Penutupan Tur Tim Kepak Sayap Enggang dan Mataharimau Seri Kalimantan

Pontianak(Gemawannews)-Tur Kepak Sayap Enggang dan Mataharimau seri Kalimantan resmi di tutup di Rumah Betang, Jalan Sutoyo Pontianak (29/09/12). Tur untuk seri Kalimantan ini sebelumnya di buka dan start dari Kalsel dengan melintasi tiga propinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Penutupan di laksanakan dengan ramah tamah, ritual adat dan penegasan komitmen untuk lingkungan. Pada hari sebelumnya telah digelar berbagai event antara lain, Pameran foto dan lukisan lingkungan, Citizen Jurnalism Training dan Workhsop photography, penanaman pohon bersama, serta konser Band Navikula (28/09/12).

Memasuki Rumah Betang, tim Kepak Sayap Enggang dan Mataharimau di sambut dengan tarian ”Enggang” dari Sanggar Borneo Tarigas. Kemudian dilakukan ritual adat yang dipimpin oleh  seorang Panyangahatn’. Ritual adat ini sebagai ucapan syukur atas seluruh rangkaian kegiatan yang berjalan lancar.

Ritual ini juga sebagai ungkapan syukur kepada Jubata (Sang Pencipta) atas keselamatan rider bersama rombongan selama dalam perjalanan menembus belantara borneo dan sekaligus memohon doa agar hutan-hutan air sebagai sumber hidup dan kehidupan warga beserta satwa lainnya (seperti Burung Enggang) tetap terjaga dan dijaga keberadaannya.

Dalam sambutannya Anton P Wijaya Direktur Eksekutif Walhi Kalbar menuturkan, Deforestasi hutan secara massif masih terjadi dan ini kita saksikan secara langsung, dimana hutan dan gambut Kalbar dihancurkan perkebunan sawit, pertambangan dan HTI.

“Kami menyaksikan bagaimana hutan dan gambut Kalimantan Barat dihancurkan untuk perkebunan sawit dan HTI. Hutan di lereng-lereng bukit ditebang yang merusak hulu sungai sebagai sumber air bersih warga pedesaan di Marau, Ketapang sedangkan hamparan gambut di Kuala Labai, Ketapang juga dihancurkan dengan membuat kanal-kanal yang akan melepas karbon dioksida penyebab pemanasan global,” kata Anton.

Sementara itu Zulfahmi Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia dalam sambutannya memaparkan, Tur ini, sebagai bagian upaya penyelamatan hutan Kalimantan juga Indonesia. Dengan harapan mengajak seluruh elemen masyarakat mau dan terlibat dalam gerakan penyelamatan hutan, penyelamatan lingkungan hidup Indonesia demi pembangunan kesejahteraan bersama.

Lebih lanjuh Zul menjelaskan, Pada Tur Mata Harimau, kami mengusung  simbol Enggang, sebuah jenis burung yang di dunia ada 57 spesies, dan 14 diantaranya ada di Indonesia. Di Kalimantan sendiri ada satu spesies Enggang yang dijadikan maskot provinsi karena habitatnya hanya ada di pulau ini, yaitu Enggang Gading. Dalam masyarakat Dayak, burung yang hidup di pepohonan tinggi dengan ciri kepakan besar dan suara khas ini  menjadi inspirasi gerakan tari-tari tradisional, karena itu bagi masyarakat dayak, spesies ini sangat disakralkan, pantang, diburu, dibunuh, apalagi dimakan.

Namun pemandangan yang memilukan hati kami jumpai selama perjalanan. Pada sesi Selama 14 hari tur, sejak di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, berakhir di Kalimantan Barat banyak ditemukan  deforestasi oleh perusahaan ekstraktif tambang, perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Sisi lain, ada upaya kolektif komunitas masyarakat adat menjaga hutan demi keseimbangan ekologis dan kehidupan.

“Carut marut tata kelola perhutanan Indonesia juga kami lihat sepanjang jalan berikutnya dari tumpang tindihnya lahan konsesi perkebunan, pertambangan, dan hutan tanaman industri yang seakan-akan tidak membiarkan sejengkal hutan pun untuk hidup dan terus tumbuh,’’ kata Zul.

Selain itu Ia menambahkan, moratorium hutan yang berakhir 2013 harus dilanjutkan. Jangan dibatasi waktu karena jangka waktu dua tahun belum mampu menghentikan deforestasi.

“Moratorium, harus mampu menyelamatkan hutan-hutan kaya keragaman hayati yang kini diperebutkan perusahaan untuk memperoleh hak konsesi. Kebijakan moratorium harus mampu meninjau kembali izin-izin seluruh perijinan konsesi yang berada pada kawasan hutan primer dan lahan gambut,’’ tukasnya.

Pada kesempatan itu juga Tim Kepak Sayap Enggang-Tur Mataharimau menyerahkan secara simbolis dokumentasi foto bukti pengrusakan hutan yang terjadi selama dalam perjalanan kepada Pemprop Kalbar yang diterima oleh Lensus Kadri Asisten II Sekretariat Daerah Pemprop Kalbar.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan pembubuhan tanda tangan pada spanduk besar berwarna Merah Putih bertuliskan “Selamatkan Hutan, Selamatkan Indonesia’’. Penandatanganan ini sebagai bentuk penegasan komitmen bersama segenap komponen untuk penyelamatan hutan dan lingkungan di Indonesia. (Joy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: