Methodius Kusumahadi: Gus Dur Itu Mujaddid

BEDAH VISI GUS DUR: Master perencanaan, Methodius Kusumahadi dari USC Satunama Yogyakarta membedah visi pemikiran Gus Dur. FOTO: MAHMUDI/GEMAWAN.

Pontianak, GEMAWAN.
Ketua Dewan Pembina USC Satunama Yogyakarta, Methodius Kusumahadi DCM menerangkan sekitar tahun 2013, dirinya pinta The Wahid Institute untuk menjadi anggota dewan pengawasnya.

“Saya dipinta menggali visi pemikiran Kyai Haji (KH) Abduurahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur. Melalui penggalian visinya, kita berusaha tahu pemikiran Gus Dur. Saya dipinta membantu mengartikan pemikiran Gus Dur,” kenang Methodius Kusumahadi yang biasa disapa Pak Meth.

Pak Meth sendiri bertandang ke Pontianak untuk menjadi Fasilitator Strategic Planning (SP) III Gemawan untuk program kerja lembaga dalam kurun tahun 2016-2035. SP III Gemawan dihelat di Hotel Orchardz Pontianak dan Kantor Swandiri Institute Pontianak, 3-9 November 2015.

Ia mengisahkan pertemuannya di gedung Sampoerna Square Jakarta, sekaligus tempat menikahnya Gus Dur di masa silam. Pertemuan dilaksanakan di ruangan yang berada di lantai 12 Sampoerna Square.

Almarhum Gus Dur merupakan mantan Presiden Republik Indonesia masa khidmat (pelayanan) 20 Oktober 1999-23 Juli 2001. Sedangkan The Wahid Institute, lembaga yang didirikan Gus Dur paska tidak menjadi presiden pada 7 September 2004. Sampai saat ini, The Wahid Institute masih dipimpin Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid).

“Saya mulai dengan siapa yang datang yang mencapai 22 orang itu. Ada ibu, anak-anak, suami, ada pula masih pacaran, serta penasihatnya Gus Dur yang rupanya masih muda. Saya meminta 22 orang itu untuk menulis tentang apa yang diingat dan paling berkesan terhadaap pemikiran Gus Dur. Kemudian ditempel di dinding ruangan,” kata Pak Meth.

Pak Meth kemudian meminta ruangan lagi untuk memetakan tempelan-tempelan kertas di dinding itu. Kemudian dibantu bersama 22 orang itu untuk memeras dari berbagai tulisan di tempelan-tempelan kertas itu.

“Melalui pemetaan pendapat di kertas-kertas itu, akhirnya saya bisa memetakan oh ini yang boleh dibilang orang dekat, jauh, dan yang membenci Gus Dur. Memang agak aneh,” papar Pak Meth.

Setelah memeras semua, lanjut Pak Meth, akhirnya ada empat visi. Satu, Gus Dur itu Mujaddid. Dua, Gus Dur itu negarawan. Tiga, Gus Dur itu budayawan. Keempat, Gus Dur ini kemanusiaan. Itu kesimpulannya. Semua orang di ruangan itu, sepakat.

“Mujaddid itu dari bahasa Arab, artinya orang pembawa pembaruan atau pembaharu,” kata Pak Meth.

Dalam budaya Islam, Mujaddid itu orang yang memperbaiki kerusakan yang ada pada urusan atau praktek agama Islam yang dilakukan umat Islam.

Mujaddid tidak membawa agama baru, namun hanyalah membawa metode-metode baru dan memperbaiki metode yang menyimpang berdasarkan Alquran dan hadits, serta memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi pada urusan agama Islam.

Mujaddid muncul pada tiap awal kurun abad tertentu dalam kalender Hijriah. Mujaddid bisa saja seorang ulama, khalifah, cendikiawan, tapi yang pasti mereka orang yang berpengaruh besar dalam menegakkan agama Islam di zamannya. Mujaddid memiliki tugas untuk memperbaiki, membangkitkan dan membersihkan Islam yang dinodai unsur bid’ah, kurafat, dan sebagainya.

Di dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA, sabda Nabi Muhammad SAW; “Sesungguhnya Allah akan menurunkan (orang) setiap permulaan seratus tahun seseorang kepada Umat yang akan (Tajdid-Mujaddid) mengembalikan kegemilangan Agama mereka”. [Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud, Hakim di dalam Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam al-Ma’rifah].

“Usai berhasil menemukan empat visi pemikiran Gus Dur, akhirnya dibagi empat tim untuk membuat rencana ke depan. Mereka bertanya ke saya untuk membuat visi dari empat pemikiran Gus Dur dengan nama besar Bani Gus Dur atau Keluarga Gus Gur, biasanya menamakan The Gusdurian. Mempromosikan Islam yang inklusif, egaliter, anti kekerasan, dan sebagainya untuk disebarkan ke seluruh dunia,” kata Pak Meth.

Dalam analisis Pak Meth, kenapa perlu disebarkan ke seluruh dunia itu, pertama, secara geopolitik dunia kita dikuasai Amerika dan Eropa. Kedua, dari laporan statistik agama yang pertumbuhannya sangat tinggi itu Islam.

“Kalau ada laporan statistik kecenderungan beragama yang pertumbuhannya sangat tinggi itu Islam, maka bawa pemikiran Islam ini ke Eropa dan Amerika. Islamnya Gus Dur itu sangat Islami,” sanjung Pak Meth.

Dikatakannya mengutip sejarah Islam, sebelum abad pertengahan, sangat luar biasa sumbangsih pemikiran dan ilmu pengetahuan Islam bagi dunia. Namun setelah dikuasai pemikiran Timteng yang seakan kembali ke zaman Jahiliah, kegemilangan Islam baru meredup.

“Kenapa Indonesia memiliki warga Islam yang besar, karena Islam yang baik dan mengacu pada 99 Asma Allah. Saya memuji 99 Asma Allah walaupun saya Katolik. Saya fundamental tapi bukan fundamentalis. Karena fundamentalis identik kalau miliknya paling benar,” timpal Pak Meth.

Pak Meth menerangkan Pertemuan umum dalam Nostra Estate tahun 1972, Paus kala itu mengatakan, agama Katolik harus belajar dari kultur dari agama-agama lain yang baik dan benar.

“Paus Benedictus II berkata kalau kamu bekerja supaya orang itu menjadi baik namun dengan dalih mengajak ke Katolik maka itu dosa. Karena kebenaran abadi dari Allah,” kata Pak Meth.

Pak Meth berpendapat yang harus disembah itu Allah atau Tuhan, bukan agama. Kalau berdoa, jangan bayangkan Allah itu berjenggot. Sebab 99 Asma Allah itu artinya nilai-nilai. Di dalam hidup, nilai adalah hal-hal substansial dan fundamental.

“Semua agama itu petunjuk, misalnya cari toilet atau WC di sebuah hotel, ada petunjuk ke kanan ataupun ke kiri, maka jangan buka celana di depan tanda petunjuk itu karena belum sampai ke WC,” kupas Pak Meth.

Diterangkannya seorang agamawan sejati harus terbuka dengan kebenaran di manapun itu. “Maaf ini saya bukan liberal tapi fundamental. Saat ini semua pesantren Nahdlatul Ulama sedang berusaha digalakkan pelajaran kewirausahawan. Supaya tidak mengabaikan penguatan ekonomi,” papar Pak Meth.

Dzikir itu, imbuhnya, sumber pencarian kepada kebenaran. Dzikir mengajak kepada kebaikan melalui doa dan bekerja. Mmembangun mesjid tidak hanya dengan doa saja namun perlu tukang kayu, tukang batu, tukang aduk semen, tukang menyusun bata, dan lain-lain.

“Hukum itu baik, membantu kita supaya mengarah kepada itu. Di sinilah hukum itu menjadi pembatas antara iya dan tidak dan memberi petunjuk,” ulas Pak Meth.

Pada satu pihak, kata dia, harus mengikuti hukum karena menjadi kesepakatan bersama. Namun juga harus tahu kalau hukum itu terbatas.

“Jadi jangan sampai kebijakan publik membatasi kreativitas kita sebagai manusia yang ideal. Maksudnya selain kita mengadopsi teknologi, kalau bisa juga inovasi atau menemukan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ulas Pak Meth. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: