Mudahnya Belajar Pewarnaan Alam

Hati Budiyana, penenun Sambas, Kalbar, gelisah. Pasalnya, setelah mengikuti pelatihan pewarnaan alam bagi tenun di Saung Dolken, Bogor tgl 18 – 20 September 2013, bingung tentang aplikasi pengetahun bernilai ini.

Satu sisi, pengetahuan pewarnaan alam sangat bermanfaat bagi penenun anggota kelompoknya di Desa Tanjung Mekar Dusun Keranji Kabupaten Sambas. Sisi lain, ia bingung tentang sarana pendukung untuk mempraktekannya. Kala keras berfikir di tengah perjalanan pulang dari Bogor ke Pontianak, Siti Rahmawati, pendamping Gemawan yang selalu bekerja dengannya, menguatkan tekadnya. “Percayalah bu, pasti di sana ada jalan bila kita berkehendak tulus”, ungkap Siti meyakinkan.

gemawan1Dengan keyakinan itu, akhirnya di tanggal 25 – 26 oktober 2013 melaui Gemawan, mengadakan pelatihan pewarnaan alam, bertempat di desa Tanjung Mekar. Tanpa dinyana, peserta yang hadir mencapai 20 orang yang terdiri; penenun dari dusun Semberang dan Keranji, dan juga turut hadir dari dinas Deperindagkop Sambas (Ibu Fajar mewakili UMKM). Pelatihnya ibu Budiana selaku Weaving Instructur dan Siti Rahmawati (pendamping Gemawan). Mereka mematok tujuan sederhana, yaitu; peserta mampu mengenal jenis bahan dasar pewarna alam di lingkungan sekitarnya, mengetahui proses produksi tenun songket yang tidak mencemari lingkungan sekitar, dan mengetahui teknik-teknik dasar pewarnaan alam untuk tenun.

Setelah pelatihan, penenun yang menjadi peserta merasa bertambah pengetahuannya, karena kini mereka mengenal dan paham bahan pewarnaan alam di lingkungan sekitar yang ramah lingkungan. Mereka bilang ternyata selama ini, tidak menyadari bahwa apa yang ada di sekitarnya bermanfaat. Karena antusiasnya, mereka berniat langsung mempraktekkan untuk membuat kain tenun dari bahan pewarnaan alam setelah pelatihan.

Hasilnya banyaknya tanggapan positif peserta yang awalnya takut dengan bahan pewarnaan alam yang dikira tidak memuaskan. Namun kenyataannya mereka puas setelah mempraktekannya. Apalagi peserta mampu membuat katalog pewarnaan alam. Meski bahan pewarna alam untuk praktek tidak banyak, tapi tidak mengurangi rasa mereka untuk mencoba dengan hal baru. Bahkan dari situ, mereka mencari bahan pewarna alam di lingkungannya. Peserta juga langsung mempraktekan sendiri di rumahnya untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Dinas UMKM kab. Sambas yang hadir sangat mendukung peserta pelatihan untuk meningkatkan mutu penenun alam agar produknya dapat di pasarkan dengan nilai jual tinggi. Dia juga menyarankan agar diberikan catatan/keterangan kepada kain bahwa ia terbuat dari bahan-bahan pewarna alam.

Sementara tantangan pewarnaan alam di Sambas, masih adanya kekhawatiran pesertapelatihan tentang pasar bagi tenun pewarna alam. Selain itu juga, apakah hasil dari pewarnaan tersebut mudah luntur, dan konsistensi warna. Meskipun sebenarnya para pelatih sudah menyampaikan perbedaan antara pewarnaan alam dan sistetis. Bahkan pelatih pun menyampaikan bahwa bahan untuk pewarnaan alam mudah di dapat di lingkungan sekitar dan aman digunakan sehari-hari, serta ramah lingkungan di bandingkan dengan bahan sintetis.

Mungkin karena terbiasa bahwa proses pencelupan sintetis lebih mudah dan hasil yang di dapat sangat variatif dan banyak warna. Meski limbah dari pencelupan bahan sintetis bisa merusak lingkungan yang ada di sekitar karena kandungan dari bahan sintetis banyak kandungan kimia yang berbahaya. Solusi sementaranya, para penenun tetap memproduksi kain yang berbahan sintetis, agar perekonomiannya tetap jalan, tapi perlahan-lahan penenun juga memproduksi dari bahan alam.

Untuk meningkatkan pasar, di bulan november pendamping dan pelatih akan mengadakan pelatihan Songket-Motif kepada ibu-ibu di Tanjung Mekar dusun Keranji, karena tidak semua penenun bisa membuat Motif. Selain itu, bersama dengan Enterprice Coordinator, pendamping meloby ke hotel-hotel di Kabupaten Sambas, untuk memasukkan produk tenun kelompok dampingan ke hotel. Dari situ, kain tenun bisa dipromosikan kepada temu yang hadir. Kemudian, pendamping juga telah mendiskusikan dengan dinas deperindag khususnya di UMKM untuk bisa memasukkan produk tenun ke dinas-dinas dan di ikut sertakan dalam setiap pameran yang di adakan dinas terkait. Semoga perjuangan perempuan penenun berhasil. Semoga. (ids, dari dan dirangkum dari laporan bulanan Gemawan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gambar CAPTCHA

*

PAGE TOP