Bentuk Gapoktan Demi Penguatan Petani Karet Kapuas Hulu

KONSERVASI ALAM: Satu di antara kegiatan Gemawan di perencanaan desa kesepakatan konservasi alam untuk penghidupan masyarakat di kabupaten Kapuas Hulu. Foto: GEMAWAN.

Kapuas Hulu, GEMAWAN.
Selain merevitalisasi maupun membentuk kelompok tani (Poktan), Gemawan juga membentuk gabungan kelompok tani (Gapoktan) karet. Seperti di desa Dangkan Kota dan Nanga Dangkan kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalbar.

Gapoktan Karet binaan lembaga Gemawan di desa Dangkan Kota dengan nama “Pelentar Bersatu”. Dewan pengurus inti, ketua dijabat Syamsudin, wakil ketua Purwo Hadi Harseno, sekretaris Herry Susanto, bendahara Abdulah Sani. Dibantu beberapa kepala bidang.

Gapoktan Desa Nanga Dangkan bernama “Bukit Sagu”. Dewan pengurus inti, ketua Suhairi, wakil ketua Palis, sekretaris Hamdi, bendahara Abang Johan. Dibantu beberapa kepala bidang. Gapoktan sendiri membawahi beberapa Poktan.

Fasilitator senior Gemawan, Uray Endang Kusuma menerangkan dalam membangun organisasi mandiri masyarakat melalui kelompok tani karet yang efektif, tidak serta-merta langsung jadi. Namun perlu penguatan organisasi dan sumber daya manusia pengelolanya. Organisasi kuat juga dipengaruhi finansial dan manajemen yang kuat.

“Pada kegiatan di desa Nanga Ngeri kecamatan Silat Hulu kabupaten Kapuas Hulu tertanggal 21-22 Agustus 2014, belum ada kelompok tani. Kemudian disepakati satu model pengorganisasian petani karet, yakni terbentuknya Tim Inisiator Pembentukan Kelompok Tani Karet di Desa Nanga Ngeri,” papar Uray Endang Kusuma.

Tim inisiator dikoordinatori Zainal Abidin, wakil koordinator Alfian, sekretaris Baya Rustina, dibantu koordinator tingkat dusun. Seperti koordinator dusun Pelita Jaya, Abang Mat Saleh. Kemudian dusun Kepala Gurung, Zainudin. Dusun Bersatu/Pelanjau, Kornelius Jantan. Dusun Mengirau, Abang Usman.

“Tim ini bertugas merancang strategi pembentukan kelompok tani, sekaligus membentuk dan mendampingi kelompok tani tersebut serta merancang program kegiatan organisasi yang disinergikan dengan kegiatan dampingan Gemawan,” tutur Uray Endang Kusuma.

Pelaksanaan Pembentukan kelompok tani sesuai dengan jadwal program dan jadwal kegiatan Gemawan, sedikit mengalami hambatan karena sekitar 80-90 persen warga pada Desa Dangkan Kota, Lebak Najah, Nanga Ngeri, dan Nanga Dangkan, pekerjaan utama adalah penoreh karet alam di hutan desa.

Akses jalan poros antardesa kurang bagus, apalagi ketika musim penghujan seperti bubur lumpur, membuat lalulintas barang dan jasa terganjal. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: