Perempuan Melenggang ke Kursi Legislatif

GEMAWAN—Pesta demokrasi usai sudah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar dan kabupaten/kota juga sudah selesai menatapkan siapa saja yang berhak menduduki kursi legislatif. Ketentuan quota 30 persen perempuan dalam daftar calon legislatif (caleg) berusaha dipenuhi partai. Hasilnya, dari ribuan calon legislatif di seluruh wilayah Kalbar, termasuk berikut caleg perempuan, beberapa orang perempuan diantaranya berhasil melenggang ke kursi legislatif.

Bagaimana pandangan Direktur Eksekutif Lembaga Gemawan, Laily Khairnur menyikapi keberhasilan perempuan merebut simpati rakyat dan menduduki kursi legislatif, apa saja yang mesti mereka perjuangkan dalam kerangka membuat dan memengaruhi kebijakan, berikut petikan wawancaranya.

 

Bagaimana anda melihat fenomena keterwakilan perempuan di lembaga legislative, apalagi belum lama ini KPUD di beberapa daerah di Kalbar telah menetapkan nama anggota legislative, ada diantaranya yang nihil perempuan seperti DPRD Kayong Utara?

Menurut saya ini hasil yang cukup baik, karena sebenarnya ada beberapa kemajuan, misalnya ada dulu dprd yang kosong perempuan sekarang justru terisi (misalnya pontianak kota), kemudian ada penambahan jumlah perempuan misalnya di Provinsi, Kabupaten Sambas dan lainnya. Karena menurut saya tantangan bagi perempuan di Pemilu 2009 ini cukup besar terutama sejak dikeluarkan keputusan suara terbanyak yang mana telah mementahkan usaha kelompok perempuan dengan system zipper (yakni dari 3 calon harus ada 1 perempuan) ini sebenarnya usaha untuk memberikan peluang duduk di nomorawal bukan nomor sepatu. Kalo KKU menurut saya karena factor ini kabupaten baru, sehingga perlu banyak usaha yang harus dilakukan.

 

Faktor apa saja yang anda lihat sebagai bentuk kesuksesan perempuan merebut kursi legislative?

Menurut saya, ini merupakan salah satu pengaruh UU pemilu tentang quota perempuan sejak pemilu 2004 kemarin. Kemudian juga memang mulai muncul kesadaran masyarakat untuk menerima keberadaan perempuan dalam dunia politik praktis di Indonesia. Ketiga, usaha keras dari para perempuan2 ini untuk memenangkan pertarungan dalam Pemilu 2009, faktor lain adalah suara media yang juga cukup berkontribusi dalam mengkampanyekan perlunya keterlibatan perempuan dalam dunia politik.

 

Sebaliknya, faktor apa saja yang membuat kursi legislative di beberapa daerah itu minim perwakilan perempuan atau bahkan tidak ada sama sekali?

Salah satu faktornya adalah wilayah baru, dan politikus perempuan di wilayah ini juga masih minim. Soal peran perempuan yang jadi legislator, bagaimana seharusnya mereka berbuat, terutama dalam konteks memperjuangkan hak-hak perempuan baik dalam hal anggaran atau kebijakan, sesuai dengan fungsi mereka di lembaga legislatif? Menurut saya mereka harus tetap konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan, usul saya mereka harus berjuang untuk gender budget, budget pro poor dan budget untuk isu perdamaian di Kalbar (sesuai dengan tingkatan wilayah). Dan menurut saya mereka juga harusnya tidak segan membuka komunikasi dengan kelompok masyarakat sipil khususnya mereka yang bekerja untuk perempuan-perempuan basis serta para jurnalis karena sedikit banyak kelompok Masyarakat Sipil ini banyak mengetahui informasi dari tingkat basis, sampai isu-isu yang berkembang di dunia internasional.

 

Apakah anda yakin perempuan bisa merebut peran strategis di lembaga legislative, korelasi antara peran dan posisi yang dijabat dalam hal kepentingan perempuan?

Saya harus yakin, artinya begini, sebagai bagian dari banyaknya perempuan yang berjuang menyuarakan hak-hak perempuan dan masyarakat miskin kami terus mengkampanyekan ini, sehingga tekanan dari rakyat dan kelompok masyarakat sipil harus terus dilakukan.

Sekadar evaluasi, bagaimana anda melihat peran perempuan ketika menjadi legislator periode sebelumnya. Apakah ada sebuah hasil yang menonjol yang dilakukan perempuan?

Saya kira cukup baik hasilnya, misalnya di provinsi kalau tidak karena perjuanagn legislator perempuan maka tidak aka nada perda anti trafficking di Kalbar, kemudian di kabupaten Sambas, legislator perempuan di wilayah ini membuat koalisi lintas partai untuk memperjuangkan hak-hak perempuan terutama berkaitan dengan budget untuk aktivitas perempuan, dan isu-isu kekerasan yang dialami perempuan.

 

Kedepan, upaya apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang politik dan resep khusus untuk meningkatkan kursi perempuan di lembaga legislative pada pemilu yang akan datang?

Selagi aturan pemilu dan parpol member peluang kepada perempuan untuk terlibat dalam politik praktis saya yakin isu perempuan dan politik praktis akan tetap mendapat perhatian. Kemudian yang penting juga adalah harus ada usaha mendorong aturan berkaitan dengan keterlibatan perempuan dalam pemerintahan desa dan partisipasi pembangunan, misal minimal 30%. Saya yakin proses pembelajaran perempuan dalam dunia politik khususnya level terendah akan dimulai disini. Sehingga mereka siap terlibat dalam wilayah yang lebih besar nantinya. Kemudian menurut saya popularitas perempuan juga masih dibutuhkan 5 tahun kedepan, semakin perempuan banyak dikenal orang karena kerja-kerjanya menurut saya ini akan berkontribusi untuk mendulang suara, nah disini peran media menjadi penting untuk mempromosikan kerja-kerja basis dan kampanye para perempuan ini. Kemudian saya juga mempercayai kerja-kerja perempuan legislator yang akan duduk sekarang juga akan mempengaruhi penilaian masyarakat akan kehebatan para perempuan dalam memimpin, meskipun saya kurang suka dengan indicator ini, karena masyarakat juga tidak menilai kinerja politisi laki-laki seperti apa. Tapi saya mencoba menilai secara realistis tapi kita tidak berhenti disini untuk itu maka keberpihakan kepada perempuan dan kelompok miskin lainnya menjadi penting untuk dilaksanakan oleh para legislator perempuan, dan hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah terus meningkatkan kapasitas, tidak ada ruginya untuk belajar terus menerus.

Terakhir saya mengucapkan selamat atas keberhasilan kawan-kawan perempuan duduk di legislative dan jangan lupa janji-janji politik kepada rakyat dan perempuan untuk segera direalisasikan ketika beraktivitas nanti. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: