Umme Menjaga Tradisi

Desa Semanga berada di Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas. Berjarak ± 65  km dari ibukota Kabupaten Sambas, ada dua akses yang dapat digunakan untuk sampai di desa yang berada di tepian Sungai Sambas ini, yakni jalur darat dan air. Jika menggunakan jalur darat, kendaraan yang bisa digunakan hanyalah sepeda motor dengan waktu tempuh 60 menit. Sementara jika menggunakan jalur air, maka kita akan diajak mengarungi Sungai Sambas selama 45 menit. Desa Semanga memiliki keunikan geografis, dibelah oleh aliran Sungai Sambas dan bersebelahan dengan Gunung Senujuh, demikian penduduk lokal menamai bukit yang merupakan sumber air bagi sebagian penduduk Semanga.

Mayoritas masyarakat Semanga bekerja di perkebunan sawit, hanya segelintir saja yang masih berkebun karet dan mengolah lahan pertanian. Lazimnya komunitas yang hidup di bantaran sungai, masyarakat Semanga juga bergantung pada sungai, selain sebagai akses transportasi utama untuk menjangkau antar dusun, sungai juga dimanfaatkan untuk keperluan mandi dan mencari ikan. Sayangnya, air sungai tersebut sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi sebagai sumber air minum masyarakat. Jumlah ikan yang diperoleh masyarakat dari sungai pun sudah sangat berkurang, sebagaimana dituturkan penduduk setempat. Berdasarkan riset Ecoton di lokasi ini, terdapat sejumlah polutan yang mempengaruhi penurunan kualitas air sungai.

Untuk memenuhi kebutuhan air minumnya, penduduk desa membeli air kemasan. Adapun sumber mata air di Gunung Senujuh hanya mampu memenuhi kebutuhan air satu dusun saja, yang memang tepat berada di kaki Senujuh.

Umme, Perempuan, dan Industrialisasi 

Jauh sebelum masuknya perkebunan sawit, mayoritas masyarakat di sana berumme (bahasa lokal untuk bertani), juga menanam sayur-mayur di lahan kelola mereka. Namun saat ini sudah banyak lahan yang tidak dikelola, hal ini diakibatkan bencana banjir dan hama yang menggerogoti wilayah kelola mereka sehingga menyebabkan gagal panen. Oleh karenanya masyarakat yang sudah mulai frustasi akibat terus-menerus gagal panen memutuskan beralih bekerja di perkebunan.

Berumme tak bisa dilepaskan dari identitas komunal masyarakat Semanga. Di umme, banyak varietas dapat dikembangkan, sehingga masyarakat tidak bergantung hanya pada satu komoditas. Di umme, masyarakat menjadi tuan di tanahnya sendiri. Umme mewariskan penghargaan terhadap perbedaan, itu tampak dari beragamnya varietas tanaman. Sehingga meski industrialisasi terjadi, mengembalikan ruang hidup dan sumber penghidupan bagi masyarakat merupakan hal mutlak untuk dilakukan. Ini penting untuk mencegah ketergantungan masyarakat pada satu komoditas dan mencegah mereka menjadi buruh di kampung sendiri. Agar alam tidak semakin memburuk, warisan tradisi turun-temurun dari masa lalu itu harus dikembalikan, meskipun tidak akan sama persis seperti sedia kala. 

Dalam advokasinya, Gemawan melakukan pendekatan melalui skema pembentukan kelompok perempuan. Ini bukan tanpa alasan. Perempuan menjadi sosok yang paling dekat dengan alam. Di Sambas, perempuanlah yang memiliki akses terhadap faktor produksi, merekalah petani, mereka pula pemilik umme. Sedemikian sehingga perspektif keberlanjutan begitu melekat pada perempuan. Ibu Mardiyah, misalnya, anggota Kelompok Umak-Umak Peduli Aik (KUMPAI) yang masih mengelola lahannya dengan menanam padi. “Kita ini lahir dari padi, nenek moyang kita, orangtua kita menghidupi kita dengan berumme. Jika kita tidak berumme sekarang, siapa lagi yang akan mempertahankan budaya orangtua kita?” ujarnya kepada tim Gemawan yang berkunjung ke Semanga. 

Bagi Mardiyah, berumme itu bagian dari kisah perjalanan kehidupan. Sehingga, ketika ia tidak berumme lagi, tidak akan ada yang mengingat perjuangan orang tua dan nenek moyangnya. Ia tidak ingin budaya berumme ini hilang, karena berumme bukan hanya sebatas menanam padi dan menghasilkan uang saja, melainkan identitas bagi subjek yang beraktivitas di dalamnya. Berumme menjadi ruang interaksi sosial melalui tradisi atau kearifan lokal yang mereka jalani. Umme merupakan wadah sosial dan ekonomi, sebuah ruang pertemuan dan kolaborasi untuk membahas banyak hal. Dengan kata lain, umme bicara mengenai livelihoods. Selain di umme, anggota KUMPAI juga mulai menanam sayur memanfaatkan ruang pada halaman rumahnya.

Mengorganisir Perempuan, Mengorganisir Masyarakat

KUMPAI diinisiasi para perempuan Semanga pada tahun 2019 dengan semangat mempertahankan kearifan lokal mereka, umme. Di saat mayoritas masyarakat Desa Semanga memutuskan menjadi buruh, kelompok ini tetap berusaha menghidupkan aktivitas berumme. Selain menjaga budaya bertani, ibu-ibu anggota KUMPAI juga aktif dalam kampanye menjaga keberlanjutan alam. Contohnya adalah menginisiasi gerakan peduli sungai dengan tidak membuang sampah di sungai. Satu minggu sekali, mereka berkeliling desa mengambil sampah di setiap rumah masyarakat untuk dikumpulkan pada satu titik dan kemudian dibakar. “Sungai sudah cukup tercemar, jangan lagi diperparah dengan membuang sampah kita ke sungai,” ujar mereka. 

Kelompok Umak-umak Peduli Aik menunjukan bahwa perempuan mampu menjadi aktor perubahan. Melalui gerakan kolektif, mereka mampu mempengaruhi masyarakat lainnya yang sudah mulai sadar untuk terlibat menjaga kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan. Sudah banyak ibu-ibu dan pelajar yang mau terlibat dalam gerakan ini, meskipun memang perlu kesabaran untuk melihat perkembangannya. 

Sumber:

Dimuat pertama kali di laman Suara Pemred Kalbar pada 12 Maret 2021 dengan judul yang sama. Dimuat kembali dengan beberapa penyesuaian dan perbaikan diksi.

Penulis: Muhammad Yamin Adysaputra

Editor: Mohammad Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP