Ritual “Sengkelan” Dayak Desa Awali Pemetaan Bersama Gemawan

Rumpun Budaya Dayak Iban Sintang

POTONG AYAM: Pemimpin ritual adat Sengkelan, Nali bersiap memotong ayam di titik lokasi awal pemetaan tata ruang desa Mangat Baru di perbatasan dengan desa Emparung kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kamis (18/02/2016) pagi. Foto: Aloysius Kusnadi/GEMAWAN.

Sintang, GEMAWAN.
Sekitar 35 orang berasal dari warga desa dan tim pemetaan partisipatif lembaga Gemawan, mengikuti ritual adat “Sengkelan” Dayak Desa, sub suku dari Dayak Iban yang ada di kabupaten Sintang. Bertempat di titik awal yang menjadi batas desa Mangat dengan desa Emparu, Kecamatan Dedai, Kamis (18/02/2016) pagi.

Huruf “e” di kosakata “Dayak Desa”, seperti bunyi “e” di kata “sesuatu”. Jadi walaupun tulisan di huruf latin “Dayak Desa” sama dengan kosakata “desa”, namun bunyi “e” antara kosakata itu berlainan.

Adat Sengkelan ini ada syaratnya, satu di antaranya hanya boleh dipimpin orang sudah “Balu” (duda karena istrinya meninggal bukan karena bercerai). Jadi bukan dipimpin Tumenggung atau Demang adat.

Ritual adat Sengkelan menggunakan sarana dua ayam betina warna bulu hitam dan putih. Menurut kepercataan warga Dayak Desa, lebih afdol pakai ayam yang bulunya terbalik-balik, tujuannya kalau ada balak (petaka) akan mental.

“Ritual adat Sengkelan ini meminta kepada Lianggana yang dipercayai penguasa tanah dalam budaya rumpun Dayak Iban, termasuk di dalamnya keluarga suku Dayak Desa,” kata Nali, pemimpin ritual adat Sengkelan di lokasi acara.

Kedua ayam beda warna bulu itu dipotong untuk diambil darahnya. Kemudian darah ayam ditampung dalam wadah khusus, paling umum sekarang pakai plastik.

“Setiap melewati titip batas awal koordinat yang direkam dengan alat GPS, diteteskan darah ayam yang dipotong itu,” tutur Nali.

Daging ayam yang dipotong, kemudian dimasak dengan cara direbus. Ketika pelaksaan pemetaan tata ruang desa istirahat, dimakan bersama-sama.

“Ke-35 orang yang ikut program pemetaan tata ruang desa mendapat bagian dari daging ayam itu. Karena hanya dua ekor ayam rebus ya maaf kalau hanya dapat bagain daging ayam sedikit-sedikit,” ungkap Aloysius Kusnadi, Staf Distric Officer Gemawan Sintang, didampingi tim Gemawan pusat dan warga desa Mangat Baru.

Aloysius Kusnadi menerangkan karena membelah hutan, ladang, jurang, dan ngarai, beberapa warga desa mempersenjatai diri dengan parang dan senapan angin. Parang itu digunakan membelah ranting-ranting pohon di hutan. Sedangkan senapan angin digunakan untuk menakut-nakuti binatang buas di hutan.

Beberapa tim pemetaan yang dibagi beberapa kelompok, ada yang memukan sarang dan telur burung langka yang senget sehingga terancam jatuh ke tanah. Akhirnya dibetulkan dan dikuatkan tempat sarang itu. Tujuannya, supaya ketika induknya ketika mengerami telur di sarangnya, tidak jatuh.

“Walaupun nafas ngos-ngosan namun karena semangat kebersamaan bersama warga desa, pemetaan tata ruang desa dapat terlaksana dengan baik. Kami juga berbagi makan dan minuman selama di lapangan,” kenang Aloysius Kusnadi. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

PAGE TOP