Gemawan, 20 Tahun Berjuang Mendorong Perubahan

muhammad Isa

Gemawan News - Pembentukan lembaga Pasca Reformasi, idealnya mesti memiliki tujuan dan fungsi. Pertama, organisasi yang mampu melanjutkan agenda reformasi. Kedua, menampung saluran semangat revolusioner para aktivisnya. Ketiga, bagaimana organisasi tersebut menjadi alat perjuangan. “Pasca Reformasi 1998, pertanyaan mendasar adalah, langkah apa berikutnya yang akan dilakukan oleh aktivis pergerakan pada waktu itu?” ungkap Hermawansyah.

 

Muhammad Isa, Hermawansyah, dan Uray Endang Kusumajaya, yang pada waktu itu merupakan teman seperjuangan, sepanjang tahun 1997-1999, sering melakukan diskusi untuk membangun strategi serta mencoba mencari peluang lebih besar.

 

Dari rangkaian dan proses menyatukan gerakan perjuangan pasca reformasi disepakati membutuhkan alat perjuangan untuk melanjutkan cita-cita pendiri bangsa dan reformasi. Muncul beberapa opsi nama pada waktu itu. Hingga akhirnya dapat nama Lembaga Pengembangan Masyarakat Swadaya dan Mandiri.

 

 “Gemawan, nama yang tepat” kata Uray Endang Kusumajaya, tahun 1999 pada waktu itu ditemukan nama yang tepat dalam Kamus Bahasa Indonesia.

 

Pada bulan april 1999, Gemawan terbentuk sebagai tanggapan terhadap rangkaian kejadian menghadapi perubahan. “Proses kembali menyatukan gerakan perjuangan pasca reformasi butuh waktu panjang, Gemawan adalah wadah perjuangan dan percepatan perubahan, dari sini kita memulai,” kata Isa.

 

Gemawan lahir sebagai refleksi dari gerakan mahasiswa pascareformasi. Yang tak menemukan gerak setelah tumbangnya Orde Baru. Karenanya, harus ada wadah bersama membuat gerakan. Terutama bagi para mantan aktivis. Gemawan jadi alternatif gerakan, dimana bisa berkontribusi dalam menciptakan tatanan pemerintahan yang lebih adil. Gemawan adalah wadah perjuangan menyalurkan idealisme. Pada proses ideologisasi pada taraf yang sama. Sehingga mimpi bersama dibangun di Gemawan.

 

Ada tiga kekhasan dalam Gemawan. Pertama, dalam konteks kelahiran lembaga. Kedua, orang yang berhimpun dalam lembaga. Ketiga, filosofi gerakan. Kelahiran Gemawan seiring dengan semangat perubahan pada era reformasi. “Ini roh dan idealisme yang harus menjadi pegangan pegiat Gemawan,” kata Muhammad Isa

 

Pada tahun 2000, Laili Khairnur, hadir sebagai manajer yang tangguh. Menjadi motor penggerak dalam penataan manajemen, dia mampu dan berhasil. Sehingga Gemawan semakin baik seperti sekarang. Sebagai sebuah organisasi perjuangan, Kader Gemawan harus bekerja sepenuhnya bagi organisasi. Dalam diri para kader Gemawan harus ada keyakinan. Bahwa, para pendiri Gemawan bakal memberikan peluang pada generasi selanjutnya. Para kader di Gemawan memahami pola tersebut. “Kita bebaskan kawan-kawan memilih sesuai dengan minat mereka di mana,” kata Laili Khainur, Direktur Gemawan.

 

Pada fase 1999 s/d 2005 Gemawan memusatkan perhatian pada gerakan anti-korupsi, advokasi kebijakan, pemberdayaan masyarakat, otonomi desa, dan pemberdayaan kelompok perempuan dan bahkan bantuan kemanusiaan. Pada fase 2005 s/d sekarang selain itu Gemawan juga memperkuat masyarakat lokal untuk berjuang mempertahankan haknya atas lahan dan hutan karena pesatnya perkembangan industri ekstraktif berbasis hutan dan lahan. Gemawan juga melakukan pengkaderan dan memprakarsai berbagai kelompok masyarakat di tingkat akar rumput dan mendorong OMS lokal untuk mempromosikan pembangunan partisipatif dan transparansi. Gemawan juga turut terlibat secara intensif dalam kampanye internasional untuk melindungi lahan masyarakat lokal, mempromosikan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan serta mendorong perubahan kebijakan terhadap investasi industri ekstraktif.

 

Gemawan: Organisasi Kader, Advokasi dan Pemberdayaan

 

Gemawan merupakan awan yang terdiri dari air dan tetes air. Peristiwa awal April tahun 1999, menjadi penanda bagi lahirnya sebuah gerakan pemberdayaan dan wadah perjuangan. Yang diusung para aktivis mahasiswa pascareformasi 1998. Dari diskusi-diskusi kecil hingga kesepahaman pembentukan lembaga pemberdayaan yang memiliki semangat perubahan, keswadayaan dan kemandirian. Diskusi pada waktu itu, berlandaskan filosofi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, nilai dan semangat Nasionalisme. Ada tiga hal yang didorong. Tri Sakti. Yaitu, kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan karakter budaya.

 

 

Gemawan merupakan gerakan menuju masyarakat swadaya atau mandiri. Filosofi itu sangat ideal. Nilainya tinggi. Tidak akan pernah selesai. Sebab, membangun masyarakat yang dapat berdiri atas dasar kemampuan dan inisiatif, suatu proses yang terus berlanjut.  Terutama dalam berbagai konteks ekonomi, penguasaan sumber daya alam (SDA), politik, pendidikan, kesehatan dan masalah kesejahteraan sosial lainnya. Filosofi itu tidak akan pernah selesai dalam konteks apa pun.  Hal itu sejalan dengan konsep para pendiri bangsa. Dalam konteks membangun kesejahteraan masyarakat yang mandiri. Isu itu sampai kapan pun masih aktual. Ini yang khas dari Gemawan.

 

Sebagai gerakan masyarakat Swandiri, Gemawan harus membangun jejaring. Tidak bisa orang per orang. Dari filosofi gerakan sudah terkandung maksud bahwa, lembaga ini harus membangun jaringan. Bekerja sama dengan pihak lain. Itu filosofi gerakan yang jauh kedepan. Bahwa, segala sesuatu tidak bisa dikerjakan sendiri. Harus melibatkan banyak pihak. Melibatkan kerja sama antarlembaga dalam berbagai tingkatan dan isu yang dimiliki.

 

Sebagai sebuah organisasi profesional, dua puluh tahun Gemawan dituntun melalui Perencanaan Strategis (strategic planning) yang dilakukan pada tahun 2000, 2005, 2010 dan 2015 yang menghasilkan arah dan tujuan organisasi yang dirumuskan dalam Nilai, Visi dan Misi Gemawan.

 

Sampai saat ini Gemawan bekerja secara intensif di 12 Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat dalam berbagai isu perubahan yang mencakup kedaulatan dan kemandirian ekonomi rakyat, kepribadian budaya lokal, good governance, keadilan gender, dan keadilan lingkungan berbasis pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat.

 

“Menuju Masyarakat Swadaya dan Mandiri” Perempuan Tangguh, Rakyat Kuat, Desa Berdaya

 

(Penyusun MZ, disadur dari berbagai sumber & Drafting Buku Sejarah Gemawan 2015)

About Author: Rahma wati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>