Gemawan Petakan Tata Ruang Sawah di Rawa dan Bukit di Sintang

AMBIL TITIK PEMETAAN: Warga desa Mangat Baru bersama tim pemetaan lembaga Gemawan sedang mengambil titik pemetaan untuk tata ruang sawah warga desa, Jumat (12/02/2016). Foto: Welli Arma/GEMAWAN.

Sintang, GEMAWAN.
Kabupaten Sintang merupakan daerah teritorial pegunungan. Sedangkan di wilayah lereng bukit banyak terdapat rawa-rawa yang merupakan hamparan tanah subur. Biasa digunakan masyarakat dalam bercocok tanam padi, seperti di desa Mangat Baru kecamatan Dedai.

Terkait wilayah tersebut, lembaga Gemawan turun langsung melakukan pemetaan di wilayah pertanian desa Mangat baru, bagian dari program pelaksanaan tata ruang desa, Jumat, (12/02/2016).

Hamparan wilayah pertanian itu ditempuh melalui jalan usaha tani (JUT). Jaraknya sekitar 6 kilometer dari pemukiman warga melalui alur naik turun bukit.

Alur JUT itu melewati perkebunan karet dan hutan di kaki lereng bukit yang dikelilingi beraneka ragam tumbuhan hutan. Antara lain pohon Ketapang, Ara, Jengkol, Gaharu, dan berbagai macam pohon di hutan tersebut.

Tak ayal saat berjalan kaki seolah mata terpana memandang kekayaan alam yang menghiasi hutan di wilayah desa itu. Walaupun jarak yang dilalui cukup jauh dan menguras energi, namun terbayarkan dengan pemandangan elok nan bestari.

Keadaan rute serta zona wilayah sedemikian sulit, namun sudah menjadi kebiasaan kaum tani di sini untuk melaksanakan aktivitas pertanian.

Bukit dan rawa merupakan areal pertanian di desa yang menjadi potensi bagi kehidupan para petani. Terkait hal itu pemetaan adalah langkah alternatif untuk melindungi lahan pertanian masyarakat desa, agar tidak terjadi alih fungsi lahan sawah masyarakat menjadi lahan investasi perkebunan.

Tim pemetaan partisipatif dari warga desa, Lukas mengatakan melaksanakan pemetaan di kawasan persawahan desa bukanlah hal yang mudah. Sebab, harus melalui rawa-rawa dan bukit yang begitu tinggi.

“Hamparan sawah yang begitu luas dan memanjang, sangatlah memakan waktu dalam proses pelaksanaan pemetaan selama tiga hari,” kata Lukas.

“Dalam pemetaan ini kami tetap harus memperhatikan batas-batas sawah di desa Mangat Baru. Sebab, ada sebagian hamparan sawah yang berbatasan dengan desa lain,” timpal Lukas.

Hal senada di sampaikan Adi, relawan pemetaan lembaga Gemawan Distrik Sintang. Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan pemetaan di desa Mangat Baru. Selain hamparan sawah, sebagian besar ialah pertanian karet yang hamparannya mengelilingi desa.

“Kemudian hutan di desa ini sangatlah luas untuk dipetakan dengan kondisi memanjang, mengelilingi hamparan sawah serta menjadi pembatas desa Mangat Baru dengan desa lain,” jelas Adi.

Penulis: Welli Arma
Editor: Mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: