
Pisang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Desa Matang Segarau, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas. Hampir di setiap sudut desa, tanaman pisang tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Namun, di balik kelimpahan itu, tersimpan persoalan yang tak sedikit dirasakan petani dan warga: harga jual rendah dan hasil panen yang kerap tak terserap pasar secara optimal.
Selama ini, pemanfaatan pisang di desa tersebut masih terbatas. Buahnya dijual segar, daunnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, sementara bagian lain sering kali terbuang begitu saja. Kondisi ini mendorong upaya untuk mencari cara agar komoditas lokal tersebut bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Salah satu langkah nyata dilakukan melalui pelatihan pembuatan biskuit berbahan tepung pisang yang melibatkan ibu-ibu PKK Teratai Desa Matang Segarau.
Ide dari Dapur
Pelatihan yang berlangsung pada November 2022 ini diikuti oleh 30 ibu-ibu PKK yang dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Kegiatan dikemas secara sederhana dan interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung mempraktikkan setiap tahapan pengolahan.
Mulai dari proses pembuatan tepung pisang secara konvensional—mengeringkan bahan dengan sinar matahari, menggiling, hingga mengayaknya—hingga meracik adonan biskuit dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di dapur rumah tangga.
Bagi sebagian peserta, pengalaman ini terasa baru. Selama ini, tepung pisang bahkan dianggap tidak memiliki kegunaan. Melalui pelatihan tersebut, pandangan itu perlahan berubah. Pisang yang sebelumnya hanya dijual mentah kini bisa diolah menjadi camilan yang lebih menarik dan bernilai.
Biskuit Tepung Pisang: Proses Sederhana, Hasil Menjanjikan
Biskuit tepung pisang dibuat tanpa peralatan khusus. Oven konvensional, baskom, spatula, dan peralatan dapur lainnya sudah cukup untuk menghasilkan produk yang layak konsumsi. Dari sisi rasa dan tekstur, hasil biskuit dinilai cukup baik dan dapat diterima oleh para peserta.
Kesederhanaan proses menjadi keunggulan tersendiri. Selain mudah dipraktikkan ulang di rumah, biaya produksi relatif terjangkau. Tak heran, dalam sesi diskusi, para peserta mulai membahas kemungkinan pengembangan produk ke arah usaha rumahan.
Pertanyaan seputar peluang pasar, penentuan harga jual, hingga penyimpanan produk pun bermunculan. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak berhenti pada aspek keterampilan teknis, tetapi juga memantik minat kewirausahaan di tingkat desa.
Membuka Peluang Ekonomi Lokal
Dengan pendekatan yang tepat, bahan pangan yang selama ini dianggap biasa dapat memiliki nilai lebih dan membuka ruang usaha baru, khususnya bagi perempuan di desa.
Antusiasme ibu-ibu PKK selama kegiatan berlangsung menjadi sinyal positif. Bukan tidak mungkin, dari kegiatan sederhana ini akan lahir produk olahan khas desa yang mampu bersaing di pasar lokal, bahkan lebih luas.
Dari Desa Matang Segarau, cerita ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus berangkat dari teknologi canggih. Terkadang, ia cukup dimulai dari dapur rumah, dengan memaksimalkan apa yang sudah tersedia di sekitar.
Sumber: Unira Malang
Gambar: Canva
