Pelatihan Kader Perempuan Kubu Raya Binaan Gemawan

KESETARAAN GENDER: Fasilitator Gemawan, Era Prestoroika (ketiga dari kiri, depan) dan Ahmad Zaini (kedua dari kiri, belakang) berpose bersama utusan kaum ibu-ibu dan remaja putri Kubu Raya di pelatihan pelatihan kader binaan Gemawan di Balai Desa Sungai Itik, Sungai Kakap, KKR, Minggu 22/05/2016). Foto: Muhammad Zuni Irawan/GEMAWAN.

 

Kubu Raya, GEMAWAN.

Beberapa kaum ibu-ibu dan remaja putri utusan dari desa Sungai Kakap, Sungai Kupah, dan Sungai Itik, Kabupaten Kubu Raya (KKR), Provinsi Kalbar, binaan lembaga Gemawan, ikuti pelatihan kader perempuan ihwal keseteraan gender yang dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

Bertempat di Balai Desa Sungai Itik kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Provisi Kalbar, Minggu (22/05/2016), sistem pelatihan diformat secara kekeluargaan. Diskusi mesra menjadi jalinan indah antara fasilitator dengan peserta latihan.

Lembaga Gemawan menghadirkan fasilitator gerakan perempuan, Era Prestoroika yang aktif dalam pemberdayaan dan penguatan organisasi perempuan. Khususnya dalam manajemen pembangunan kapasitas.

Era Prestoroika didampingi fasilitator lembaga Gemawan lainnya, Ahmad Zaini yang konsen di beragam masalah sosial kemasyarakatan Kabupaten Kubu Raya dan Muhammad Zuni Irawan yang konsen di konsep pengorganisasian masyarakat.

“Pelatihan ini menjadikan perempuan desa sebagai subyek, integrasi analisis gender dalam program yang dilakukan negara hingga desa maupun para penggerak perubahan sosial. Memperkuat dan memanfaatkan pengetahuan lokal perempuan tentang pengelolaan ruang hidup perempuan dan masyarakat desa,” tutur Era Prestoroika, Koordinator Kelompok Perempuan Kubu Raya binaan lembaga Gemawan.

Dikatakannya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di berbagai level desa. Termasuk memastikan agar hak dan kebutuhan perempuan desa dari berbagai kelompok sosial, dipenuhi melalui pengaturan desa, pembangunan desa dan kawasan perdesaan, serta kebijakan dan program pemerintah lainnya.

“Kita berusaha mendorong pembentukan dan penguatan organisasi perempuan di tingkat basis, sebagai laboratorium sosial mereka dalam proses demokrasi dan penguatan hak. Guna menjadi sarana sinergisitas kelompok perempuan desa dengan kelompok masyarakat lainnya dalam upaya desa membangun,” kupas Era Prestoroika.

Kesetaraan gender itu, kata dia, guna membangun budaya yang mendorong relasi adil antara laki-laki dan perempuan di pembangunan. Struktur yang menindas kaum perempuan, menyebabkan perempuan kelompok terbesar di masyarakat semakin mengalami keterpurukan.

Gender itu perbedaan sifat. Pelabelan dan peran sosial perempuan dan laki-laki yang diciptakan masyarakat, termasuk di dalamnya budaya, interpretasi agama, dan struktur politik yang mana perbedaan ini dapat dipelajari dan berubah berdasarkan waktu dan tempat.

Konsep kesetaraan gender, suatu kondisi perempuan dan laki-laki menikmati status yang setara dan memiliki kondisi yang sama. Demi mewujudkan hak-hak asasi dan potensinya bagi pembangunan di segala bidang kehidupan.

“Kalau potensi perempuan diberdayakan sesuai keahliannya yang layak, diyakini akan membantu peningkatan derajat kesehatan, kesejahteraan, dan kemakmuran keluarga,” tegas Era Prestoroika. (Gemawan-Mud)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: