Peta Hasil Drone Lebih Akurat

MERAKIT DRONE: Instruktur dari Swandiri Institute, A’la Maududi (kedua dari kanan) melatih kontingen dari enam SKPD di lingkungan Pemkab Kayong Utara dan Pemprov Kalbar di Aula Bappeda KKU, Kamis (3/12/2015). FOTO: MAHMUDI/GEMAWAN.

Sukadana, GEMAWAN.
Kebutuhan akan peta dengan tingkat presisi yang akurat, pemerintah sejauh ini masih mengandalkan data dari citra satelit. Sebagai baseline data, peta citra satelit tentu sangat baik untuk memudahkan pemerintah dalam hal perencanaan.

“Akan tetapi untuk kebutuhan yang lebih detail, peta yang dihasilkan Drone lebih akurat,” tegas Arif Munandar, Divisi Campaign dan Advokasi dari Swandiri Institute.

Terutama, jelas Arif Munandar, jika pemerintah membutuhkan peta-peta tematik seperti sebaran wilayah pertanian, wilayah pemukiman, dan wilayah desa. Peta yang dihasilkan Drone itu tinggal diintegrasikan dengan peta administratif.

“Di samping itu, hasil penelitian dan ujicoba Swandiri Institute, Drone juga dapat dikembangkan untuk mendeteksi secara dini kesehatan padi,” tutur Air Munandar yang pernah menjabat Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Provinsi Jambi.

Secara umum, penggunaan Drone untuk pemetaan paling tidak membutuhkan beberapa keterampilan. Di antaranya ihwal mekanik, fungsi tenaga mekanik untuk mempersiapkan dan memastikan Drone dalam kondisi siap terbang.

Kedua, lanjut Arif Munandar, Ground Control Station (GCS). Fungsi DCS untuk mempersiapkan misi terbang sekaligus pemandu pilot dalam proses pemetaan.

Ketiga, pilot sebagaimana layaknya pilot, dialah yang akan mengendalikan Drone terbang dengan remote control. Utamanya saat take off (terbang) dan landing (mendarat), sebab ketika Drone sudah take off kemudian pada titik koordinat tertentu sebagaimana misi terbang yang telah disiapkan oleh DCS, Drone akan mengikuti jalur terbang itu secara autopilot.

Keempat, processing (memproses) data. Setelah Drone mengambil gambar, kemudian foto-foto yang telah direkam itu dijahit dengan menggunakan sofware Agisotf Photoscanhingga menghasilkan sebuah peta lanskap.

“Secara umum alur materi, mulai mengenal Drone dan kegunaannya. Kemudian tentang elektronika dan mekanika Drone. Selanjutnya GDC, set up kamera, simulasi terbang, dan praktik terbang. Kali terakhir, memproses data,” papar Arif Munandar.

Pelatihan penggunaan wahana tanpa awak (Drone) untuk aparatur teknis Pemerintah Kabupaten Kayong Utara. Dilaksanakan atas kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kayong Utara (KKU) bersama Swandiri Institute selama 30 November-5 Desember 2015. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: