Derita Milenial Di Negeri Asap; Refleksi Kabut Asap 2019

*Oleh: Rahmawati

Millenials seringkali dianggap sebagai generasi pembawa perubahan dan solutor terhadap berbagai persoalan yang dihadapi negeri. Namun di sisi lain millenials juga dianggap kelompok generasi yang apatis dengan realitas yang terjadi dalam masyarakat. Khusus di Kalbar ini banyak kritik yang diberikan untuk millenials karena  suara mereka dianggap tidak cukup lantang dalam menyuarakan bencana asap yang kemarin September 2019 terjadi di Kalbar. Millenials  terlalu banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya dan  digital gaming ketimbang peka dan kritis terhadap realitas yang sedang terjadi.

Sebagai generasi millennial sudah saatnya kita menganggap persoalan asap sebagai musuh bersama yang harus dicari langkah penyelesaian oleh semua pihak termasuk kaum millenials. Karena kejadian ini merupakan kejadian yang berulang hampir setiap tahun, terutama dimusim kemarau melanda dan berdampak besar bagi kehidupan kita millenials, milleneal diliburkan sekolahnya, kehilangan waktu mendapatkan ilmu dan pelajaran, maskapai penerbangan yang terhambat penerbangannya membuat mobilitas menjadi terbatas, ISPA, masyarakat tidak leluasa dalam beraktivitas, dan bahkan yang lebih tragisnya adanya bayi yang meninggal karena asap ini ( terutama Jambi, Riau) , salah satu opini di Kompas  selasa, 24/9/2019 menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harusnya sudah masuk dalam kategori kejahatan ekosida karena terjadi upaya sistematis perusakan lingkungan.

Millenials harus melihat bencana kabut asap sebagai akibat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut secara utuh, yakni dengan membongkar akar dari masalah asap ini sendiri. Banyak penyebab karhutla diantaranya factor alam dikarenakan musim kemarau yang panjang dan pengaruh elnino. Penyebab lain adalah factor manusia, harus kita akui bahwa ada oknum masyarakat yang dengan sengaja atau lalai membuang puntung rokok di area rentan terbakar atau membakar lahan untuk berkebun dengan skala usaha (diatas 25 ha) yang dalam beberapa temuan bekerjasama dengan salah satu pihak usaha.

Penyebab paling bahaya sebenarnya adalah akibat kebijakan yang salah terkait tata kelola hutan dan lahan yang ada di Kalimantan Barat dengan keluarnya izin-izin yang  melanggar prinsip-prinsip daya dukung dan tampung lingkungan. Faktor lain adalah kelalaian pihak usaha dalam menjaga wilayah konsensi yang harusnya mereka lindungi sebagai konsekwensi izin yang mereka dapatkan. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan industry berbasis lahan yang disinyalir melakukan pembakaran menyebabkan tidak adanya efek jera bagi pelaku.

Dari beberapa artikel baik itu media cetak atau Koran yang menyebutkan data ada 52 perusahaan dengan total luas kawasan 8.931 ha ysng telah disegel oleh pemerintah diantaranya wilayah Jambi, 8 di Riau, 1 perusahaan di Sumatera Selatan, 30 di Kalbar, 9 di Kaltim, 9 di Kalteng. Hal ini tentu menunjukkan bahwa pemerintah hanya bisa menyegel namun takut untuk mencabut izinnya. Kita mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Gubernur Kalbar yang berani memberikan sanksi administrative sampai kearah pencabutan izin melalui pergub no 39/2019.

Dalam kasus karhutla yang menimbulkan asap ini banyak sekali hak-hak yang dikorbankan terutama masyarakat sipil adapun hak yang hilang yaitu hak untuk  mendapat penghidupan yang layak, hak untuk beraktifitas, hak untuk hidup sehat serta hak untuk memperoleh pendidikan dan banyak hak lainnya.

Apa yang harus dilakukan oleh generasi millenials ???

Pertama, generasi millenials  harus mulai berperilaku dan punya perspektif menjaga dan peduli dengan lingkungan , tanggap dan sigap dengan kondisi alam yang terjadi dalam kasus asap ini dengan mempersiapkan diri dan memikirkan upaya early warning system.

Kedua, bersikap kritis dan mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk tegas dan sigap dalam menangani asap ini baik yang sifatnya early warning system, tanggap darurat dan pencegahan serta penegakan hukum yang tidak tebang pilih. Ini bisa dilakukan dengan cara-cara millenials seperti menggunakan dunia maya untuk menyampaikan aspirasi yang kritis dan cerdas, membuat sarana kampanye ala millenals.

Ketiga, bersinergi dengan parapihak untuk bertindak strategis kedepan dalam menangani masalah-masalah lingkungan dan sosial dengan melakukan tindakan nyata dalam masyarakat. Millenials  harus mampu memberikan sumbangsih diaras pemikiran, tenaga, dan komitmen pembangunan di negeri ini.

Mari menggunakan cara-cara yang millenials dalam melihat fenomena asap disekitar kita atau kita terus menderita di negeri asap ini!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

%d bloggers like this: