Geliat Kewirausahaan Perempuan Indonesia dan Filipina di Sambas

BANTU PENENUN: Penggiat Gemawan, Siti Rahmawati (kanan) secara simbolis menyerahkan bantuan pendukung ke Kusumawati dari kelompok perempuan Mawar Merah, anggota Serumpun binaan Gemawan, Selasa (31/05/2016). Foto: Ridho Fauzinda/GEMAWAN.

 

Sambas, GEMAWAN.

Kain tenun songket Sambas semakin mendunia karenanya diperlukan penjagaan regenerasi penenun kain songket Sambas. Tercermin dari pelatihan “Teknik Produksi Tenun” di Sambas, 25-27 Mei 2016.

“Lembaga Gemawan sebagai pendampingi Serikat Perempuan Pantai Utara (Serumpun) yang menyelenggarakan pelatihan teknik produksi tenun, berusaha menjaga keautentikan tenun kain songket Sambas supaya tetap lestari,” ungkap Siti Rahmawati, penggiat Gemawan di ruang kerjanya, Selasa (31/05/2016).

Di akhir pelatihan, perwakilan Gemawan, Siti Rahmawati secara simbolis menyerahkan alat pendukung bagi produksi tenun ke kelompok perempuan yang terhimpun di Serumpun. Bertempat di Ketua Serumpun, Budiana di Sambas.

“Sekadar informasi, sampai saat ini, Serumpun menaungi 25 anggota kelompok perempuan yang tersebar di Kota Singkawang dan Kabupaten Sambas,” tutur Siti Rahmawati.

Kegiatan ini, lanjutnya, bagian dari program Kewirausahaan Perempuan Indonesia dan Filipina, melalui Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK). Didukung Uni Eropa (UE) hingga Hivos people unlimited yang membantu program kain tenun tangan di Indonesia dan Filipina. Ditambah juga Cita Tenun Indonesia (CTI).

“Produksi dan konsumsi berkelanjutan kain tenun tangan, seperti kain songket, ulos, lurik, abaca, ikat, menjadi bagian program pembiayaan Uni Eropa hingga Hivos untuk kelestarian kain tenun tangan di Indonesia dan Filipina. Khusus Indonesia, satu di antaranya di kabupaten Sambas,” jelas Siti Rahmawati.

Lebih detailnya, jelas Siti Rahmawati, pemberdayaan penenun perempuan Sambas ini bagian dari program SWIFT Asia kerjasama ASPPUK, Hivos, EU, dan Gemawan.

Sebelumnya juga pernah dilaksanakan parade tenun songket Sambas dari kabupaten Sambas dibawa ke kota Pontianak pada 12 Oktober 2014, sepanjang 161 meter sehingga mendapatkan penghargaan rekor Musium Rekor Indonesia (MuRI).

Kain tenun panjang 161 meter itu dikerjakan penenun tanpa putus atau sambungan, dikerjakan kelompok perempuan binaan Gemawan selama 16 bulan. Kemudian kain tenun songket Sambas 161 meter itu menjadi bagian peserta kirab hari jadi Kota Pontianak ke-243, Selasa, 28 Oktober 2014.

“Kain tenun kelompok perempuan binaan Gemawan, juga mendapat penghargaan dari World Craft Council (WCC) Award of Excellence for Handicrafts 2014 yang diadakan CTI,” kata Siti Rahmawati.

Penghargaan tersebut atas kain tenun bahan pewarna alam dari dusun Semberang dan dusun Keranji, Kabupaten Sambas, gunakan pewarna alami bixa fiksasi kapur.

Pewarna alami gambir fiksasi kapur digunakan untuk motif “Air Mata Mengalir” dan motif “Bintang”.

“Semoga kain tenun songket Sambas yang semakin mendunia dapat meningkatkan derajat kesejahteraan para penenun perempuan Sambas,” doa Siti Rahmawati. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: