Demplot, Kebun Bibit Karet Kolektif Petani

Sambas (Gemawannews)-Salah satu penyebab rendahnya produktifitas batang karet selain disebabkan kurangnya perawatan juga dikarenakan usia batang yang relatif sangat tua. Kebun karet yang disadap sekarang rata-rata warisan dari turun temurun dari orang tua.

Minimnya informasi serta motivasi petani karet dalam hal perawatan kebun karet berdampak kepada minimnya hasil produksi lateks. Di Thailand, rata-rata lahan kebun karet ditanam bergilir berdasarkan pembagian lahan. Hal ini dilakukan untuk peremajaan tanaman baru saat batang karet di lahan lainnya berusia 25 hingga 30 tahun. Berbeda dengan yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Sambas. Usia batang karet rata-rata diatas 30 tahun. Hal ini disebabkan tidak adanya sistem manajemen perkebunan karet yang dilakukan petani.

Pendidikan dan peningkatan kapasitas petani karet dalam produktifitas dan perdagangan yang dilakukan Lembaga Gemawan beberapa waktu yang lalu memberikan banyak masukan kepada petani karet di Kabupaten Sambas. Petani dilatih manajemen perkebunan karet serta praktek dalam perawatan. Salah satu hasil dalam pendidikan ini adalah kebun pembibitan dalam bentuk demplot.

Biji karet untuk pembibitan susah untuk didapatkan. Penyebab utama terletak kepada perawatan hingga menyebabkan selain produksi getah juga hasil biji yang dihasilkan rendah. Untuk mengatasi persoalan tersebut, petani membangun kebun yang digunakan sebagai lahan uji cobadan percontohan bagi pengembangan pertanaman dalam bentuk demplot.

Menurut Toni, koordinator Kelompok Petani Serumpun Damai, Dusun Darussalam, Desa Semate, Kabupaten Sambas, demplot dibuat khusus untuk mengatasi persoalan pengadaan bibit bagi petani di Kabupaten Sambas. Mereka telah menyiapkan lahan sekitar satu borong atau 0,17 hektar untuk demplot yang terdiri dari kebun pembibitan dan kebun entres.

Demplot tersebut dihasilkan dari diskusi yang dilakukan oleh kelompok tani mereka. Persoalan lahan, gotong royong, tehnik penanaman dan hal lain yang berhubungan dengan masalah bibit terselesaikan melalui diskusi dalam kelompok tani ini.

Tidak terasa, lahan yang berukuran 0,17 hektar selesai digarap dalam waktu tiga jam. Ibu-ibu juga menghiasi pekerjaan membersihkan rumput-rumput dilahan tersebut. Mereka berpartisipasi dalam pekerjaan tersebut, dikarenakan ada kebutuhan bersama yang harus mereka selesaikan. Tidak peduli panas terik matahari, mereka tetap menggarap lahan untuk demplot.

Pekerjaan penggarapan lahan demplot dilakukan selesai dari pekerjaan menyadap karet. Sekitar pukul 08.00 hingga pukul 10.00 pekerjaan gotong royong dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Dengan adanya kerja kolektif petani di Dusun Darussalam sekarang sudah tersedia sekitar 24ribu bibit karet batang bawah jenis lokal serta 150 bibit batang entres dari jenis klon PB 260 yang sudah ditanam dilahan demplot. Jumlah bibit yang ditanam hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal dusun.

Ada dua jenis bibit yang akan mereka hasilkan dalam demplot karet ini. Sistem pembibitan tersebut antara lain, pertama, bibit yang mereka hasilkan adalah bibit lokal. Jenis ini mereka menyebutnya sebagai jenis Lambau. Jenis lokal ini tetap mereka tanam untuk lahan perkebunan karet mereka. Kedua, pembibitan yang menggunakan tehnik okulasi. Tehnik ini menggunakan batang atas dari jenis klon PB 260 dengan batang bawah dari jenis lambau.

Menggali Sesuatu Yang Hilang

Ada tradisi lama yang tergali kembali dalam kerja di Dusun Darussalam. Tradisi lama yang telah lama pudar dalam kehidupan petani, yaitu kerja kolektif atau gotong royong. Semangat kerja kolektif ini yang akan mendorong kemandirian ekonomi bagi petani masa depan.

Kerja kolektif yang dilakukan oleh petani Darussalam mendorong bagi desa-desa lain untuk melakukan hal yang serupa. Hal ini sedang dilakukan oleh petani di Dusun Parit Cegat Kecamatan Sejangkung, Dusun Pinang Merah Kecamatan Teluk Keramat, dan Desa Senujuh Kelompok. Kelompok Petani Serumpun Damai Dusun Darussalam bisa dijadikan sebagai percontohan kerja kolektif dalam menangani persoalan-persoalan yang dihadapi petani. (zn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: