Berburu Peta Titik Api hingga Hitung Dana Bagi Hasil Konsesi

BEDAH PETA: Workshop Open Data Spasial dan Tata Ruang Desa yang dihelat AJI Pontianak, Gemawan, dan Swandiri Institute, selain dihadiri para jurnalis profesional juga dihadiri jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mimbar Untan (MiUn) Pontianak di ruang sidang SI Pontianak, Rabu (11/05/2016). Foto: Mahmudi/GEMAWAN.

BEDAH PETA: Workshop Open Data Spasial dan Tata Ruang Desa yang dihelat AJI Pontianak, Gemawan, dan Swandiri Institute, selain dihadiri para jurnalis profesional juga dihadiri jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mimbar Untan (MiUn) di ruang sidang SI Pontianak, Rabu (11/05/2016). Foto: Mahmudi/GEMAWAN.

 

Pontianak, GEMAWAN.

Fasilitator senior Swandiri Institute (SI), Arif Munandar memberikan pendidikan dan latihan ke para awak jurnalis yang terhimpun di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak di ruang sidang SI Pontianak, Rabu (11/05/2016).

“Melalui open data spasial citra satelit, kita dapat melihat koordinat izin pertambangan dan perkebunan dan melihatnya di google earth. Kemudian juga kita dapat melihat titik api dan suhu panas dilihat dari panas yang dikategorikan api,” ungkap Arief Munandar di sela-sela Workshop Open Data Spasial dan Tata Ruang Desa.

Ia menerangkan format penglihatan data lebih harus membuka program google earth pro atau advance, cari kawasan hutan melalui format ‘kmi’, kemudian sasar ‘active fire data alert.

Arif Munandar selanjutnya mengajak peserta workshop untuk membaca peta mengutip http://data.go.id, sebuah situs dataset ini berisi data mengenai dana bagi hasil yang terdiri atas landrent dan royalti per pemerintah daerah, kabupaten, kota, dan provinsi.

Dataset ini berisi tahun, wilayah geografis pemerintah daerah berada, kode BPS daerah, nama pemerintah daerah, landrent (iuran tetap) yang diperoleh pemerintah daerah dari kegiatan pertambangan (dalam mata uang Rupiah).

Kemudian berisi juga royalti yang diperoleh pemerintah daerah dari kegiatan pertambangan (dalam mata uang Rupiah), latitude (titik lintang dari daerah tersebut) dan longitude (titik bujur dari daerah tersebut).

Hasilnya ada ada data dengan format *.xls versi human-readable (dapat dibaca manusia) dan *.csv dalam versi machine-readable (dapat dibaca mesin). Pun demikian, ektension format *xls dan *csv dana bagi hasil diterjemahkan ke google earth memerlukan beberapa program pendukung.

“Dalam membedah peta kita perlu internet berkecepatan tinggi,” timpal Arif.

Workshop Open Data Spasial dan Tata Ruang Desa yang dihelat AJI Pontianak, Gemawan, dan Swandiri Institute, selain dihadiri para jurnalis profesional juga dihadiri jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mimbar Untan (MiUn) Pontianak. (Gemawan-Mud)

 

About Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>