Gemawan Gelar Pelatihan

Gelar Pelatihan Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis

 

LEMBAGA Gemawan menggelar pelatihan kewirausahaan dan manajemen bisnis untuk kelompok perempuan dampingan di Radio AOR.  Kegiatan ini direncanakan akan dimulai hari ini hingga 18 Juli mendatang.

“Kegiatan ini diikuti 50 orang yang terdiri dari kelompok perempuan dampingan Lembaga Gemawan yang ada di Kabupaten Sambas dan Singkawang,” kata Manager Program Lembaga Gemawan kepada Equator, Rabu (15/7).

Menurutnya, pelatihan ini bertujuan membangun komitmen bersama multi pihak dalam mendukung dan mengembangkan usaha kecil perempuan, membangun kesadaran kritis perempuan untuk meningkatkan dan terciptanya kemandirian ekonomi perempuan serta meningkatkan kapasitas perempuan dalam isu ekonomi mikro.

Ia juga mengatakan, pelatihan ini diharapkan terciptanya komitmen bersama multi pihak dalam mendorong kebijakan yang berpihak kepada perempuan, tumbuhnya kesadaran bersama baik kelompok perempuan dan publik akan pentingnya kemandirian ekonomi untuk perempuan. “Dan juga terciptanya perempuan-perempuan yang faham isu dan pelaku ekonomi mikro dan usaha kecil,” tambahnya.

Pada acara pelatihan ini, hadir sebagai nara sumber Dinas Koperasi dan Perindustrian Kabupaten Sambas, PPSW Borneo dan praktisi usaha. Kegiatan ini akan difasilitasi oleh tim lembaga Gemawan dan PPSW Borneo. (jul)

 

Sumber: Harian Equator, Juli 2009

 

 

Lembaga Gemawan Sorot Masalah TKW

 

 

TENAGA Kerja Wanita (TKW) menjadi sorotan hangat Lembaga Gemawan. Lembaga ini menilai tidak sedikit TKW yang menjadi korban perdagangan orang (trafficking). Ini terungkap pada acara pelatihan Kewirausahaan dan Majamenen Bisnis yang berakhir hari ini di Aula radio AOR.

Menurut Manager Program Lembaga Gemawan, Muslimah meskipun perempuan menjadi salah satu ujung tombak ekonomi rumah tangga kelas bawah untuk bertahan menghadapi perkembangan, pembangunan yang bias gender telah memarjinalkan status dan posisi perempuan.

“Perempuan tidak memiliki akses pada berbagai sumber daya secara setara dan lelaki, mengalami diskriminasi upah yang super eksploitasi, pelecehan seksual dan kekerasan dalam dunia kerja,” katanya.

Kegiatan usaha pada umumnya, lanjut Muslimah, berskala kecil sebagai usaha rumah tangga dengan modal mulai dari ribuaan rupiah saja. Karena terlalu kecilnya sulit untuk dimasukkan ke dalam kategori sektor sehingga sering dikatakan sebagai usaha yang tidak layak.

Sebagai akibatnya, Ia mengatakan, berbagai pelayanan seperti kredit usaha tidak bisa diakses langsung oleh perempuan. “Ini semakin memperburuk kemampuan dan kemandirian ekonomi perempuan. Sehingga tidak sedikit perempuan yang memutuskan untuk ke luar negeri untuk menjadi TKW yang tidak sedikit juga mereka menjadi korban trafficking,” ujarnya.

Perkembangan industir dan pembangunan yang tidak seimbang antara kota dan desa telah menarik angkatan kerja di desa-desa untuk berurbanisasi ke kota meninggalkan beban pekerjaan di pedesaan pada kaum perempuan dan anak-anak.

“Selain itu upah minimum yang diterima oleh buruh, yang sebetulnya hanya bisa memenuhi sekitar 50 persen dari kebutuhan fisik minimumnya. Memaksa perempuan dan anak-anak bekerja guna memenuhi kebutuhan seluruh keluarga,” jelas Muslimah.

Keterbatasan pendidikan sekolah dan kurangnya keterampilan, kaum perempuan hanya bisa memasuki sektor-sektor informal.sedangkan anak perempuan muda menjadi buruh murah di kota-kota besar yang tidak jarang eksploitasi. (jul)

 

Sumber: Harian Equator, Juli 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: