menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Orang muda berkesempatan mendengarkan pengalaman para perempuan yang selama ini terlibat dalam pengorganisasian komunitas, sekaligus memahami berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan peran sosial dan ekonomi.
Selain mengenal kepemimpinan perempuan, peserta juga mengikuti pembelajaran mengenai kewirausahaan dan pengelolaan keuangan usaha bersama kelompok perempuan. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 28 perempuan desa terlibat dalam diskusi mengenai pengembangan usaha mandiri, penghitungan modal dan keuntungan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran produk.
Melalui simulasi keuangan usaha, peserta dan kelompok perempuan bersama-sama mengidentifikasi berbagai persoalan yang kerap dihadapi pelaku usaha rumahan, seperti belum diperhitungkannya tenaga kerja pribadi, penggunaan bahan baku yang bercampur dengan kebutuhan rumah tangga, hingga pengelolaan biaya produksi.
Bagi orang muda, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa persoalan ekonomi masyarakat desa berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana perempuan mengelola sumber daya, membangun usaha, dan menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Menurut Ersa, Pegiat Gemawan, agenda Youth Initiative merupakan inisiasi untuk menghadirkan ruang belajar bagi orang muda agar dapat melihat secara langsung bagaimana kepemimpinan perempuan desa dibangun dan prinsip keadilan ekologis diperjuangkan di tingkat tapak.
“Harapannya, setelah mengikuti agenda ini, para peserta dapat menjadikan pengalaman yang diperoleh sebagai bekal untuk terlibat dalam upaya membangun keadilan sosial dan lingkungan,” ungkap Ersa.
Selama kegiatan berlangsung, peserta juga melakukan refleksi harian untuk mendiskusikan pengalaman, pengamatan, dan pembelajaran yang diperoleh di masing-masing desa. Proses ini menjadi bagian penting untuk menghubungkan pengalaman lapangan dengan persoalan yang lebih luas, terutama mengenai demokrasi desa, kepemimpinan perempuan, dan keadilan ekologis.
Kegiatan Youth Initiative ditutup pada 13 Oktober 2026 dengan kepulangan seluruh peserta ke Pontianak. Salah satu luaran dari rangkaian pembelajaran ini adalah tulisan mengenai perempuan dan kepemimpinan desa yang disusun oleh peserta berdasarkan pengalaman dan pengamatan selama berada di lapangan.
Melalui ruang belajar semacam ini, Gemawan berupaya mempertemukan orang muda dengan pengalaman dan pengetahuan masyarakat di tingkat tapak. Sebab, memahami persoalan desa tidak cukup hanya dengan membaca atau mendiskusikannya dari kejauhan. Dibutuhkan kesediaan untuk hadir, mendengarkan, berinteraksi, dan belajar bersama masyarakat.
Dari desa, orang muda belajar bahwa pengetahuan tidak hanya tumbuh di ruang kelas, tetapi juga dari tangan-tangan yang mengolah tanah, perempuan yang mengorganisasi komunitas, serta masyarakat yang terus merawat ruang hidupnya.
Penulis: Dastin
