Mari Berbicara Tentang Kita Oleh: Ireng Maulana )* Teman penulis pernah berkata : “ Cine tetap Cine “, Penulis sempat terpengaruh dengan ekspresi ini, lalu kemudian menemukan gagasan bahwa bisa juga dikatakan “ Melayu tetap Melayu “, “ Dayak tetap Dayak”, atau “Jawa tetap Jawa “. Identitas yang melekat pada diri kita dinamis keberadaannya, karena nanti orang akan tetap mengenal kita bukan karena kesukuan tadi tetapi bisa saja dalam bentuk yang lain.
Cap yang diberikan oleh kelompok lain kepada kita disebabkan karena cara bergaul yang belum baik atau karena cara kumpul yang belum bisa diterima oleh orang lain. Bisa saja disebabkan karena kita jarang “berbaur”. Kita Sulit bagi penulis untuk mendapatkan kejelasan yang definitif terhadap apa yang sedang terjadi. Bukankah orang Tionghoa telah mengatualisasikan diri mereka sebagai bagian dari dinamika sosial daerah ini ?. Bukankah mereka juga memahami kondisi Daerah ini? Bukankah orang Tionghoa sebenarnya tidak hanya berdiam diri ? Bukankah orang Tionghoa telah dan ingin terlibat dalam dinamika sosial , ekonomi, politik dan kebudayaan di daerah ini, secara utuh ? . Dan bukankah orang Tionghoa adalah bagian dari sukses dan gagal daerah ini ? Suara orang Tionghoa seolah – olah tidak lantang dan tidak kritis, mereka justru seolah – olah bukan bagian dari dinamika kehidupan didaerah ini. Apakah demikian ? . Untuk membangun Daerah ini, tempat kita lahir, besar dan hidup, prasyarat memberikan ruang yang cukup untuk membangun social – trust dinilai sangat penting. Realitas kehidupan sangat jelas memberikan potret kuatnya tarik – menarik kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan perebutan sumber daya dan jelas ada ketidakadilan !. Pemahaman yang lebih jauh terletak kepada keberadaan kita dalam proses – proses untuk mendapatkannya , mengenai dan melihat kembali sosok perilaku kita. Apabila diukur dengan kejujuran nurani seharusnya kita tidak mendapat tempat di daerah ini, karena kita semua sama – sama tidak jujur dan sama – sama tidak mau membangun saling kepercayaan secara utuh dan saling tidak mau percaya . Telah terbangun kubu – kubu untuk pertempuran yang tidak sah, dan semua itu terjadi hanya untuk membuktikan bahwa orang Tionghoa adalah kelompok masyarakat sendiri sedangkan kita bagian sendiri yang terpisahkan. untuk apa pembuktian ini ?. padahal kita adalah web of life – jejaring kehidupan. Sudah terbangun semacam pemikiran bahwa sebaik-baiknya tempat untuk mereka adalah celah untuk dieksploitasi karena mereka telah mengeksploitasi , orang Tionghoa harus diperas dan orang tionghoa pun berpikiran bahwa orang lain harus dimanfaatkan karena mereka telah melakukan pemerasan. Sedemikian besar kemarahan dan kebencian diantara kedua – duanya sehingga membuat siklus balas membalas dalam ketidakadilan. Perang tanpa musuh ini selalu dimulai dan berakhir kepada saling memanfaatkan dan saling mempedaya satu sama lainnya. Uang yang dikeluarkan dan keuntungan yang diambil adalah jawaban untuk menjinakkan ketegangan dua kubu sebagai usaha menyelamatkan kepentingan masing-masing. Tapi pernahkah kita peduli dengan perasaan warga tionghoa lainnya yang sebenarnya tidak sanggup dalam situasi tersebut karena mereka adalah kaum miskin yang tidak mampu ? atau pernahkah kita bertanya bahwa ada masyarakat yang juga tidak tahan dengan praktek-praktek semacam itu. Siapa yang jahat ? kepada siapa pun yang bersenjatakan uang untuk membeli kepercayaan dan kemudian menggantinya dengan rendahnya harga diri masing-masing, mereka telah melakukan pelecehan, penistaan sekaligus pengkhianatan sehingga telah terjadi pengkondisian keadaan yang menyakitkan bagi hidup dan kehidupan, mengakarnya stigma dan melemahkan rasa pecaya diantaranya. Rasanya sudah cukup bagi orang Tionghoa untuk terus menerus dicap sebagai kaum yang banyak duit, kaya tapi tidak peduli dengan lingkungan sosialnya, padahal banyak juga orang tionghoa yang miskin, melarat dan hidup bermasyarakat dengan tulus. Sudah tiba waktunya bagi sebagian orang Tionghoa tidak bertahan dalam ketidakadilan yang menimpa diri mereka dengan bertamengkan uang yang mereka miliki, karena ada sebagian yang lain adalah orang tionghoa yang tidak berkecukupan dan tidak berduit, yang tidak akan tahan kalau diperas. Sadar atau tidak sadar praktek yang tidak bijaksana tersebut semakin lama akan mengarah kepada pembelian terhadap mental dan telah menyulitkan bagi sebagian yang lain, sehingga Perjuangan untuk mengikis habis stigma akan menemui jalan buntu kembali. Penulis pikir tidak semua hal harus dibayar dengan uang dan tidak perlu ada harganya, karena ada bagian dalam kehidupan sosial yang kita hanya perlu ketulusan dan rasa percaya apa adanya kita sebagai sesama warga. Kepahitan harus terus menerus ditanggung dari generasi ke generasi anak cucu kelak apabila semua dari kita keras kepala . Kekuatan Analisis terhadap praktek saling mendustakan seperti yang sudah pernah kita lakoni sudah tentu ditempatkan kepada kedangkalan cara berpikir dan ketidakdewasaan perilaku kita bersama, ketidakmampuan untuk memberikan gerak yang cukup sebagai upaya mengakhiri praktek – praktek keliru keduanya. Oleh karena itulah Perhatian serius orang Tionghoa dan kita terhadap keberanian untuk membuka ruang – ruang komunikasi konstruktif sebagai agenda besar, penulis nilai mendasar untuk segera dilakukan. Dengan memulai proses pembaharuan interaksi sosial yang lebih proporsional dalam keseharian, sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan, dengan melakukan pembaharuan interaksi sosial yang lebih jujur dan apa adanya, dengan pembaharuan interaksi sosial yang lebih dinamis dalam keinginan membangun kembali social trust (kepercayaan sosial) bersama. Dan semua itu sewajarnya kita usahakan karena memperhatiakan keberadaan kita semua sebagai bagian dari daerah ini. (*Beraktifitas di Lembaga Gemawan ) |