Pra Seminar Internasional Bioenergi

PENELITI bioenergi dari Bonn University, Dr Oliver Pye didampingi dosen Bahasa Indonesia di Bonn University, Yanti Mirdayanti, MA melakukan silaturahmi antarlembaga sebelum digelarnya seminar internasional bioenergi di Amphi Teatre, Fakultas Kedokteran Untan, Sabtu (21/3) yang akan datang. Kedua delegasi Bonn University ini mengunjungi Internasional Office Untan, Walhi, Aman, Gemawan, Borneo Tribune dan Tribune Institute, FLEGT serta sejumlah tokoh penting di Kalbar.

Oliver Pye sebelum ke Kalbar terlebih dahulu tampil dalam workshop atau lokakarya perihal bioenergi lintas negara (transnasional) dipandang dari aspek ekonomi, sosial dan politik serta lingkungan hidup di Singapura dan berlanjut di Universitas Padjajaran (Bandung) serta Universitas Gadjahmada (Yogjakarta). Kesemua kegiatan itu berlangsung secara akademik dan sukses. Oliver dan Yanti Mirdayanti tiba di Pontianak pada Minggu (15/3) dan langsung mengunjungi Komunitas Cinte Aek Kapuas yang mempunyai jadwal launching komunitas peduli lingkungan sungai terpanjang di Indonesia yakni Sungai Kapuas. Di forum ini Oliver dan Yanti Mirdayanti bicara betapa pentingnya menjaga urat nadi Kalbar pada khususnya melalui Sungai Kapuas. “Jika Kapuas bisa dijaga kebersihan lingkungannya, lingkungannya ditata sedemikian rupa, ia akan menjadi aset pariwisata dan sumber inspirasi bagi penduduknya,” kata Yanti Mirdayanti seraya menjelaskan betapa indahnya sungai-sungai di Eropa dan Amerika karena terjaga dari pencemaran sampah maupun limbah. Jalan di kiri dan kanan sungai juga jadi pemikat aktivitas berhadapan dengan sungai nan luas. “Potensi Kalbar untuk maju pariwisatanya sangat besar. Kita berkepentingan menjaga dan memeliharanya,” kata Oliver yang semasa kanak-kanaknya juga berada di kawasan sungai kota kecil di Jerman. “Saya suka Sungai Kapuas. Jauh lebih panjang dan luas ketimbang sungai di Bonn,” pujinya.

Kedatangan Oliver dan Yanti Mirdayanti disambut hangat Komunitas Cinte Aek Kapuas yang notabene para fotografer, sineas, jurnalis dan tokoh-tokoh pariwisata kota. Mereka antara lain Wakil Walikota Paryadi, S.Hut, Kepala Dinas Pariwisata Kota, Dirut Gadjahmada Hotel, PHRI, Canopy Indonesia dan lainnya.

Di Internasional Office Untan silaturahmi Oliver Pye dan Yanti Mirdayanti disambut Kepala Internasional Office, Dr Elvira dan rekan. Di kantor Internasional Office yang sementara ini menumpang di Magister Teknik mengupas rencana kerjasama riset perihal bioenergi. Kerjasama itu melibatkan Untan, Borneo Tribune/Tribune Institute dan Bonn University.

Selain membahas MoU Oliver dan Yanti ditemani Purek IV Bidang Kerjasama Ir HM Iqbal serta Dr Elvira mengunjungi Fakultas Kedokteran dan dilanjutkan keesokan harinya berdialog dengan Rektor Untan, Dr H Chairil Effendy, MS. Rektor yang low profile ini menyambut hangat dengan merangkai program-program pengembangan kerjasama mutual hingga ke depan secara internasional. Katanya, Untan ingin tampil terdepan dalam meneliti dan memanfaatkan keanekaragaman hayati milik Kalbar.

Sebelum menemui Chairil Effendy yang juga Ketua Forum Rektor Indonesia, Oliver dan Yanti Mirdayanti berdialog silaturahmi bersama Ketua Walhi Saban Setiawan. Di sekretariat Walhi Saban mengatakan tidak benci akan sawit karena tanaman ini ada gunanya bagi ekonomi masyarakat maupun bioenergi, tetapi tata cara pembukaan lahan sawit yang tidak memenuhi aturan main sesungguhnya telah merusak alam. Hal ini menjadi bahan kampanye mereka untuk diperangi. “Peraturan dibuat pemerintah untuk dilanggar sendiri. Berapa banyak uang dibuang sia-sia untuk itu. Lihat saja Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL bisa keluar dalam waktu satu minggu. Mana mungkin hal itu bisa terjadi,” ulasnya.

Di Aliansi Masyarakat Adat Nasional (Aman) Oliver Pye dan Yanti Mirdayanti disambut ketuanya Sujarni Aloy. Penulis buku dan peneliti tersebut mengatakan mereka kampanye anti sawit karena lahan hutan yang dibuka menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal lain yang terjadi adalah rakyat tetap miskin di sekitar perkebunan. Dalam kasus yang lain masyarakat dipukuli fisik dan hak-hak tanah maupun kebudayaan mereka.

Oliver Pye dan Yanti Mirdayanti di FLEGT disambut ketuanya Thadeus Yus. Thadeus dengan sistematis menjelaskan kaitan lembaganya yang mendorong manajemen hutan secara lestari dengan efek domino kerusakan lingkungan akibat illegal logging. Sedangkan di Gemawan, Oliver dan Yanti disambut ketuanya, Lely yang pernah bertandang ke Belanda untuk menjelaskan sawit di parlemen Negeri Kincir Angin tersebut. Lely mengatakan lembaganya mengadvokasi kaum tertindas dari pembukaan perkebunan. Sejumlah kasus berhasil diavokasi, tetapi banyak kasus yang lain mereka berhadapan dengan power nan mengancam keselamatan sehingga butuh dukungan internasional.

Oliver dan yanti juga berdiskusi di dapur redaksi Borneo Tribune dan Tribune Institute untuk mengeksplorasi agenda riset bersama secara lebih mendasar.

Seminar internasional bioenergi dihelat dalam kerangka berpikir akademis serta mengupayakan riset agar bermanfaat bagi penyelamatan bumi. Sekecil apapun suatu daerah dan bangsa, di era kesejagatan ini semua saling terkait, interkoneksi, transnasional dan global. (Nur Iskandar)

Sumber: www.borneotribune.com, Jumat, 20 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: