
Kegiatan Penguatan Kepemimpinan Kolektif Perempuan yang dilaksanakan pada 30 dan 31 Januari 2026 di Desa Teluk Batang Kota menjadi ruang belajar sekaligus ruang berbagi cerita yang bermakna bagi para peserta. Dalam kegiatan ini, perempuan dari Kelompok Srikandi Teluk Batang dan Kelompok Karya Tani tidak hanya belajar tentang kerja sama dan pengambilan keputusan bersama, tetapi juga menyampaikan terkait persoalan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana menjadi terbuka ketika peserta diminta menuliskan kekecewaan mereka terhadap kondisi yang terjadi di desa. Beberapa peserta menceritakan kekhawatiran tentang pembangunan di Penebang yang menyebabkan gunung dan hutan menjadi gundul. Beberapa peserta menceritakan kekhawatiran tentang hutan yang semakin banyak ditebang. Bagi mereka, hutan bukan hanya soal pohon, namun juga sumber air dan penopang alam.
Menurut Fitria sebagai anggota kelompok Srikandi Teluk Batang, menyebutkan bahwa kondisi yang terjadi saat ini ialah hutan yang sudah tidak lagi banyak pepohonan karena penebangan yang terjadi.
“Sekarang hutan sudah banyak di tebang. Kalau hujan deras, air cepat turun dan keruh.” tambahnya.
Selain itu, persoalan air bersih menjadi topik yang amat dirasakan dampaknya. Karena desa berada dekat dengan laut, sumber air yang tersedia cenderung asin. Saat musim kemarau, kondisi ini semakin terasa karena warga semakin sulit mendapatkan air yang layak untuk kebutuhan sehari-hari. Air yang ada tidak selalu bisa digunakan untuk minum dan memasak.
Beberapa peserta menyampaikan harapan agar ada fasilitas air bor atau solusi lain yang bisa menyediakan air tawar atau layak konsumsi. “Kalau kemarau, air makin asin dan susah cari yang bagus, kalaupun untuk mandi dan memasak harus beli air yang harganya gak murah.”
Menurut salah satu peserta, Dewi dari kelompok Karya Tani menyampaikan harapan agar ada fasilitas air bor atau solusi lain yang bisa menyediakan air tawar atau layak konsumsi.
“Kalau kemarau, air makin asin dan susah cari yang bagus, kalaupun untuk mandi dan memasak harus beli air yang harganya gak murah.”imbuhnya.
Melalui diskusi ini, para perempuan mulai menyadari bahwa masalah lingkungan dan air bersih bukan hanya keluhan pribadi, namun bisa menjadi bahan yang diperjuangkan bersama dalam forum desa. Kegiatan ini menumbuhkan keberanian untuk bersuara dan mendorong keterlibatan perempuan dalam menjaga lingkungan serta memperjuangkan kebutuhan dasar masayarakat demi masa depan Desa Teluk Batang Kota yang lebih baik.
Penulis: Dmitri G. I., pegiat Gemawan.
