Cuaca Cerah Dukung Pemetaan di Tanjung Satai

PETERNAKAN SAPI WARGA: Pemandangan sabana Tanjung Satai yang menjadi sajian lezat sapi-sapi warga diabadikan di sela-sela kegiatan tim pemetaan partisipatif lembaga Gemawan dengan aparatur desa Tanjung Satai. FOTO: Muhammad Zuni Irawan/GEMAWAN.

Kayong Utara, GEMAWAN.
Pemetaan tata ruang desa partisipatif di desa Tanjung Satai kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara (KKU), didukung cuaca cerah. Dihelat selama seminggu penuh dimulai 14 Januari 2016, membelah hutan rakyat, menyusuri pekarangan warga, meniti pematang sawah, hingga perkebunan warga.

Kontingen tim pemetaan tata ruang desa lembaga Gemawan di Kabupaten Kayong Utara, dibagi dua kelompok besar, khususnya di desa Dusun Besar dan Tanjung Satai. Keduanya bagian wilayah administratif kecamatan Pulau Maya.

Sebagai wilayah kepulauan, kecamatan Pulau Maya dihadapkan dalam persoalan satu di antaranya di ketahanan energi, baik itu air bersih layak konsumsi, listrik, dan bahan bakar minyak.

Dikarenakan belum ada jembatan penghubung maupun kapal ferry penyeberangan dengan daratan utama, sebab lebarnya muara yang menjadi pertemuan daratan utama pulau Kalimatan di kecamatan Teluk Batang maupun wilayah kabupaten Kubu Raya, menyebabkan di pulau ini sangat langka ditemukan kendaraan mobil.

Saat ini, pasokan listrik perusahaan listrik negara (PLN) di kecamatan Pulau Maya yang memiliki lima desa, hanya menyala dari jam 6 petang hingga jam 6 pagi saja. Kerja administrasi negara dan pemerintahan di kala siang, menggunakan pembangkit listrik tenaga genset.

Kondisi energi listrik di Pulau Maya masih mending dibandingkan seluruh kecamatan Kepulauan Karimata yang belum memiliki pasokan listrik di PLN. Negara pelit beri listrik ke kecamatan Kepulauan Karimata.

Ihwal pasokan bahan bakar minyak di Pulau Maya masih mengandalkan dari kota Pontianak, sekitar sepuluh jam perjalanan laut dan sungai. Walaupun ada stasiun pengisian bahan bakar minyak di Teluk Batang yang hanya perlu menyeberang ke daratan utama Kalimatan, warga mengaku sering tidak kebagian.

Dibangunnya SPBU di kecamatan Simpang Hilir, memberikan angin segar bagi nelayan, industri rumahtangga, hingga keperluan warga terhadap dukungan ketahan energi, khususnya bahan bakar minyak.

Demikian juga, ketahanan energi di pemenuhan air bersih layak konsumsi, warga desa Tanjung Satai, harus kuat dan tabah menjalani cobaan dari Yang Maha Kuasa ini.

Awak Gemawan dalam pemetaraan partisipatif bersama perwakilan warga desa Tanjung Satai, menggunakan kendaraan sepedamotor. Usai berkoordinasi antara anggota tim satu dengan lainnya, melalui titik awal menyusuri sawah, hutan, hingga menyeberangi parit-parit desa.

“Untuk koordinator menyusuri titik-titik koordinat menggunakan alat GPS, tim lokal dikoordinir anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tanjung Satai, Abdul Syukur didukung Kepala Dusun (Kadus) Suka Baru, Abdul Kadir,” ungkap Abang Rustaman, fasilitator lapangan pemetaan tata ruang desa lembaga Gemawan di tepian sabana Tanjung Satai.

Dikatakannya beberapa perwakilan dusun-dusun yang ada di desa Tanjung Satai pada awalnya kebingungan dalam menggunakan alat GPS dalam pemetaan.

“Namun melalui pendidikan dan latihan (Diklat) yang langsung diaplikasikan di lapangan, warga desa lekas memahami dan langsung turun di lapangan,” kata Abang Rustaman, didampingi tim pemetaan Gemawan lainnya seperti Ucup, Lani, dan Rizal.

Anggota BPD Tanjung Satai, Abdul Syukur mengaku bersyukur aparatur dusun dan desa mendapat pelatihan cara memetakan tata ruang desa di wilayahnya.

“Program lembaga Gemawan ini dalam memberikan pendidikan dan latihan hingga aplikasi, demi peningkatan kapasitas aparatur desa, diharapkan dapat mendukung percepatan pembangunan kawasan di Tanjung Satai dan kabupaten Kayong Utara khususnya, serta Kalbar dan nasional pada umumnya,” pungkas Pak Usu, sapaan akrabnya. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: