Sinergi untuk Penguatan Perempuan dan Tata Kelola Pertanian Berbasis Kearifan Lokal

Mother-Earth, tentu biasa kita dengar istilah tersebut. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada alam, perempuan dan alam itu ibarat ibu dan anak, sebagai identitas diri dan sosial, sumber kehidupan, bersamaan sebagai penjaga tradisi dan lingkungan itu sendiri. Apatah lagi kini dalam realitas pertanian pangan dan pelestari hutan, khususnya di Kalimantan Barat, peran perempuan melebihi peran laki-laki dalam proses dan praktiknya. Jaminan keamanan ketersediaan pangan di rumah bergantung pada peran besar perempuan dari kegiatan budidaya maupun pemanfaatan kawasan hutan.

Dengan dukungan BothEnds, Gemawan mengadakan diskusi tentang kondisi perempuan, pertanian pangan lokal dan tata guna lahan pada Rabu (02/09). Diskusi ini bertujuan untuk membangun kesepahaman dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat, khususnya perempuan yang masih setia dengan pilihan sustainability livelihood.

Mengambil tempat di Hotel Mercure Pontianak, kegiatan bertemakan Perempuan dan Keberlanjutan Sumber Penghidupan; Ancaman, Peluang, dan Sinergi menghadirkan narasumber dari Dinas Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalbar, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, serta GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Kalbar.

Sekaitan dengan tata kelola pertanian, menurut Direktur Gemawan, Laili Khairnur, secara khusus diangkat mengenai pertanian tradisional. “Faktanya, di lapangan, di Kalbar yang lebih dominan adalah pertanian secara tradisional,” ujarnya mengawali diskusi yang mengundang CSO di Kalbar serta kelompok perempuan dari Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kubu Raya.

Pandemi Covid-19 menjadi cambuk bagi kita untuk selalu siap menghadapi potensi hadirnya ancaman baru. “FAO memprediksi hampir 822 juta orang akan mengalami kelaparan paska Covid-19, baik karena produksi makanan yang berkurang atau karena terhambatnya distribusi makanan ke wilayah kota. Sehubungan dengan produksi pangan, berdasarkan data dari gerakan perempuan global, perempuan berkontribusi mencapai hampir 80% dalam produksi pangan, meski yang kembali ke mereka hanya 30-40%,” imbuhnya memaparkan.

“Menurut kami, realitas pengelolaan alam yang ada – dalam perspektif perempuan – masih bersifat maskulin, masih eksploitatif. Berbeda dengan perspektif perempuan yang ingin melanjutkan,” jelasnya lagi. Pertanian pangan tidak bisa hanya dilihat dari perspektif laki-laki, karena pada kenyataannya, perempuan berperan sangat besar.

Salah satu sistem tradisional keberlanjutan sumber penghidupan bagi perempuan adalah dengan huma/uma/umme atau ladang.  Huma/Uma/Umme adalah wadah sosial dan ekonomi bagi perempuan. Ia berperan sebagai ruang pertemuan, ruang kolaborasi, chat-room bahkan dari sana mereka bisa merancang pemenuhan ekonomi perempuan secara bersama-sama. “Ada istilah belale’, yakni kelompok dapat menawarkan jasa energinya secara berkelompok kepada warga desa lainnya yang meminta bantuan tenaga kerja,” jelasnya lagi, “Dan yang lebih penting adalah menjaga kearifan lokal mengenai pengelolaan pertanian pangan dan lansekap pertanian secara keseluruhan di desa, karena semua informasi tersebut kini menjadi milik mereka,” tuturnya lagi.

Pentingnya eksistensi huma/uma/umme akan memberikan kontribusi besar bagi masa depan perempuan, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Perlu sinergi dari setiap elemen untuk menjaga keberadaan tata kelola pertanian tradisional ini. karena itulah, dukungan bagi kelompok masyarakat, khususnya perempuan yang masih setia dalam menjalankan praktek ini menjadi penting. “Bertani tidak hanya makna ekonomis semata tapi nilai yang ada dalam konsep huma/uma/umme itu sendiri,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: