Closing Workshop Perempuan dan Air; Penguatan Perempuan untuk Keadilan dan Keberlanjutan

Perempuan memiliki peran sentral dalam kehidupan, tidak hanya keluarga, perempuan bahkan berperan besar dalam konteks yang lebih luas. Sayangnya, dalam budaya masyarakat yang patriarkis, peran perempuan seakan hanya berada di wilayah domestik. Kesadaran akan peran penting perempuan secara perlahan mulai bergerak. Dicantumkannya kesetaraan gender dalam Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi daya dorong berarti untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting perempuan.

“Dalam pembangunan dunia, kita merujuk pada SDGs. Ada 17 Tujuan,  diantaranya adalah Kesetaraan gender di tujuan ke 5 dan Akse terhadap Air Bersih dan Sanitasi pada tujuan 6. Pembangunan di Indonesia pun merujuk pada hal tersebut, juga Kesepakatan Paris terkait Climate Change,” ujar Direktur Gemawan, Laili Khairnur, dalam pembukaan Closing Workshop Perempuan dan Air yang dihadiri perwakilan kelompok perempuan yang berasal dari dua belas desa di Kabupaten Sambas.

Kondisi geografis yang dikitari sungai, menyebabkan masyarakat Sambas sangat menggantungkan sumber penghidupan pada sungai. “Sejangkung, misalnya, dikelilingi oleh sungai, dan sungai dijadikan sumber kehidupan, dan sumber pendapatan. Realitasnya, kualitas sungai kita tidak sebaik yang diharapkan,” ujarnya dalam kegiatan yang dilaksanakan tiga hari sejak Jumat (18/9). “Pasti ada orang-orang yang peduli, dan saya yakin itu adalah ibu-ibu semua. Realitasnya, yang memainkan peran di kampung adalah ibu-ibu,” tambahnya.

Menurut Laili, kegiatan kali ini bertujuan untuk memperkuat kelompok perempuan, terutama mengenai aspek-aspek legalitas dan managemen organisasi perempuan. “Penting untuk ibu-ibu mendapatkan informasi dan akses terhadap program-program yang ada di desa ataupun kabupaten,” ujarnya menjelaskan.

Sejumlah rangkaian kegiatan telah dilaksanakan bersama berbagai kelompok yang berasal dari beberapa desa di Sambas. Sejak tahapan pembentukan kelompok, pemantauan kualitas air, pertemuan rutin kelompok, pengelolaan sampah, penyediaan tempat komposter, hingga berbagai pelatihan seperti pembuatan pupuk organik, pelatihan penggunaan popok cuci pakai, dan sebagainya.

Perwakilan kelompok perempuan yang hadir dalam kegiatan ini berasal dari berbagai latar belakang mata pencaharian. Variasi itu menjadi kekayaan tersendiri yang harus dibanggakan. “Kita harus mengenalkan karya kaum perempuan dan keindahan alam Sambas kepada dunia,” ucap Laili memotivasi para peserta.

Energi berbagai pihak sangat diperlukan agar terjadi akselerasi dalam perbaikan dan keberlanjutan lingkungan. “Perlu sinergi dari berbagai pihak untuk melindungi lingkungan dan menjaga keberlangsungan masa depan,” papar Laili dalam kegiatan yang didukung oleh Elsam, Ecoton, dan BothEnds ini. Karena itulah workshop bertajuk Perempuan dan Air: Penguatan Perlindungan Sumber Daya Air dan Keberlanjutan Hidup menghadirkan narasumber dari berbagai pihak terkait, seperti OPD Pemkab Sambas, Pemerintah Desa, universitas, serta masyarakat sipil. Secara khusus, kegiatan yang dilaksanakan hingga Minggu (20/9) diharapkan dapat mengintegrasikan kegiatan program dalam strategi kebijakan kabupaten untuk mendorong dan menyiapkan pengembangan kelompok di tingkat desa.

Mengingat kondisi pandemi yang masih terus berlangsung, kegiatan dilaksanakan secara online dan offline. Narasumber yang berasal dari luar kota hadir dengan fasilitas video conference, dipadu dengan pemaparan secara offline oleh narasumber yang berasal dari dalam kota. “Kita harus tetap waspada, karena Covid-19 tidak kelihatan. Harus selalu pakai masker, jaga jarak,” pesannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

PAGE TOP