Pembangunan Cenderung Ekspansif dan Ekstraktif

KABUT ASAP: Kabut melanda perairan Selat Karimata di dermaga kampung Tanjung desa Betok Jaya kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalbar yang dilanda kabut asap akhir Oktober 2015. FOTO: MAHMUDI/GEMAWAN

Pontianak, GEMAWAN.
Proses pembangunan yang cenderung ekpansif dan ekstraktif dewasa ini, telah mengubah wajah lingkungan, tata penghidupan, dan identitas masyarakat.

“Dewasa ini, gelombang pendatang yang lapar akan lahan, dalam bentuk investasi sumber daya alam, banyak memunculkan konflik-konflik hubungan sosial baru. Mengobrak-abrik tata pemerintahan hingga ke tingkat desa,” kata M Zuni Irawan, Ketua Panitia SP III Gemawan tahun 2015 di Hotel Orchardz Pontianak, Selasa (3/11/2015).

Dalam konteks lokal, kupas dia, upaya mendorong perubahan lebih substantif oleh elemen gerakan sosial, mendapat tantangan yang tidak mudah walaupun tentu saja peluang selalu terbuka. Salah satu tantangannya, masih lemahnya posisi tawar masyarakat sipil di depan para penguasa, elit politik, dan pemilik modal.

“Inisiatif dan peran serta semua pihak dalam mendorong perubahan ini, membutuhkan komitmen bersama. Apalagi, UU 6/2014 tentang Desa berikan peluang ke semua pihak kembali ke desa dalam gerakan dan pendampingan bersama untuk desa membangun,” ulasnya.

Demokrasi nasional akan kokoh apabila disokong demokrasi di tingkat akar rumput. Hampir dua dekade terakhir, sejak reformasi 1998, perhatian publik terarah pada sistem dan perjalanan demokrasi di tingkat nasional belaka.

“Sementara itu, di masyarakat paling bawah, demokrasi belum menjadi agenda yang menonjol baik dalam regulasi maupun dalam proses politik riil,” keluhnya. (Gemawan-Mud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

PAGE TOP