Pelatihan Teknik Produksi Tenun di Sambas

SONGKET SAMBAS: Kaum ibu-ibu dan remaja putri Serumpun di pelatihan teknik produksi tenun di kediaman ibu Budiana, Ketua Serumpun yang dihelat di Sambas, 25-27 Mei 2016. Foto: Siti Rahmawati/GEMAWAN.

 

Sambas, GEMAWAN.

Serikat Perempuan Pantai Utara (Serumpun), binaan lembaga Gemawan, mengadakan pelatihan teknik produksi tenun. Didukung program SWIFT Asia kerjasama ASPPUK, Hivos, EU, dan Gemawan di Sambas, 25-27 Mei 2016.

“Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) dan non governmental organizations (NGO) di delapan provinsi di Indonesia, telah melakukan berbagai inisiatif peningkatan kapasitas bagi penenun guna mengejar ketertinggalan teknik produksi tenun tangan,” kata Siti Rahmawati, penggiat Gemawan di ruang kerjanya, Selasa (31/05/2016).

Pelatihan peningkatan kapasitas itu, lanjutnya,  seperti pelatihan pewarnaan alam dasar dan lanjutan, pelatihan green finance, pelatihan pemasaran dan toko, pelatihan standar kualitas tenun via good tenun practices (GTP), hingga pelatihan eco-desain.

“Kain tenun merupakan salah satu produk yang banyak dibuat penduduk di belahan Nusantara. Corak dan warna serta motofnya kian kaya dan beraneka ragam,” kupas Siti Rahmawati.

Warna-warna yang memancar darinya sebagian besar pula terbuat dari ramuan dahan dan daun pohon yang tumbuh di sekitarnya. Bahkan warna alami yang terpancar darinya tidak kalah dengan ragam sintetis, sehingga mampu meneduhkan mata yang melihatnya.

“Sayangnya aneka warna alami dari berbagai daerah yang menghiasi kain tenun sedikit demi-sedikit redup seiring perjalanan waktu. Kini, derap konsumersime yang serba instan dan menjamurnya produk tenun massal yang diproduksi pabrik dengan bahan sintetis, membuat kain tenun yang sarat nilai kian terpinggirkan,” keluh Siti Rahmawati.

Konsumen, imbuhnya, tidak mempunyai pilihan lain, karena memang minimnya informasi akan bahaya maraknya produk tenun sintetis dibanding tenun yang ramah lingkungan.

Sementara dari sisi produksi di tingkat penenun tradisional, rata-rata mereka hanya menyelesaikan satu kain sarung dan selendang dalam 20 hari, kalau fokus dan lembur. Namun terkadang juga, satu bulan kalau dikerjakan sambilan.

“Artinya, teknik produskinya belum banyak mengalami perubahan. Di sisi lain, pola, dan motif tenunnya belum banyak menyediakan alternatif bagi konsumen,” papar Siti Rahmawati.

Melalui berbagai pelatihan yang digalakkan Serumpun dan Gemawan, para penenun perlahan mampu meningkatkan standar kwalitas tenunnya. Terlihat dari mulai meningkatnya volume dan tersedianya alternatif motif tenun yang ditawarkan kepada konsumen.

Melengkapi kemampuan penenun dan pendamping dalam peningkatan kwalitas tenun, ASPPUK bekerja sama dengan Hivos dan korsorsium pelaksana program SCP (ASPPUK, CTI, NTFP) mengadakan pelatihan teknik produksi tenun di delapan provinsi.

Pelatihan teknik produksi ini diperuntukkan bagi kelompok pengrajin tenun di delapan propinsi dengan melibatkan trainer local (pelatih setempat) yang memiliki keahlian dalam bidang teknik pertenunan.

“Khusus di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), pelatihan teknik produksi tenun dilaksanakan di Sambas. Tepatnya di kediaman Ketua Serumpun, Ibu Budiana,” jelas Siti Rahmawati.

Pelatihan teknik produksi tenun tingkat kabupaten di Sambas bertujuan, peserta memahami tentang standar kualitas praktik tenun sesuai standar good tenun practices (GTP). Meningkatkan kemampuan peserta dalam hal produksi tenun dengan alat-alat pemidangan yang akurat. Tersusunnya rencana kegiatan produksi yang baik bagi peserta pelatihan.

“Serumpun yang menjadi binaan Gemawan, saat ini membawahi sekitar 25 kelompok perempuan yang tersebar di kota Singkawang dan kabupaten Sambas,” pungkasnya. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

PAGE TOP