Memodifikasi Iklim Mikro

POPULASI penduduk di daerah perkotaan semakin banyak, sedangkan areal hutan menipis. Dampaknya terhadap kondisi cuaca. “Kota yang sehat mestinya memiliki sejumlah lahan terbuka seperti hutan kota,” kata Heri Mustari, Campaigner Lembaga Gemawan (Pengembangan Masyarakat Swadaya dan Mandiri) kepada Equator, Jumat (31/7) lalu.

Sebagai hutan kota, lahan ini bermanfaat menjadi sumber udara bersih untuk mengimbangi pencemaran udara dan suara bising dari mesin pabrik atau kendaraan bermotor. Hutan kota pada posisi sebagai taman dan RTH ini kebanyakan diisi tanaman hias yang mempercantik kota. Taman juga bermanfaat sebagai muara atau ruang bersama bagi kegiatan masyarakat dari berbagai kelompok umur dan berbagai kalangan.

“RTH di kota memiliki tiga manfaat sekaligus yakni ekologis, estetika, dan sosial. Untuk itu, masyarakat dan pemerintah harusnya memahami soal ini dan segera melakukan tindakan nyata mewujudkan RTH di kota, sesuai jumlah penduduk,” paparnya.

Menurut Heri, RTH sangat penting, mengingat tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan sangat penting dalam alam, yaitu dapat dikategorikan menjadi fungsi landscape (sosial dan fisik), fungsi lingkungan (ekologi) dan fungsi estetika (keindahan).

RTH dapat dibagi dalam aspek pertanian perkotaan yang fungsi utamanya untuk mendapatkan hasilnya untuk konsumsi yang disebut dengan hasil pertanian kota seperti hasil hortikultura. Aspek lain adalah sebagai taman kota yang berfungsi untuk keindahan dan interaksi sosial. Fungsi lainnya adalah peningkatan kualitas lingkungan.

Selain memperluas RTH, di setiap kota juga perlu mengembangkan hutan kota. Hutan kota dapat memberikan kenyamanan dan kenikmatan kepada masyarakatnya. Apalagi bila Pemkot dapat mengembangkan dan membangun hutan kota yang berstruktur  dengan keanekaragam tumbuhan dan jumlah yang banyak serta ditata dengan baik. Dengan demikian, hutan kota dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang dikehendaki, karena hutan kota dapat memodifikasi iklim mikro.

Hutan kota banyak memberikan lingkungan sekitarnya relatif lebih nyaman. Di dalam hutan akan kita rasakan lingkungannya lebih nyaman dibandingkan dengan di luar hutan kota. Terpenting, perlu menanam jenis-jenis khas daerah sehingga hutan kotanya akan mempunyai ciri spesifik, mungkin tiap daerah sudah menentukan maskot jenis tanaman.

“Jangan lupa peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan sangat dominan, oleh karena itu dalam semua kesempatan perempuan perlu diikutkan,” tandas Heri. (rox)

 

Sumber: Harian Equator, Juli 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: