
Kebijakan Kota Pontianak yang berada di delta Sungai Kapuas untuk menjadi pusat perekonomian dan pariwisata telah menciptakan daya tarik investasi dan urbanisasi. Akan tetapi, pengembangan kota juga menghadapi tantangan dengan berkembangnya sektor informal, perlunya memastikan permukiman layak bagi warga, serta penyediaan layanan dasar yang terjangkau dan berkualitas. Ketidaksiapan menyelesaikan tantangan pembangunan perkotaan menyebabkan persoalan baru, salah satunya kehadiran permukiman kumuh.
Sebanyak 28 kawasan kumuh di Pontianak yang tersebar di 6 kecamatan menghadapi kerentanan keadaan (vulnerability of setting) yang muncul dari karakteristik fisik dan posisi geografis wilayah tempat bermukim, maupun kerentanan sistem perkotaan yang diakibatkan oleh terbatasnya akses air bersih, sanitasi dan pengelolaan sampah. Dua kerentanan tersebut diperburuk dengan kerentanan sosial ekonomi, di mana sebagian besar warga memiliki keterbatasan pendapatan.
Berdasar hasil riset Resilient Indonesian Slums Envisioned (RISE) dan pemetaan dalam Workshop Pemangku Kepentingan di Pontianak oleh tim RISE, setidaknya terdapat tiga strategi guna mengatasi berbagai kerentanan tersebut, yaitu (1) Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengurangan risiko bencana; (2) Pengembangan infrastruktur berbasis komunitas yang tangguh; dan (3) Pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Adapun dokumen Strategi Membangun Ketangguhan Sosial Ekologi dan Kebahagiaan Warga di Kawasan Tepi Sungai Kota Pontianak dapat diakses sebagai berikut:
