
Gemawan mendorong penguatan peran perempuan dalam membangun ketahanan masyarakat melalui pembangunan yang responsif gender dan adaptif terhadap perubahan iklim di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Pegiat Gemawan, Rahmawati, mengatakan perempuan, khususnya perempuan petani dan perempuan adat, menghadapi kerentanan yang lebih besar akibat keterbatasan akses terhadap informasi iklim, teknologi, sumber daya ekonomi, serta ruang-ruang pengambilan keputusan.
“Padahal, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga, mengelola hasil pertanian, melindungi sumber air, serta mempertahankan pengetahuan lokal terkait pengelolaan sumber daya alam dan adaptasi terhadap perubahan musim,” ujarnya kepada Tribun Pontianak, Rabu 10 Juni 2026.
Menurut Rahmawati, perempuan bukan hanya kelompok yang terdampak oleh perubahan iklim, tetapi juga menjadi aktor penting dalam upaya adaptasi di tingkat komunitas.
“Maka dari itu, perspektif gender perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah,” katanya.
Ia menjelaskan, Kapuas Hulu sebagai wilayah yang memiliki kawasan hutan tropis yang luas, daerah aliran sungai strategis, serta bentang alam penting di Kalimantan Barat, kini menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan iklim.
Perubahan pola musim dan curah hujan, meningkatnya risiko banjir, kekeringan pada musim tertentu, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan menjadi fenomena yang semakin dirasakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan sumber penghidupan pada sektor pertanian dan pemanfaatan sumber daya alam,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat pedesaan menjadi kelompok yang paling rentan karena sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan cuaca dalam menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Di sisi lain, akses masyarakat terhadap informasi iklim yang mudah dipahami dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masih menjadi tantangan.
“Keterbatasan penyebaran informasi yang menjangkau kelompok rentan, terutama perempuan di wilayah pedesaan, menyebabkan banyak masyarakat belum memiliki kapasitas yang memadai untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim,” jelasnya.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Gemawan menggelar dialog multipihak pada Selasa 9 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, lembaga penyedia informasi iklim, organisasi masyarakat sipil, media, serta komunitas masyarakat.
“Forum ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman bersama mengenai dampak perubahan iklim sekaligus mendorong integrasi perspektif gender dalam kebijakan dan program pembangunan daerah,” katanya.
Selain menjadi ruang diskusi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.
Para peserta mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi untuk memperkuat sistem informasi iklim yang lebih inklusif, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memastikan kelompok rentan memperoleh akses yang lebih baik terhadap informasi dan sumber daya pendukung adaptasi.
Secara khusus, dialog ini bertujuan meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan mengenai dampak perubahan iklim terhadap masyarakat, terutama perempuan di wilayah pedesaan.
“Kegiatan ini juga mendorong integrasi perspektif gender ke dalam kebijakan dan program pembangunan daerah, mengidentifikasi peluang penguatan sistem informasi iklim yang inklusif, serta memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, media, dan organisasi masyarakat sipil dalam membangun ketahanan masyarakat,” ujarnya.
Rahmawati berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
“Melalui forum ini, kami berharap terbangun pemahaman bersama mengenai pentingnya mengintegrasikan isu gender dan perubahan iklim dalam pembangunan daerah,” tuturnya.
Selain itu, forum tersebut diharapkan mampu mendorong pengarusutamaan isu gender dan perubahan iklim ke dalam kebijakan serta program pembangunan, memperkuat akses masyarakat terhadap informasi iklim khususnya bagi perempuan petani, serta membangun kolaborasi yang lebih kuat antar pemangku kepentingan.
Dengan demikian, pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan berkeadilan sosial dapat terwujud secara berkelanjutan di Kapuas Hulu.
Sumber: TribunPontianak.co.id dengan judul Banjir hingga Kekeringan Mengintai, Gemawan Perkuat Peran Perempuan dalam Ketahanan Masyarakat, https://pontianak.tribunnews.com/kalbar/1175432/banjir-hingga-kekeringan-mengintai-gemawan-perkuat-peran-perempuan-dalam-ketahanan-masyarakat?page=all.
Penulis: Sahirul Hakim | Editor: Syahroni
