Refleksi Akhir Tahun 2021 BRGM, Laili: Kita Harus Bergerak Bersama Menggerakkan Seluruh Kekuatan dan Potensi!

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) RI menggelar Refleksi Akhir Tahun 2021. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (30/12) bertujuan untuk membahas kilas-balik, pembelajaran, dan gagasan perbaikan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove yang dilakukan BRGM selama 2021. Para stakeholder terkait juga diundang sebagai penanggap pada kegiatan yang dihelat secara hybrid. Menurut Sekretaris BRGM, Dr. Ir. Ayu Dewi Utari, dimaksudkan agar terjadi diskusi dan terdapat masukan bagi BRGM, serta bentuk pertanggungjawaban terhadap masyarakat luas.

Sejumlah stakeholder yang hadir yakni Dirjen Pengendalian, Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Ir. Sigit Reliantoro, M.Sc; Direktur Irigasi dan Rawa Kementerian PUPR, Ir. Suparji, S.St., MT; Sekretaris Dirjen PDASRH KLHK, Ir. Sri Handayaningsih, M.Sc; Asisten Deputi Perubahan Iklim dan Kebencanaan Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kus Prisetyahadi, S.Pi., M.Si., Ph.D; Koordinator Kelompok Restorasi Dit Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Hery Gunawan Daulay, S.Pi., M.Si; Wagub Kalimantan Tengah, H. Edy Pratowo, S.Sos., MM., Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Riau; akademisi UI, Dr. Suraya Afif; perwakilan masyarakat, dan civil society organization (CSO).

Ir. Hartono Prawiraatmaja, M.Sc., Kepala BRGM, dalam sambutannya menyebutkan pasca terbitnya Peraturan Presiden No. 120 Tahun 2020, BRGM menerima mandat tambahan melakukan restorasi gambut seluas 1.200.000 hektar dan mempercepat rehabilitasi mangrove seluas 600.000 hektar. “Ini bukan tugas yang ringan, karena itu capaian di periode pertama perlu kita tingkatkan dan perlu menjalin kerjasama yang lebih erat dengan semua stakeholder,” jelasnya.

Refleksi Akhir Tahun 2021 BRGM ini juga menjadi rangkaian dari peresmian Grha GAMMA, sebagai sentra aktivitas restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove di Indonesia. “GAMMA adalah singkatan dari gambut dan mangrove,” selanya dalam sambutan.

Pemaparan materi dalam kegiatan disampaikan oleh narasumber dari para deputi BRGM secara satu per satu, mulai dari Deputi I hingga Deputi IV.

Sebagai salah satu penanggap, Laili Khairnur, Direktur Gemawan, menyatakan bahwa desain yang dilakukan BRGM dalam mengelola program memiliki kekhasan. “Khususnya dengan Deputi III, konteks desain programnya memiliki teori perubahan yang clear, dipadukan dengan keakuratan data lapangan. Ini membuat BRGM berbeda,” papar aktivis perempuan ini.

Hal lain yang juga disorotinya adalah kolaborasi yang dilakukan BRGM dengan masyarakat sipil dalam implementasi komitmen global atas perubahan iklim. Capaian besar yang ingin dicapai BRGM, menurut Laili, memerlukan kekuatan bersama. “Pendekatan kolaborasi multi-stakeholder yang dilakukan BRGM sangatlah penting, karena menjadi bagian collaborative governance,” jelasnya lagi

“Tagline BRGM: Memulihkan Gambut-Memulihkan Kemanusiaan, ini menunjukkan – seperti yang tadi disampaikan Deputi III, Ibu Myrna – bahwa urusan masyarakat itu harus clear dulu perspektif kita dalam konteks melakukan pemberdayaan. Ini menjadi kebijakan yang sangat kuat di dalam aktivitas-aktivitas di lapangan,” tegasnya mengutip yang disampaikan Deputi III BRGM, Dr. Myrna Safitri.

Laili juga menekankan arti penting penguatan gender equality dan sosial inklusi, terutama partisipasi perempuan dan kelompok-kelompok perempuan lainnya, terhadap akses kontrol, partisipasi dan juga manfaat lainnya yang didapat dari program. “Yang tak kalah penting, kami belajar dari Kalimantan Barat yang multietnik, ini menjadi peluang menjaga pluralisme dan perdamaian di tingkat masyarakat,” tambahnya. Laili berharap agar gambut dan mangrove dapat menjadi pemersatu dalam perdamaian.

“Yang tak kalah penting juga meraih public awareness, khususnya bagi generasi muda, yang akan menjadi digital movement dalam isu gambut dan mangrove,” sarannya. 

Dalam pandangan Laili, ada 3 kata kunci yang dapat menjadi pijakan dalam aksi restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove, yakni climate, culture, dan creativity. “Tidak hanya think globally, act locally juga penting,” ucapnya. Secara kultur, perubahan revolusioner memiliki pijakan, yakni masyarakat, karena mangrove dan gambut merupakan lifestyle and culture masyarakat di tingkat tapak. “Untuk menunjangnya, maka perlu ada Mangrove Educational Module untuk masyarakat dan generasi muda, Mangrove Cultural Center, adaptasi dan perlindungan mangrove dan gambut dalam konteks blue carbon, serta komunikasi strategis dalam rangka mendorong public awareness dan advokasi publik,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP