Hutan Desa Berikan Dampak Positif

 

HUTAN desa bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat di desa yang ada di sekitar hutan tersebut. Apalagi, hutan desa ini bisa dicapai selagi ada upaya untuk mewujudkannya. Demikian diungkapkan Aktivis Lembaga Gemawan, Hermawansyah didampingi Direktur Eksekutif Gemawan, Laili Khairunur di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Senin (12/10).

Dikatakannya, program hutan desa dirancang untuk tiga tahun, dengan berbagai tahapan program. Tahap pertama, membentuk tim program di tingkat lapangan dan sosialisasi program di tingkat kabupaten dan kecamatan (dengan pemerintah kabupaten). Tahap kedua melakukan assessment wilayah dan area program. Ketiga, sosialisasi program di tingkat desa dan pelaksanaan aktivitas di desa.

 

Tahap berikutnya, kata dia, sembari melakukan aktivitas pemberdayaan, pemetaan partisipatif, pertemuan-pertemuan desa dan antardesa, workshop, seminar dan aktivitas lainnya maka dilakukan pula lobby dan hearing di tingkat, kabupaten, provinsi dan nasional. Termasuk evaluasi dan monitoring program yang dilakukan selama enam bulan sekali. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan program dan mencari solusi bersama, apabila terdapat kendala di lapangan. “Semua tahapan ini bisa di lakukan secara bersamaan atau diacak sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ucapnya.

Output program hutan desa, tambah Hermawansyah, dapat dilihat dari terpetakannya wilayah desa dan hutan desa masyarakat dalam bentuk peta digital seluas 50 ribu hektar (tergantung hasil pemetaan nanti). Ada 10 hutan desa yang diinisiasi masyarakat desa dan dua yang mendapat rekomendasi dari bupati untuk dilanjutkan ke Menteri Kehutanan dan disahkan oleh Gubernur.

“Harapannya, program ini bisa diikuti oleh wilayah lain di Kalbar sebagai sebuah usaha inisiatif pengelolaan hutan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat,” imbuhnya. (lud)

Sumber: Harian Equator, Selasa, 13 Oktober 2009

Harap Kelonggaran Kelola Hutan

HUTAN masih menjadi salah satu sektor untuk menunjang perekonomian masyarakat di Kayong Utara. Hanya saja, dalam pemanfaatannya peluang yang diberikan bagi masyarakat sangat kecil. Bahkan bisa dibilang, wilayah Kayong Utara sudah tak bisa lagi beraktivitas di sektor hutan.

“Kita sangat menderita tak bisa memanfaatkan hutan yang ada di daerah kita. Padahal, sektor kehutanan akan mampu menopang perekonomian masyarakat terutama masyarakat ekonomi lemah,” kata Syawal Yahya, peserta yang hadir dalam pertemuan kecamatan untuk pengembangan sistem hutan desa, Senin (12/10).

Dia berharap, ada solusi dari pemerintah untuk memberikan kelonggaran bagi masyarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya hasil hutan. Dia menilai, pemerintah dan aparat hukum saat ini sudah begitu ketat dan tak memberikan peluang bagi masyarakat untuk menggarapnya. “Apakah masih ada harapan masyarakat di Kayong Utara ini untuk bisa hidup dari hutan,” tandasnya.

Dikatakannya, jangankan hutan alam, untuk menggarap pohon durian serta pohon karet yang ditanam nenek moyang di kawasan hutan lindung sulit untuk dimanfaatkan. Bahkan, dengan larangan yang ditegaskan, tanaman tersebut sulit untuk dilakukan peremajaan. “Kita harap ada perhatian terutama Departemen Kehutanan,” harapnya. (lud)

Sumber: Harian Equator, Selasa, 13 Oktober 2009

 

Sambut Positif Hutan Desa

PROGRAM hutan desa disambut positif Wakil Bupati Kayong Utara. Apalagi, program tersebut peluang yang diberikan pemerintah pusat melalui Departemen Kehutanan untuk masyarakat desa.

“Ini peluang dan harus dimanfaatkan. Melalui program hutan desa ini setidaknya memberi dampak positif terutama dari segi ekonomi masyarakat di sekitar hutan tersebut,” katanya.

Hutan desa memang belum terdapat di Kayong Utara. Akan tetapi, dikatakan Said, hal ini bisa diwujudkan sejauh memenuhi syarat untuk mendapat penetapan dari Menteri Kehutanan. Menuju adanya hutan desa di Kayong Utara, Said mengingatkan, tapal batas harus diselesaikan. Jangan sampai, menetapkan hutan desa melanggar kawasan hutan lindung, hutan produksi, hutan konservasi, ataupun taman nasional. “Semua harus diperjelas supaya tidak salah kaprah,” tandasnya. (lud)

Sumber: Harian Equator, Selasa, 13 Oktober 2009

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

%d blogger menyukai ini: