Kalbar Jangan Hanya Tempat Menggali, Menanam, dan Menangkap Saja

KONSESI TAMBANG: Perwakilan dari Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, Abdul Syukur (tengah, belakang) mengeluhkan perairan Kayong Utara di Selat Karimata dikapling-kapling untuk konsesi tambang dan warga kurang diberikan pemahan. Terungkap di diskusi publik pembuka SP III Gemawan di Hotel Orchardz Pontianak, Selasa (03/11/2015). FOTO: A’LA/GEMAWAN

Pontianak, GEMAWAN.
Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) harus sampai pada proses produksi yang terakhir dari setiap penggunaan sumber daya alam yang ada. Jangan hanya merupakan tempat menggali, menanam, atau menangkap saja.

“Kalimantan Barat harus memperoleh nilai tambah yang terbesar dari setiap produk yang bahan bakunya berasal dari Kalbar,” kata Ali Nasrun SE MSc, pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak di diskusi publik pembuka Strategic Planning (SP) III Gemawan di Hotel Orchardz Pontianak, Selasa (03/11/2015).

Ia mengharapkan potensi dan keadaan pada alam dan sosial dijadikan sebagai modal dasar pembangunan. Pembangunan harus bertitik tolak dari apa yang ada dan apa yang bisa di daerah. Manfaatkan keunggulan posisi Kalbar dalam geografis ekonomi regional dan global.

“Kearifan lokal dan kekhasan alam harus ditumbuhkembangkan dengan teknologi baru. Pengembangan harus melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), kapital, dan alih teknologi,” saran Ali.

Ali mengharapkan ke pemerintah daerah di Kalbar supaya memprioritaskan program peningkatan kualitas SDM dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, kewirausahaan, penguasan teknologi, etos kerja dan karakter yang baik, serta kualitas fisik biologis yang sehat.

“Adanya perencanaan dan program pembangunan ekonomi yang menyeluruh, jelas, dan konsisten, menjadi panduan dan dilakukan semua pelaku ekonomi dan pemerintah di setiap jenjang kepemerintahan,” kata Ali.

Kemudian bangun etos kerja yang baik dan berdayaguna. “Kata petani kita, kurang apa lagi kami, sudah dari pagi sampai petang berpanas-berpanas dan berhujan-hujan tapi belum juga kaya. Jadi sebenarnya etos kerja tidak seperti itu, akan tetapi etos kerja efektif dan disiplin terhadap waktu dan hasil,” jelas Ali. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

PAGE TOP