Pesona Kopi Liberika Podorukun Jadi Andalan Petani Sejak Puluhan Tahun

Malam itu, hujan mengguyur Desa Podorukun cukup deras. Namun tak menyurutkan semangat para petani untuk datang berdiskusi dengan salah satu lembaga pendamping masyarakat desa, yakni Lembaga Gemawan.

Salah satu petani warga Dusun Sukorejo, Desa Podorukun yang datang malam itu, Slamet mengungkapkan saat ini, potensi yang paling baik dikembangkan oleh masyarakat, yaitu kebun kopi. Pasalnya, kopi memang sedang viral. Dan kopinya adalah liberika.

Menurutnya, untuk wilayah Dusun Sukorejo, mungkin lahan kopi miliknya yang saat ini paling produktif, dengan luasan sekitar satu seperempat hektare.

“Kemarin sempat lebih dari itu. Tapi karena masyarakat di sini  sempat latah. Ada orang menanam karet, kita ikut menanam karet. Kopi yang satu hektare lebih itu kita gunakan untuk menanam karet, kopinya mati. Tapi alhamdulillah sekarang karena sudah kita tebang, kita bisa menanam ulang,” ujarnya, Jumat (6/11) malam.

Diketahui, masyarakat Dusun Sukorejo juga menanam sayur dalam skala kecil untuk konsumsi pribadi atau rumah tangga, yaitu kebun cabe, kacang, dan terong. Sementara untuk padi, saat ini lahannya agak berkurang.

Selain kopi liberika, ada jenis kopi lain yang ditanam oleh masyarakat Podorukun, yakni kopi robusta. Namun, tidak sebanyak varian liberika.

“Kalau untuk masyarakat sendiri, tidak memilih kopi liberika atau kopi jenis lainnya, yang penting kopinya bagus, buahnya lebat. Itu saja yang dipikirkan oleh masyarakat,” tutur Slamet.

Sebagai petani kopi, ia juga mengangankan beberapa tahun ke depan, kopi Podorukun bisa di bawah naungan BUMDes. Misalnya, BUMDes bisa menampung stok biji atau bubuk kopi se-Kabupaten Kayong. Dengan begitu, mungkin bisa menaikkan taraf hidup masyarakat.

“Harapan ke depan, karena Bupati sudah mendeklarasikan Hari Kopi Kayong Utara, diharapkan pemerintah kabupaten dan dinas-dinas yang ada di kabupaten bisa meminum kopi Podorukun di kantornya,” harap Slamet.

Sementara itu, Program Manajer Perkumpulan Gemawan, Ridho Faizinda, menyatakan bahwa kedatangan pihaknya ke Desa Podorukun bertujuan mendata produk lokal apa saja yang bisa dikembangkan di desa binaan mereka. Sebab, Gemawan sudah sekitar sepuluh tahun mendampingi Desa Podorukun.

“Kita ada tiga kegiatan. Kampung meeting, journalist trip, dan assessment untuk local commodity development. Kampung meeting ini untuk koordinasi,” ucapnya.

“Jadi, koordinasi sekalian asesmen untuk produk lokal apa aja yang ada di desa ini, yang mungkin bisa kita bantu untuk dikembangkan. Karena Gemawan sudah mulai untuk buka marketplace untuk memasarkan produk-produk lokal untuk desa dampingan yang memiliki produk lokal. Jadi, kita mencoba untuk membantu mereka memasarkan produk lokal,” ungkap Ridho.

Ia menuturkan bahwa salah satu fokus program adalah untuk perlindungan lahan sebagai sumber penghidupan masyarakat. Jadi, bagaimana Gemawan membangun komunikasi dengan desa dan masyarakat untuk melakukan perlindungan lahan.

Khusus perlindungan lahan, bisa dilakukan dengan skema. Misalnya untuk kawasan hutan, masyarakat bisa menggunakan skema perhutanan sosial.

Sementara untuk daerah Area Penggunaan Lain (APL), bisa menggunakan kesepakatan bersama, bisa dengan peraturan dari desa atau kesepakatan bersama kelompok.

“Yang baru kita mulai sekarang adalah assessment local commodity development. Jadi, produk-produk lokal apa saja yang mereka punyan yang bisa kita kembangkan. Jadi kemaren waktu diskusi, ternyata kopi yang menajdi salah satu andalan di desa ini,” terang Ridho.

Meskipun Desa Podorukun sudah bisa dikategorikan sebagai desa yang maju, namun Gemawan tetap melakukan pendampingan dalam bentuk kerja sama, terutama untuk memasarkan produk-produk lokal seperti kopi liberika.

“Karena kemaren ternyata masih ada masalah pemetaan, dan lain-lain. Kita tetap dampingi untuk membantu mereka, kalau misalnya ada masalah-masalah yang akan datang, misalnya dari perusahaan tertentu,” ucapnya.

Diketahui, Gemawan sudah mendampingi banyak desa di Kalimantan Barat. Menurut Ridho, pihaknya menargetkan sekitar 100 desa yang harus didampingi, salah satunya Desa Podorukun.

Untuk kriteria pendampingan, perempuan hitam manis itu menyebutkan beberapa hal, terutama untuk desa yang berada di kawasan hutan.

“Kita lihat desa-desa yang desa kawasan hutan, kita cari desa yang punya kawasan hutan. Kita dampingi perhutanan sosialnya. Kalau mereka tidak tinggal di kawasan hutan atau memiliki area kawasan hutan, kita coba untuk perlindungan lahan yang menjadi sumber penghidupan mereka, seperti sawah, ladang, perkebunan,” tutupnya. (shella)

 

Sumber:

Dirilis pertama kali di laman www.suarapemredkalbar.com dengan judul Pesona Kopi Liberika Podorukun Jadi Andalan Petani Sejak Puluhan Tahun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP