
Di Dusun Binawarsa, Desa Sagu, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, sekelompok perempuan yang selama ini jarang dilibatkan dalam kegiatan publik desa duduk bersama menggambar peta kampung mereka sendiri di atas kertas: sungai yang mengelilingi dusun, jalan, sawah, dan kebun karet yang jadi sumber hidup sehari-hari. Dari situlah Gemawan, bersama Kelompok Perempuan Daun Piawas, memulai riset partisipatif tentang ruang hidup dan sumber penghidupan dengan perspektif Gender dan Inklusi Sosial (GESI).
Riset ini menjadi bagian dari program Peningkatan Peran Kelompok Masyarakat terhadap Penghidupan Desa yang Berkelanjutan di Kalimantan Barat, yang dijalankan Gemawan. Di Sambas, pendampingan sudah berjalan sejak organisasi ini berdiri pada 1999, dengan Kecamatan Galing — yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur — menjadi salah satu titik perhatian karena kerentanan wilayah gambut dan posisi geopolitisnya di perbatasan.
Sungai sebagai Denyut Kehidupan
Bagi warga Sagu, sungai bukan sekadar aliran air. Dari pemetaan partisipatif yang dilakukan bersama Kelompok Daun Piawas, sungai adalah jalur transportasi utama, tempat mencuci dan mandi, sekaligus tempat mengolah hasil kebun — merendam karet dan lada sebelum diolah. Namun riset ini juga merekam perubahan yang dirasakan warga dalam sepuluh tahun terakhir: air sungai yang dulu bisa diminum saat kemarau kini tidak lagi layak konsumsi, populasi ikan menyusut, dan sempat terjadi kematian ikan massal yang diduga terkait limbah perkebunan sawit di kawasan hulu.
Perubahan itu berjalan beriringan dengan pergeseran mata pencaharian. Karet — komoditas yang dulu bahkan dijual warga hingga ke Lundu, Malaysia — kini sebagian ditinggalkan untuk sawit, seiring harga karet yang terus melemah. Sementara itu, usaha tani padi warga masih berada di level subsisten, dengan margin keuntungan yang tipis setelah dipotong biaya pupuk dan pestisida yang terus naik.
Salah satu temuan penting riset ini adalah pola pembagian kerja dalam pertanian. Dari tahap semai, tanam, pemupukan, panen, hingga pascapanen, perempuan mengerjakan porsi terbesar — di luar peran mereka mengurus rumah tangga dan terlibat dalam kegiatan sosial seperti arisan dan pengajian. Laki-laki lebih banyak mengambil bagian pekerjaan bertenaga besar, seperti menebas lahan dan mengangkut hasil panen.
Ketimpangan juga terlihat dalam akses terhadap bantuan. Program pupuk bersubsidi pemerintah, misalnya, hanya bisa diakses rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) — meninggalkan warga di luar kelompok itu tanpa akses yang sama, termasuk sebagian anggota Kelompok Daun Piawas sendiri.
Lewat diskusi kelompok terfokus, muncul pula isu-isu yang jarang dibicarakan terbuka di ruang publik desa: pernikahan dini, kehamilan di luar nikah pada remaja, hingga pengalaman pelecehan seksual di masa lalu. Isu-isu ini, menurut catatan riset, saling terkait dengan tekanan ekonomi keluarga — termasuk anak-anak yang putus sekolah dan sebagian di antaranya memilih menjadi pekerja migran.
Di tengah tantangan itu, Kelompok Daun Piawas juga menunjukkan inisiatif mandiri: mengembangkan demplot padi hitam sebagai upaya diversifikasi hasil tani, meski masih menghadapi kendala teknis seperti benih yang tercampur dengan padi putih. Kelompok merencanakan langkah lanjutan berupa pembuatan pupuk dan pestisida organik sendiri, perluasan lahan demplot, serta pencarian benih baru.
Riset ini turut mendokumentasikan kekayaan pengetahuan lokal Desa Sagu yang mulai terancam punah — mulai dari sistem penentuan waktu tanam lewat rasi bintang, penanganan hama secara tradisional, hingga aturan adat yang dulu melarang penebangan pohon besar. Pengetahuan-pengetahuan ini, menurut Gemawan, penting didokumentasikan sebagai bagian dari kearifan lokal yang berkaitan langsung dengan cara warga dulu menjaga keseimbangan lingkungan mereka.
Memetakan Langkah ke Depan
Gemawan mendorong sejumlah tindak lanjut dari hasil riset ini: perluasan jangkauan kelompok perempuan ke Dusun Gurah, pemerataan akses bantuan pertanian antarkelompok, edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja bekerja sama dengan Puskesmas dan sekolah setempat, serta advokasi perbaikan infrastruktur dan penanganan pencemaran sungai.
“Riset partisipatif seperti ini membuka ruang bagi perempuan yang selama ini jarang didengar untuk bicara tentang kampung mereka sendiri — bukan hanya soal apa yang mereka butuhkan, tapi juga apa yang sudah mereka ketahui dan mereka rintis sendiri,” demikian catatan Wanti Astriani dari hasil riset ini.
