Refleksi Hari Jadi di Tengah Pandemi; Menulis Sejarah Masa Depan

Rekam Jejak Perjalanan Gemawan

Peringatan Hari Jadi Gemawan tahun ini dirasakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.Betapa tidak, merebaknya pandemi Covid-19 tak hanya merubah budaya interaksi tiap-tiap individu manusia, termasuk merubah budaya organisasi. Aktivitas rutin berjumpa dengan komunitas masyarakat di lapangan tak ayal berubah menjadi komunikasi via aplikasi-aplikasi daring. Begitu pula diskusi dalam rangka refleksi Hari Jadi 21 Tahun Gemawan yang dilaksanakan pada 27 April 2020 lalu, berlangsung secara daring demi melakukan social and physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Korona.

Bagi seorang manusia, 21 tahun adalah usia muda, masa ketika energi dan kreativitas yang tak pernah habis.Kata “muda” tentu memiliki perspektif. Menurut Direktur Lembaga Gemawan, Laili Khairnur, muda bisa berhubungan dengan 2 konteks: pertama, umur; dan kedua, semangat atau pemikiran. Melewati masa lebih dari dua dekade – untuk menggapai impian masyarakat swadaya dan mandiri – tentu bukan perkara mudah, perlu semangat dan energ1 yang terus baru. Semangat itu yang membuat 21 Tahun Gemawan merupakan usia muda. Faktanya pula, lika-liku perjalanan, berbagai aral melintang, pasang-surut gelombang, tantangan demi tantangan yang tak pernah berhenti ternyata semakin memperkokoh keberadaan Gemawan sebagai salah satu Organisasi Masyarakat Sipil dikenal di Kalimantan Barat.

Pertama kali berdiri pada 21 April 1999, Gemawan merupakan respon anak muda terhadap tantangan zaman pada saat itu.Pasca Reformasi, sekelompok aktivis muda berinisiatif mendirikan sebuah organisasi sebagai saluran idealisme mereka. Organisasi itu menjadi rumah sekaligus kantor mereka, alat juang sekaligus motor penggerak kehidupan mereka. Organisasi itu adalah Gemawan, yang mereka lahirkan, besarkan, dan jaga hingga sekarang.

Hari jadi merupakan momentum tepat untuk melakukan refleksi perjalanan sebuah entitas – baik manusia atau lembaga, demikian pula dengan Gemawan. Board Gemawan, Hermawansyah, mengatakan bahwa refleksi tahunan ini merupakan upaya menjaga roh gerakan Gemawansebagai sebuah entitas sosial dan entitas organisasi yang selalu konsisten untuk mencapai visi dan misinya.Dalam menjelaskan tentang perjalanan Gemawan, ia membaginya menjadi beberapa fase, yaitu:

  1. 1999-2001,merupakan fase transformasi dari gerakan mahasiswa – karena Gemawan digerakkan oleh aktivis-aktivis mahasiswa – menjadi gerakan sosial atau masyarakat sipil;
  2. 2001-2005,masa ketika Gemawan masih mencari format. Ada tiga divisi yang secara otonom menggerakkan Gemawan saat itu. Kehadiran Laili Khairnur pada periode ini juga memberikan atmosfer gerakan baru, sepertimembangun koneksi dengan jaringan masyarakat sipil di luar Kalbar. Saat itu, Gemawan juga mulai dikenal berjejaring dengan Gerakan Anti Korupsi ditingkat Nasional seperti
  3. 2006-2010, pada fase ini, Gemawan leading di jaringan dan advokasi. Hal itu dikarenakan – salah satunya – go international-nya dengan melakukan advokasi atas hak-hak asasi manusia, hak lingkungan dan serta hukum masyarakat yang terdampak dari investasi perkebunan sawit skala besar di Kalbar.
  4. 2011-2015,pada periode ini, Gemawan melakukan modifikasi strategi dengan pendekatan mainstreaming accsess. Gemawan melakukan perluasan pengaruh kepada pemerintah, jaringan nasional maupun internasional. Sehingga pada peringatan Hari Jadi ke-14 Gemawan, tema yang diusung adalah The New Wave of Social Movement in Indonesia.Gemawan juga mulai melebarkan sayap ke Sintang dan Kapuas Hulu.
  5. 2016-2020,pada era ini, Gemawan kembali melakukan positioningisu, misalnya mendirikan SAKSI (Sekolah Anti Korupsi), Sekolah Desa, Sekolah Tata Ruang Desa, Sekolah Perempuan. Gemawan menjadi bagian sejarah perhutanan sosial di Kalbar dan Indonesia.

Sejak dulu, Gemawan selalu bekerja berdasarkan dua pendekatan, yaitu pendekatan berbasis wilayah dan pendekatan berbasis isu.Sehingga setiap programnya pasti menyentuh masyarakat dalam episentrum yang sangat luas.Demikian pula programnya menggunakan pendekatan pemberdayaan di level basis dan advokasi di level kebijakan.Inovasi program dan penguatan networkmenjadi pondasi dalam implementasinya.Karena itulah selalu diperlukan peningkatan kualitas para pegiat Gemawan.Seperti yang disampaikan Hermawansyah, bahwa pekerjaan aktivis, secara umum, adalah membaca, menulis, berbicara, dan berjejaring dan mengimplementasikan menjadi kerja nyata.

Menjadi aktivis adalah pilihan. Dan ketika pilihan itu sudah diambil, maka tugas sebagai agen perubahan tak terbatas hanya pada menjalankan tugas-tugas di dalam organisasinya, termasuk tanggungjawab mempengaruhi, pembentukan opini publik, pengorganisasian masyarakat, menggalan jaringan dan advokasi untuk mengubah, mempertahankan, serta mendorong lahirnya kebijakan publik yang melindungi kepentingan masyarakat luas.

 

Tantangan Kekinian; Revolusi Industri 4.0

Masa depan bukanlah tentang sesuatu yang kita dapatkan, melainkan tentang sesuatu yang kita perjuangkan. Pilar-pilar perjuangan Gemawan – kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, keadilan gender, keadilan ekologis, dan karakter budaya – meniscayakan geliat Gemawan untuk selalu mampu menjawab tantangan zaman.

Menurut Rhenald Kasali, disruption adalah inovasi. Inilah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan dengan yang baru.Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien dan lebih bermanfaat.

Seperti yang disampaikan Rhenald Kasali, disrupsi adalah syarat utama jika kita tidak ingin kandas di tengah Revolusi Industri. Globalisasi telah mendorong kesamaan masyarakat dunia dalam banyak hal, setiap individu sudah terintegrasi dalam model sosial dan pola komunikasi yang bahkan tak ada beda. Dunia berubah karena big data, gerakan akar rumput berubah perang tagar, banjir informasi tanpa filtrasi yang melahirkan post-truth.

Tantangan ini yang menjadi tugas baru Gemawan: mengurai benang kusut peradaban modern dan membumikannya kepada khalayak di pedesaan. Maka, jika menggunakan kategorisasi Hermawansyah sebelumnya, era disrupsi dan anak-anak milenial merupakan tantangan baru Gemawan di fase ke-6. Bagaimana memastikan millenial dan generasi Z tidak tercerabut dari masalah-masalah riel dalam dunia nyata, meskipun model perjuangan mereka ke depan tentulah berbeda dengan generasi sebelumnya.

 

*) Sumber: Diskusi Internal Gemawan Refleksi 21 Tahun Gemawan yang dibawakan oleh Board Gemawan, Hermawansyah, secara daring pada tanggal 27 April 2020.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

New to site? Create an Account


Login

Lost Password?

Already have an account? Login


Signup

%d bloggers like this: